#MencatatCOVID-19

Penuaan Penduduk, dan Resiliensi Lansia di Kala Pandemi COVID-1911 min read

August 5, 2020 7 min read

Penuaan Penduduk, dan Resiliensi Lansia di Kala Pandemi COVID-1911 min read

Reading Time: 7 minutes

Sindrom pernafasan virus corona (COVID-19) menjangkiti beragam kelompor umur penduduk. Meskipun demikian, warga berusia lanjut (lansia) lebih berisiko apabila tertular virus tersebut. Sistem imun yang sudah melemah ditambah adanya penyakit kronis dapat meningkatkan, baik risiko terjadinya infeksi virus Corona maupun risiko virus ini untuk menimbulkan gangguan yang parah, bahkan kematian (Kemenkes RI, 2020). Negara yang mengalami penuaan penduduk (ageing population) cenderung memiliki risiko penyebaran virus yang relatif cepat dan angka kematian yang lebih tinggi.

Di Italia, dimana terdapat 23% populasi lansia menunjukkan tren risiko penularan dan angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan negara lain dengan angka penduduk lansia lebih rendah (Onder dkk., 2020). Studi terhadap beberapa pasien penderita COVID-19 di China (Liu dkk., 2020; Leung, 2020; Niu, 2020) menunjukkan fakta bahwa tingkat risiko penularan dan kematian (fatality rates) pada pasien lansia lebih tinggi dibandingkan dengan pasien pada kategori usia muda. Dengan kata lain, bertambahnya usia seorang berpengaruh signifikan terhadap risiko kesehatan.

Sementara itu, di Indonesia tingkat kematian akibat COVID-19 pada lansia menempati posisi teratas sebagaimana terdapat pada Tabel 1 di bawah.

Screen_Shot_2020-08-05_at_15.00.39.png

Data di atas menunjukkan jumlah pasien positif terbanyak ditempati oleh warga dalam rentang umur 31-45 tahun (dewasa awal-akhir) dengan persentase 29,40 %, dan kematian 12,10%. Pada posisi terbesar kedua pada rentang umur 46-59 tahun dengan persentase positif 27,20%, dan kematian 39,70%. Persentase pasien positif kelompok remaja akhir dan dewasa awal (18-30 tahun) menempati posisi ketiga, yaitu 20,70% dengan persentase kematian 3%. Rentang umur pasien anak-anak dan remaja (6-17 tahun) pasien positif menunjukkan 5,50% sementara persentase meninggal 0,60% yang menunjukkan tingkat kematian terendah. Kategori balita (0-5 tahun) pun tak luput terkena transmisi COVID-19,  pasien positif 2,30%, dan kematian 0,90%.

Dalam hal kategori pasien positif, kelompok lansia menempati posisi keempat dengan persentase 14%. Meskipun demikian, persentase yang sembuh lebih rendah dibandingkan kategori dewasa awal-akhir yaitu 14,30%, dan persentase kematian 43,60% dari total jumlah kematian sebesar 1.801 jiwa. Dari data tersebut diketahui bahwa meskipun jumlah total pasien lansia positif COVID-19 menunjukkan persentase yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien kategori umur warga lebih muda, tetapi dalam hal kasus kematian (case fatality rates) menunjukkan lansia adalah kategori umur berisiko tinggi. Dengan demikian, pasien lansia adalah kelompok yang paling rentan terkena dampak penyebaran COVID-19.

Kerentanan lansia di kala pandemi

Dalam kaitannya dengan masalah pandemi COVID-19, kerentanan lansia disebabkan oleh dua faktor, yaitu medis dan non-medis. Pada sisi medis, melemahnya fungsi imun dan adanya penyakit penyerta (comorbid) meningkatkan risiko kematian pada lansia (Leung, 2020). Hal ini juga diperburuk oleh layanan kesehatan bagi lansia masih kurang memadai. Di seluruh dunia, ketika seluruh fasilitas kesehatan tampak kewalahan menghadapi lonjakan pasien COVID-19, kelompok lansia sering kali berada pada antrean terakhir untuk mendapatkan tindakan dokter (Turana, 2020). Kombinasi masalah fisiologis dan layanan kesehatan yang buruk memperparah risiko kematian pada lansia.

Pada sisi non-medis, informasi tingkat kematian lansia akibat COVID-19 juga menimbulkan kecemasan atau stres pada lansia. Hasil studi Qiu dkk (2020) menunjukkan bahwa informasi mengenai tingkat kematian tinggi pada lansia berdampak pada psikologis mereka. Lebih lanjut, kebijakan lockdown atau social distancing–pembatasan interaksi sosial secara fisik berpengaruh pada kesehatan mental yang dipicu stres karena isolasi/pembatasan ruang gerak (Plagg dkk., 2020). Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa dengan adanya pembatasan sosial, lansia yang menderita demensia atau kepikunan terganggu mobilitasnya sehingga berdampak pada kendala berkomunikasi untuk menyampaikan keluhan penyakitnya sehingga mempersulit mitigasi risiko (PBB, Mei 2020).

Faktor non-medis lain adalah masalah sosio-ekonomi. Kegiatan perekonomian yang terhambat karena pembatasan interaksi fisik, mengakibatkan kemunduran ekonomi. Dampak ini menjadi lebih berat bagi para lansia. Studi Howell dkk.(2020) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lansia dengan status sosio-ekonomi rendah karena kesempatan berusaha berkurang, dan minimnya uang pensiun atau bahkan tidak memiliki, sehingga berdampak pada akses layanan kesehatan.

Fenomena serupa pun terjadi di Indonesia, dimana sebanyak 1.400 lansia yang tidak memiliki Kartu Jaminan Kesehatan Nasional. Selain itu terdapat 518.000 rumah tangga dengan anggota keluarga lansia yang kehilangan bantuan Program Keluarga Harapan setelah pemerintah meningkatkan batas usia untuk penerima manfaat lansia dari 60 menjadi 70 pada Desember 2019. Bahkan  lebih dari 80% lansia di Indonesia tidak memiliki jaminan pendapatan, dengan hanya sekitar 12 persen dari sekitar 24 juta warga yang ditanggung melalui program dana pensiun (Iswara, April 2020).

Resiliensi lansia

Krisis kesehatan publik global ini berkaitan erat dengan masalah kerentanan lansia, dimana dibutuhkan resiliensi atau daya lenting dalam proses pemulihan secara gradual (Chen, 2020a). Menurut Zautra dkk (2010) resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dalam merespon suatu kondisi perubahan dalam konteks bencana atau kemalangan yang ditandai dengan kecepatan pemulihan (recovery), dan kemampuan melanjutkan hidup (sustainability) di tengah kondisi sosial dan lingkungan yang berisiko.

Resiliensi lansia adalah kapasitas dan potensi untuk beradaptasi dalam mengatasi kendala atau kesulitan sehingga mendapatkan kualitas hidup lebih baik (Shen dan Zheng, 2010). Kapasitas dan potensi ini ditandai dengan kesehatan fisik dan mental, serta kemampauan kognitif yang baik (Jeste dkk., 2013). Dalam kaitannya dengan isu kesehatan publik, resiliensi dapat terjaga apabila terdapat kesejahteraan dan perbaikan kualitas hidup lansia (Cosco dkk., 2017). Dengan kata lain, resiliensi lansia dapat terjaga apabila didukung kondisi kesejahteraan dan kualitas hidup yang baik, dimana lansia yang sehat, baik secara fisik, psikis, dan sosial menjadi faktor determinan.

Untuk menjaga resiliensi lansia tidak semata-mata timbul dari usaha mandiri internal seorang lansia. Dibutuhkan intervensi pihak eksternal sehingga tercipta kondisi tersebut (Macleod dkk., 2016). Intervensi tersebut dapat berasal dari lingkungan, yakni keluarga dan masyarakat pada tataran mikro, dan negara pada tataran makro. Berkenaan dengan pandemi COVID-19, keluarga berperan dalam menyediakan perlindungan kesehatan dasar berupa perawatan fisik, menyediakan akses terhadap makanan bergizi, obat-obatan, menciptakan komunikasi—diimbuhi penyampaian informasi seputar COVID-19 sebagai langkah preventif—sehingga  terbangun hubungan emosional yang kohesif antara lansia dengan keluarganya, dan memberikan ruang beraktivitas untuk menepis kepenatan, misalnya menyalurkan hobi di rumah.

Masyarakat juga memegang peran penting dalam menjaga resiliensi lansia. Peran aktif masyarakat ini merupakan pengejawantahan modal sosial. Modal sosial yang dimaksud di sini adalah setiap hubungan yang terjadi dan diikat oleh suatu kesalingpercayaan (trust), kesepahaman (mutual understanding), dan nilai-nilai bersama (shared value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat aksi kolektif dapat dilakukan secara efisien dan efektif (Cohen dan Prusak, 2001). Dalam konteks ke-Indonesia-an, modal sosial direpresentasikan dengan nilai gotong royong. Gotong royong  atau  tolong  menolong bukan saja terdorong oleh keinginan spontan  untuk  berbakti  kepada  sesama,  tetapi dasar  tolong menolong  adalah  perasaan  saling membutuhkan yang ada dalam jiwa masyarakat (Koentjaraningrat, 2002). Di masa pandemi ini, aktualisasi nilai gotong royong tersebut tergambar dari aksi kolektif pengumpulan donasi oleh beberapa komunitas, baik secara luring maupun daring melalui platform digital kitabisa, benihbaik, atapkita, dan lain-lain. Aktualisasi nilai gotong royong juga dapat melalui keterlibatan komunitas-komunitas, atau para praktisi kesehatan, untuk mengedukasi perihal risiko COVID-19 dan penanganannya melalui kanal digital (Suleha, April 2020). Selain tentunya dengan tetap menjaga jarak, dan berperilaku hidup sehat.

Pada tataran makro, aktor terpenting dalam menjaga resiliensi adalah negara atau pemerintah. Terdapat tiga langkah kebijakan utama yang wajib diambil pemerintah. Pertama, meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Rasio ketersediaan fasilitas kesehatan pada rumah sakit berbanding terbalik dengan jumlah pasien dan minimnya jumlah dokter yakni empat dokter bertanggung jawab menangani 10.000 penduduk (4: 10.000), membutuhkan transformasi fungsi moda layanan kesehatan Puskesmas mulai dari tindakan promotif, preventif, kuratif sampai rehabilitatif (Sitohang dan Adianto, Juli 2020). Puskesmas yang selama ini tugas utamanya adalah kuratif, dapat mengedepankan fungsi promotif dengan menggandeng masyarakat untuk mempromosikan bahaya COVID-19 dan penangaannya.

Kedua, aspek sosio-ekonomi juga wajib diperhatikan di kala pandemi. SMERU Institute (April 2020) memproyeksikan bahwa COVID-19 berkontribusi pada rendahnya pertumbuhan ekonomi sehingga berimplikasi untuk meningkatkan angka kemiskinan hingga 12,4%, dan dapat menjadikan 8,5 juta warga menjadi kelompok miskin baru. Lansia pun mengalami hal tersebut (Hakim, 2020). Isu ini seyogianya direspon dengan mengintensifkan sistem perlindungan sosial (Yumna dkk., 2020). Pendekatan yang diaplikasikan idealnya bersifat holistis, yakni mulai dari penentuan sasaran bantuan, penyusunan mekanisme pendataan sasaran, hingga penyaluran bantuan.

Ketiga, mencegah timbulnya kepanikan masyarakat dan bias kognitif karena misinformasi atau disinformasi COVID-19. Kepanikan di masyarakat mengenai risiko COVID-19 salah satunya diakibatkan misinformasi yang justru datang dari pemerintah, terlebih pada kasus-kasus awal (Yahya, Maret 2020). Bias kognitif adalah adalah kesalahan sistematis dalam berpikir yang mempengaruhi cara kita mengambil keputusan dan memberikan penilaian (Cherry, Mei 2020). Untuk mencegahnya adalah dengan menerapkan cara berpikir perlahan dan mengevaluasi sumber informasi (Fung dan Heng, 2020). Peran pemerintah adalah menyediakan sumber informasi resmi yang valid dan teruji sehingga dapat dijadikan preferensi masyarakat dalam menghadapi COVID-19.

Pandemi ini telah membawa tantangan besar kepada umat manusia, dan terlebih pada lansia. Kelompok penduduk tersebut yang paling rentan terdampak. Terdapat ancaman terhadap kehidupan dan kualitas hidup mereka. Sehingga sangat penting untuk menjaga resiliensi, dan meminimalkan risiko dengan mengatasi kebutuhan lansia di kala pandemi.

Ditulis oleh Angga Wijaya Holman Fasa

(Analis Kebijakan Muda pada Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat-LIPI)

Referensi

Chen, Liang-Kung (2020), “Older adults and COVID-19 pandemic: Resilience matters”, Archives of Gerontology and Geriatrics 89, doi:10.1016/j.archger.2020.104124.

Cherry, Kendra. (2020).”What Is Cognitive Bias?”. May.

https://www.verywellmind.com/what-is-a-cognitive-bias-2794963 (diakses 13 Juli 2020).

Cohen, S., dan Prusak L. (2001). In Good Company: How Social Capital Makes Organization Work. London: Harvard Business Press.

Cosco, T.D., K. Howse, dan C. Brayne (2017), “Healthy Ageing, Resilience and Wellbeing”, Epidemiology and Psychiatric Sciences (2017), 26, doi:10.1017/S2045796017000324.

Fung, Fun Man dan Ching Wei Hang.(2020).“Cara menghadapi bias kognitif yang hadir selama pandemi COVID-19, https://theconversation.com/cara-menghadapi-bias-kognitif-yang-hadir-selama-pandemi-covid-19-141606 (diakses 13 Juli 2020).

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (2020), “Peta Sebaran COVID-19 di Indonesia”, https://covid19.go.id/peta-sebaran, 06 Juni 2020 (diakses tanggal 6 Juni 2020).

Hakim, Lukmanul.(2020).”Pelindungan Lanjut Usia Pada Masa Pandemi COVID-19”. Info Singkat-Bidang Kesejahteraan Sosial. Vol. XII, No. 10/II/Puslit/Mei/2020.

Iswara, Made Thony.(2020).”Seniors left to face COVID-19 without social security”. thejakartapost.com/news/2020/04/26/seniors-left-to-face-covid-19-without-social-security.html (diakses 13 Juli 2020).

Jeste, D. V., Savla, G. N., Thompson, W. K., Vahia, I. V., Glorioso, D. K., Martin, A. S., Palmer, B. W., Rock, D., Golshan, S., Kraemer, H. C., & Depp, C. A. (2013). “Association between older age and more successful aging: critical role of resilience and depression”. The American journal of psychiatry, 170(2), 188–196. https://doi.org/10.1176/appi.ajp.2012.12030386.

Kai Liu, Ying Chen, Ruzheng Lin, Kunyuan Han (2020),”Clinical features of COVID-19 in Elderly Patients: A comparison with young and middle-aged patients”, Journal of Infection 80, doi: 10.1016/j.jinf.2020.03.005.

Kementerian Kesehatan RI (2020), “Hindari Lansia dari COVID-19“, padk.kemkes.go.id/article/read/2020/04/23/21/hindari-lansia-dari-covid-19.html (diakses 12 Juli 2020).

Koentjaraningrat (2002). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Leung, Char (2020), “Risk factors for predicting mortality in elderly patients with COVID-19: A review of clinical data in China”, Mechanisms of Ageing and Development 188, doi: 10.1016/j.mad.2020.111255.

MacLeod, Stephani, Shirley Musich, Kevin Hawkins, Kathleen Alsgaard, Ellen R. Wicker. (2016).”The impact of resilience among older adults”. Geriatric Nursing 37 (2016) 266e272. http://dx.doi.org/10.1016/j.gerinurse.2016.02.014.

Morrow-Howell, Nancy, Natalie Galucia, dan Emma Swinford.(2020).”Recovering from the COVID-19 Pandemic: A Focus on Older Adults”.Journal of Aging & Social Policy, 32:4-5, 526-535, DOI: 10.1080/08959420.2020.1759758.

Niu, Shengmei, Sijia Tian, Jing Lou, Xuqin Kang, Luxi Zhang, Huixin Lian, Jinjun Zhang (2020), Clinical Characteristics of Older Patients Infected with COVID-19: A Descriptive Study”, Archives of Gerontology and Geriatrics, 89, doi: 10.1016/j.archger.2020.104058.

Onder, Graziano, Giovanni Rezza, Silvio Brusaferro (2020), “Case-Fatality Rate and Characteristics of Patients Dying in Relation to COVID-19 in Italy”, Journal of the American Medical Association (JAMA), Vol. 323, No. 18, doi:10.1001/jama.2020.4683.

Perserikatan Bangsa-Bangsa.(2020).”Policy Brief: The Impact of COVID-19 on older persons”, May 2020.

Plagg, Barbara, Adolf Engl, Giuliano Picccoliori, Klaus Einsendle (2020), “Prolonged Social Isolation of the Elderly during COVID-19: Between Benefit and Damage”, Archives of Gerontology and Geriatrics 89, May, doi: 10.1016/j.archger.2020.104806.

Qiu, Jianyin, Bin Shen, Min Zhao, Zhen Wang, Bin Xie, Yifeng Xu. (2020),”A nationwide survey of psychological distress among Chinese people in the COVID-19 epidemic: implications and policy recommendations”,General Psychiatry 2020;33:e100213. doi:10.1136/gpsych-2020-100213.

Shen, Ke dan Yi Zheng. (2010).“The association between resilience and survival among Chinese elderly”, Demogr Res. 2010 Jul 16; 23(5): 105–116. doi: 10.4054/DemRes.2010.23.5.

Sitohang, Marya Yenita, dan Hadiyanto.(2010).”Menghadapi normal baru, Puskesmas sebenarnya bisa lebih perkasa memberdayakan masyarakat. https://theconversation.com/menghadapi-normal-baru-puskesmas-sebenarnya-bisa-lebih-perkasa-memberdayakan-masyarakat-140709 (diakses 13 Juli 2020).

Suleha,Yani.(2020).”Kontribusi Positif dalam Pandemi Covid-19”, https://www.medcom.id/rona/kesehatan/yKXADB4N-kontribusi-positif-dalam-pandemi-covid-19 (diakses 13 Juli 2020).

Suryahadi, Asep, Ridho Al Izzati, dan Daniel Suryadharma.(2020).”The Impact of COVID-19 Outbreak on Poverty: An Estimation for Indonesia”, SMERU Working Paper.

Turana, Turana. (2020).”Risiko kematian lansia dengan COVID-19 tinggi tapi pelayanan kesehatan belum berpihak pada mereka: apa yang harus dilakukan”, theconversation.com/risiko-kematian-lansia-dengan-covid-19-tinggi-tapi-pelayanan-kesehatan-belum-berpihak-pada-mereka-apa-yang-harus-dilakukan-138107 (diakses 12 Juli 2020).

Yahya, Achmad Nasrudin. “Kepanikan Masyarakat soal Virus Corona akibat Informasi yang Kurang Jelas dari Pemerintah”, https://nasional.kompas.com/read/2020/03/05/07263001/kepanikan-masyarakat-soal-virus-corona-akibat-informasi-yang-kurang-jelas?page=all#page2. (diakses 13 Juli 2020).

Yumna, Athia, Bagus Hafiz Arfyanto, Luhur Bima, dan Palmira Permata Bachtiar.(2020).”Program Jaring Pengaman Sosial Dalam Krisis Covid-19: Apa yang Saat Ini Perlu Dilakukan oleh Pemerintah?”. SMERU Catatan Kebijakan No.  3/Mar/2020.

Zautra, Alex J., John Stuart Hall, dan Kate E. Murray (2010), Resilience: A New Definition of Health for People and Communities, dalam John W. Reich, Alex J. Zautra, and John Stuart Hall (Ed.) (2010), Handbook of Resilience, New York: The Guilford Press.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *