#MencatatCOVID-19

Korelasi Kepadatan Penduduk dan Penyebaran COVID-19 di Kota Jayapura10 min read

September 30, 2020 8 min read

Korelasi Kepadatan Penduduk dan Penyebaran COVID-19 di Kota Jayapura10 min read

Reading Time: 8 minutes

Indonesia secara umum, tetapi secara khusus provinsi Papua terlambat menyadari bahwa Virus Corona atau COVID-19 akan dan telah masuk di Indonesia saat wabah ini menyerang China, Italia dan sebagainya (Garry dkk, 2020). Hal ini dapat dikatakan menjadi penyebab ledakan pasien positif, terutama Orang tanpa Gejala (OTG), Orang Dalam Pemantauan (ODP), dan Pasien Dalam Pemantauan (PDP) termasuk beberapa orang yang habis bepergian menggunakan pesawat dan enggan melakukan aksi preventif sebelum pandemic ini membesar. Untungnya kebijakan pembatasan akses penerbangan dan perhubungan di laut yang diambil dengan cepat oleh Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe, meskipun awalnya ditentang pemerintah pusat. Paling tidak, kebijakan ini sedikitnya dapat menekan angka positif dan lajunya penyebaran Covid 19 di Provinsi Papua.

Kota Jayapura sebagai satu-satunya kota yang ada di Provinsi Papua, dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu 256.705 jiwa (BPS tahun 2010) dibandingkan 28 Kabupaten lainnya. Kepadatan penduduk merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan dapat menjadi salah satu katalisator dalam masa pandemic seperti yang sedang terjadi saat ini, berikut data update penyebaran Covid 19 yang dirangkum selama bulan Maret.

Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid 19 di Papua tiap hari bertambah. Berdasarkan data dari satgas penanggulangan Covid 19 Papua, Senin 30 Maret 2020 jumlah ODP di Papua mencapai angka 7.509 (Satgas Covid 19 Provinsi Papua, 2020). dr Silwanus Sumule selaku Juru bicara satgas penganggulangan Covid 19 mengatakan jumlah ODP bertambah sebanyak 2.060. orang dari sehari sebelumnya sebesar 5.569. Sementara kasus positif 9 orang, 5 orangnya berada di kota Jayapura yang tersebar di 3 Rumah Sakit.

Tulisan ini ingin melihat apakah kepadatan jumlah penduduk berkorelasi dengan tingginya tingkat penyebaran Covid? Metode yang dipakai dalam tulisan ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan dan interview. Sedangkan analisa data dilakukan dengan analisa kualitatif dan kuantitatif. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengidentifikasi Kota Jayapura sebagai pusat kota di Provinsi Papua menjadi lebih rentan terhadap penyebaran covid 19 karena memiliki jumlah penduduk paling banyak.

KEPADATAN PENDUDUK DAN PENYEBARAN COVID-19

Selain kepadatan penduduk yang membuat kota Jayapura menjadi kota tertinggi dengan pasien positif COVID-19 terbanyak, kepadatan penduduk diwilayah ini juga memiliki hubungan dengan tipologi perumahan dan pemukiman. Kota Jayapura sebagai kota studi karena banyak perguruan tinggi baik nasional maupun swasta berada di ibukota Provinsi Papua ini, menjadikan Jayapura sebagai tempat dengan mahasiswa yang datang dari berbagai daerah. Perumahan di berbagai kecamatan di kota Jayapura, seperti Abepura dan Waena sebagian besar pemukimannya berbetuk rumah susun, kost-kostan, asrama mahasiswa dan perumahan penduduk dengan jarak yang berdekatan. Penyebaran covid 19 di kost-kostan atau kontrakan tentu akan lebih cepat karena banyak fasilitas yang digunakan secara bersama-sama seperti koridor, tangga, dan lain-lain. Meskipun di kota Jayapura sendiri, penyebaran dalam suatu wilayah yang cukup besar adalah pada wilayah pasar hamadi dengan ditemukannya masyarakat yang positif covid (Bisnis Com, 2020). Transmisi lokal menjadi penyebabnya karena masyarakat kurang disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, apalagi wilayah Hamadi adalah pusat kerumunan orang karena terdapat pasar Inpres Hamadi dan pasar Ikan.

Tulisan ini melihat banyaknya pasien positif COVID-199 di Kota Jayapura menunjukkan bahwa memang kawasan perkotaan yang padat penduduknya tentu akan menyebabkan transmisi penyakit lebih cepat karena rantai penyebaran yang lebih cepat dan kompleks. Alat kesiapan medis yang belum memadai membuat awalnya masyarakat di Kota Jayapura belum dapat diidentifikasi secara maksimal karena harus dikirim sampel ke Jakarta, tapi setelah akses kesehatan ini dapat dilakukan di Kota Jayapura angka pasien positifpun meningkat.

Kota Jayapura sebagai pusat kota di Provinsi Papua dengan angka COVID-19 yang tinggi dapat dimaklumi mengingat kota besar seperti Jayapura tentu memiliki mobilitas penduduk sangat tinggi akibat dari sektor kerja yang tetap beroperasi tanpa libur, seperti dibidang jasa dan perdagangan. Selama pandemi ini terjadi di provinsi Papua, rumah sakit yang menjadi rujukanpun ada di Kota Jayapura. Hal ini mendukung penyebaran covid 19 di Kota Jayapura karena Jayapura juga memiliki jumlah penduduk yang padat dengan mobilitas yang tinggi.

Dengan memperhatikan tabel peta persebaran jumlah pasien positif COVID-19 di Provinsi Papua, khususnya Kota jayapura jika dikaitkan dengan kepadatan penduduk, dapat dilihat bahwa terdapat korelasi yang kuat antara kepadatan penduduk dengan jumlah positif Covid 19. Kota Jayapura berbatasan langsung juga dengan Kabupaten Keerom, kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sarmi, bahkan dengan Papua New Guinea (PNG). Pemenuhan kebutuhan ekonomi, akses perdagangan dan lain-lain di Kabupaten Keerom dan Sarmi juga masih sering dipenuhi dengan berbelanja di Kota Jayapura. Interaksi antar wilayah ini juga mempengaruhi mobilitas penduduk di kota Jayapura, dengan kata lain penduduk terdekat semakin banyak dan jarak yang semakin dekat maka interaksi penduduk juga semakin tinggi.

Berikut ini adalah data terkait pasien positif COVID-19 di Provinsi Papua (28 Kabupaten dibandingkan dengan Kota Jayapura. Jumlah kasus secara keseluruhan di Provinsi Papua (termasuk kota Jayapura) mencapai angka 1038, akan tetapi pada gambar dibawah penulis telah mengolah data dengan membagi kota Jayapura terpisah sendiri dengan provinsi Papua yang angka tertinggi jumlah kasusnya terjadi varian berbeda di tiap kabupaten. Misalnya pada awal bulan April tanggal 7, jumlah kasus 31 itu terdiri dari 3 kabupaten dan 1 kota yaitu Jayapura. Sementara kalau lihat kasus di Kota Jayapura sendiri sebanyak 13 kasus, kalau kita kurangi dengan jumlah kasus di Provinsi Papua secara keseluruhan maka perbandingannya antara 3 kabupaten dengan 18 kasus dan kota Jayapura dengan 13 kasus.

Pada akhir bulan April, kasus positive COVID-19 di provinsi Papua (tidak termasuk kota Jayapura) sebanyak 161 kasus yang tersebar di 11 kabupaten. Sementara kota Jayapura 44 kasus. Begitu juga di bulan Mei jumlah kasus di provinsi Papua 460 kasus dan tersebar di 13 kabupaten, sementara kota Jayapura sebanyak 349. Terakhir, bulan Juni jumlah kasus COVID-19 di Provinsi Papua sebanyak 511 kasus yang tersebar di 13 kabupaten. Sementara kota Jayapura berada di angka 527 kasus. Pada akkhirnya jumlah kasus terbanyakpun ada di kota Jayapura, jika dibandingkan dengan angka yang tersebar di 13 kabupaten lainnya sangat terlihat peningkatan yang signifikan. Jika dihitung berdasarkan kota/kabupaten, kota Jayapura menduduki posisi tertinggi menyusul kabupaten lainnya yang juga memiliki jumlah penduduk terbanyak dalam 10 besar kabupaten di provinsi Papua dengan jumlah penduduk terbesar.

Gambar 1. Peningkatan Jumlah Kasus Positiv COVID-19 di Provinsi Papua dan

di Kota Jayapura dari bulan April- Juni 2020

Screen_Shot_2020-10-05_at_08.25.24.png

Sumber: Satgas Pencegahan dan Penanggulangan COVID-19 Provinsi Papua, dan diolah oleh penulis

Dari diagram diatas, Kota Jayapura berada pada posisi pertama dengan banyaknya pasien positif sejak awal bulan April. Kabupaten Mimika sempat menjadi daerah dengan pasien positif COVID-19 tertinggi di Papua sejak tanggal 19 April sampai dengan 19 Mei, sementara Kota Jayapura berada di urutan ke 2. Tapi kemudian tanggal 20 Mei Kota Jayapura kembali berada di urutan pertama sampai dengan bulan Juni 2020. Mimika juga merupakan kabupaten di Provinsi Papua urutan ke-empat (4) dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu 182.001 (BPS,2010). Selain itu kabupaten Merauke pernah ada di posisi kedua dengan 3 kasus positif (setelah kota Jayapura 4 positif) di awal masuknya covid 19 di Provinsi Papua pada bulan maret 2020. Merauke merupakan kabupaten dengan luas wilayah terbesar di provinsi Papua. Meskipun pada tanggal 6 Juni update COVID-19 di Merauke yang berada pada urutan ke- enam (6) dari 13 Kabupaten dengan pasien positif 15 orang. Hal ini menandakan bahwa faktor kepadatan penduduk merupakan salah satu katalisator di provinsi Papua, secara khusus di kota Jayapura dalam penyebaran COVID-19.

Beberapa data pembanding yang penulis sertakan disini, antara lain pada kasus di Italia dan Jepang. Mengapa banyak kasus Corona di Italia? Jawaban sederhananya, lantaran Italia merupakan salah satu destinasi favorit turis Asia seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea. Di Region Lombardia dan Veneto misalnya, terdapat dua kota cantik yaitu Milan dan Venizia. Milan yang dihuni 1,3 juta jiwa merupakan kota dengan kunjungan turis tinggi. Dinas pariwisata Milan mencatat, Milan adalah salah satu kota di Uni Eropa yang paling banyak dikunjungi yaitu mencapai 8,81 juta para tahun 2017 dengan 44% di antaranya turis lokal dan 58% turis mancanegara (Rahim Asik, 2020).

Jepang memiliki 10 kluster wabah, dengan hampir 1.200 kasus COVID- 19  dan 43 kematian akibat virus corona yang sudah dikonfirmasi tanggal 24 Maret. Angka infeksi baru ini seharusnya terus bertambah karena kepadatan penduduk di Jepang. Ditambah lagi, Jepang berhubungan dekat dengan Cina, negara darimana penyakit itu berasal. Pada bulan Januari, sekitar 925.000 orang dari Cina melakukan perjalanan ke Jepang, sementara 89.000 lainnya melakukan perjalanan pada bulan Februari di saat wabah COVID-19 memuncak di Cina (Martin Fritz, 2020).

Pada Kota Jayapura, kapadatan penduduklah yang sangat berpengaruh terhadap penyebaran COVID-19, sebab adanya kepadatan penduduk yang tinggi akan banyak menimbulkan berbagai masalah yang berhubungan dengan masalah kependudukan misalnya mobilitas warga, interaksi antar wilayah dari Kota Jayapura ke Kabupaten Kerom, ataupun ke perbatasan Papua New Guinea (PNG), tipologi perumahan yang berdempetan, akses ke pusat pendidikan dan lain-lain. Tulisan ini melihat hubungan antara kepadatan penduduk dan penyebaran COVID-19 dipengaruhi oleh letak geografis wilayah dan mobilitas penduduk yang padat serta dekat jaraknya, ada temuan bahwa kepadatan telah mempengaruhi waktu terjadinya penyebaran di setiap kabupaten, dengan lokasi yang lebih padat lebih berpotensi terhadap penularan.

Memang angka kematian pada kasus COVID-19 di Kota Jayapura tidak terlalu tinggi juga, jadi tidak ada kaitan antara kepadatan penduduk dengan angka kematian. Tetapi kepadatan penduduk kota Jayapura memiliki korelasi dengan tingkat penyebaran virus COVID-19 karena kepadatan penduduk secara positif terkait dengan proksi jarak interaksi sosial. Memang ada faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi penyebaran Covid 19 di kota Jayapura kondisi sosial ekonomi masyarakat, aktivitas masyarakat dalam mata pencaharian, kurangnya ketersediaan masker dan alat kesehatan lainnya dan faktor lainnya. Tapi kepadatan penduduk menjadi katalisator penting dalam penyebaran covid 19, di Amerika Serikat, hingga 24 April 2020 lebih dari 860 ribu jiwa positif terjangkit COVID-19, dengan korban jiwa hampir menyentuh angka 45.000. Laporan New York Times menyebutkan salah satu alasan terbesar mengapa New York paling parah terpapar Corona adalah kepadatan penduduk. ”New York merupakan kota paling ramai dibandingkan kota-kota utama lain di AS.”

Terdapat juga tulisan yang mendukung temuan tulisan ini yaitu tulisan dari Felipe Carozzi et, all tentang Urban Density and COVID-19 yang memperkirakan hubungan antara kepadatan penduduk dan penyebaran COVID-19 di Amerika Serikat karena jarak yang berdekatan. Mereka menggunakan strategi yaitu Variabel Instrumental untuk menginduksi keterkaitan kepadatan penduduk tanpa mempengaruhi kematian terkait COVID-19 secara langsung. Dengan menggunakan data dari Google, Facebook, dan Sensus AS, mereka menyelidiki kepadatan penduduk AS dapat mempengaruhi waktu terjadinya transmisi secara positif karena jarak antar wilayah yang berdekatan dengan jumlah penduduk yang juga padat (Carozzi et all, 2020).

Dengan mengacu pada riset-riset sebelumnya, semestinya covid 19 tidak berkembang di Indonesia yang sering ditandai dengan suhu dan kelembapan tinggi. Namun pada bulan Maret, kasus covid 19 di Indonesia merebak sangat tinggi. Kejadian ini menunjukkan bahwa faktor ‘noncuaca’ lebih berperan di dalam penyebaran penyakit COVID-19 di Gelombang ke-2 (pasca Januari – Februari 2020). Fenomena ini menunjukkan adanya faktor transmisi manusia ke manusia dalam penyebaran penyakit COVID-19 yang dengan mudah berpindah karena kepadatan penduduk yang juga menjadi indikatornya, sebagaimana yang terjadi di Wuhan (Li et. Al, 2020), yang lebih berpengaruh daripada faktor iklim dan cuaca.

Secara khusus masyarakat di Papua sempat percaya bahwa suhu dan iklim di Papua akan membuat COVID-19 tidak berkembang, tapi faktanya tingkat penyebaran di Kota Japura sangat tinggi dibanding wilayah lain di provinsi Papua. Tulisan ini melihat bahwa iklim dan cuaca bukan satu-satunya faktor yang dapat mengontrol penyebaran epidemi COVID-19. Sebaliknya, penyebaran epidemi tersebut dikontrol oleh beberapa faktor seperti demografi manusia dan mobilitasnya, ataupun interaksi sosial, serta upaya intervensi kesehatan masyarakat. Seperti yang dikatakan Dr. Steven Goodman, epidemiolog Stanford University kepada New York Times “Kepadatan penduduk adalah musuh besar dalam situasi seperti sekarang,” Indonesia dengan total jumlah penduduk hampir 300 juta mempunyai kerentanan terpapar. Secara khusus dalam tulisan ini, Kota Jayapura sebagai pusat kota di Provinsi Papua faktor kepadatan penduduk dan mobilitas orang lebih berpengaruh dalam penyebaran dan peningkatan COVID-19.

PENUTUP

Kepadatan penduduk dan mobilitas penduduk di Kota Jayapura menjadi salah satu faktor peningkatan penyebaran COVID-19. Sehingga upaya pembatasan mobilitas orang/interaksi sosial, intervensi kesehatan masyarakat sangat diharapkan sebagai bentuk upaya pencegahan penyebaran virus tersebut. Upaya tersebut perlu ditegakkan dan dilakukan secara intensif, guna menekan angka penyebaran di Kota Jayapura.

Kota Jayapura sendiri, pasien positif pertama diketahui baru pulang melakukan perjalanan dari luar Papua sebelum diberlakukannya WFH. Setelah kebijakan penutupan akses bandara/pelabuhan dilaksanakan, ditemukan banyak pasien positif lainnya yang merupakan hasil mobilisasi/interaksi orang- orang tersebut. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa pembatasan sosial belum berjalan efektif karena ketidakpatuhan masyarakat yang membuat pasien di kota Jayapura masih terus meningkat.

Dari kesimpulan diatas, tulisan ini memberikan beberapa saran/rekomendasi; pertama, ketersediaan data penyebaran COVID-19 sampai detail termasuk bagaimana kronologis seseorang terinfeksi virus tersebut sangat penting ditengah masa pandemik seperti ini, dalam upaya penanganan dan pencegahan Covid 19 di Kota Jayapura dan juga provinsi Papua. Sehingga pemerintah harus terus memberikan informasi yang terperinci, jangan sampai membawa masyarakat pada herd immunity yang menyerahkan rakyat pada seleksi alam mengingat kota Jayapura dengan banyak penduduk yang lebih mempermudah terjadinya transmisi virus tersebut. 

Ditulis oleh:

Meyland S. F. Wambrauw- Pengajar di Hubungan Internasional, FISIP- Universitas Cenderawasih

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *