#MencatatCOVID-19

Islam, Pandemi Kapitalisme dan Ikhtiar Melawan COVID-198 min read

September 28, 2020 6 min read

Islam, Pandemi Kapitalisme dan Ikhtiar Melawan COVID-198 min read

Reading Time: 6 minutes

Di tengah mewabahnya virus Corona, kiranya tidak salah untuk merefleksikan Islam. Sebagaimana ceritra para nabi terdahulu yang memposisikan Islam sebagai teologi pembebasan. Secara historis, Islam menggambarkan kenabian sebagai manusia-manusia yang memberantas dekadensi moral dan sosial dengan berbagai konsekuensinya. Ibrahim mencerminkan revolusi akal dan menundukkan tradisi-tradisi buta atas sembahan terhadap berhala. Musa merefleksikan semangat juang melawan otoritarianisme. Isa melakukan dobrakan dominasi matrialisme; dan Muhammad sebagai tauladan bagi hamba sahaya yang berhadapan dengan kaum konglomerat elite Quraisy. Maka dari aspek historis inilah, ternyata Islam adalah sebuah agama pembebasan, revolusioner.

Berangkat dari pemikiran Yufal Noah Harari, seorang sejarawan Israel dalam bukunya Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia (2018) menyatakan bahwa salah satu ancaman terbesar bagi ras manusia saat ini adalah virus-virus baru yang tidak diketahui dari mana asalnya. Hari ini perkataan Yufal menjadi fakta, virus corona/ COVID-19 menjadi wabah yang mengglobal dan merenggut banyak korban nyawa manusia.

Dan ditengah mewabahnya virus corona ini, tidak jarang orang kemudian mengaitkannya dengan argumentasi teologis (Islam). Ustadz Abdul Somad misalnya, mengatakan, bahwa wabah penyakit itu merupakan azab yang dikirim Allah untuk orang-orang yang Ia kehendaki. Menurut Imam Muhammad Abduh, itu seperti halnya wabah campak pada pasukan Abrahah. Sementara bagi orang yang beriman yang ditimpa wabah, UAS mengatakan, hendaknya menyikapinya dengan bersabar. Namun, tetap dibarengi dengan ikhtiar, dan melakukan langkah antisipasi serta mencari obat untuk penyakit tersebut.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah memberitahukan kepadaku: “Wabah penyakit itu adalah azab yang diutus Allah kepada orang-orang yang ia kehendaki. Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah. Ia yakin bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka ia mendapat balasan seperti mati syahid.” (HR Al-Bukhari).

Namun dalam Islam kita dituntut untuk tidak hanya berpasrah total terhadap fenomena/ bencana yang terjadi. Respon terhadap sebuah masalah tidak semata-mata kemudian menyandarkan diri kepada Allah. Selaras dengan Asghar Ali Engineer seorang aktivis sosial dan tokoh pembebasan Islam India  mengatakan; Jika hanya sebagai agama, Islam niscaya akan dengan mudah diterima oleh masyarakat Arab…[tetapi] kehadiran Islam adalah revolusioner, sebab ia menolak sistem ekonomi, sosial, dan politik dengan segala implikasi moralnya yang telah membusuk di zamannya. Sebagai sebuah peradaban, kapitalisme adalah peradaban yang pasti akan ambruk dan membusuk. Kegagalannya mulai terlihat nyata: kemiskinan yang kian meruyak, eksploitasi alam yang kian buas, dan konsumerisme yang semakin massif. Karena itu, sebuah alternatif terhadap kapitalisme mesti diajukan (Baidhawy, 2007).

Kapitalisme Adalah Pandemi

Corona Virus Desease 2019 (COVID-19) sebagai sebuah wabah penyakit mengakibatkan ancaman bagi seluruh masyarakat dunia. Banyak peneliti telah menguraikan riset ilmiah terkait sebab kemunculan virus ini. Dalam laporan yang diterbitkan di situs Biorxiv.org, ilmuwan yang jadi kepala peneliti penyakit menular di institut virologi Wuhan ini menulis bahwa kelelawar tapal kuda merupakan inang dari virus yang terkait Sars coronavirus (SARSr-CoVs).

Tidak bisa dipungkiri bahwa wabah penyakit yang mengacaukan dunia seperti SARS, flu babi, ebola, flu burung hingga corona pasti memiliki hubungan dengan satwa. Rob Wallace, ahli biologi dan kesehatan masyarakat yang selama 25 tahun meneliti tentang pandemi, dan dilengkapi dengan analisis ekonomi politik dan geografi ekonomi menyatakan bahwa meningkatnya wabah berkaitan erat dengan sistem produksi makanan dan kemampuan perusahaan multinasional untuk menghasilkan laba.

Laba korporasi agrikultur yang terakumulasi dan perlu diinvestasikan kembali memacu pembabatan secara luas kawasan hutan dan pertanian kecil yang menyimpan kompleksitas keanekaragaman hayati. Alam satwa liar semakin terdesak di kawasan hutan yang paling dalam. Di sinilah, pergerakan industri agrikultur yang berubah-ubah mengubah lintasan patogen. Patogen adalah parasit yang mampu menimbulkan penyakit pada inangnya (hewan atau manusia) setelah menghisap makanan darinya. Patogen dalam tubuh manusia satu mudah menular ke manusia lain seiring dekatnya jarak antar manusia.

Mari kita berani untuk membenarkan argument diatas dengan berangkat dari sebuah ayat dalam Al-Qur’an Ar-Ruum; 41. Dhahar al-fasâdu fi albarri wa al-bahri bimâ kasabat aidinnâs, liyudzîqahum ba’dha al-ladzî ‘amilû la’allahum yarji’ûn

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Lantas bagaimana sikap Islam dalam merespons? Jelas Islam memerintahkan untuk memerangi ketimpangan, kesewenang-wenangan, kerusakan akibat keserakahan manusia. Jika dielaborasi, keserakahan manusia atas objek tertentu adalah bagian dari aktivitas kapitalisme itu. Wabah COVID-19 yang mematikan menjadi kesempatan buat kita semua untuk berhenti sejenak. Bahwa jumlah korban akibat COVID-19 bukan sekedar angka-angka statistik. Mereka korban dari kerakusan system produksi kapitalisme dan konsumerisme gila-gilaan di seluruh dunia.

Sementara itu, bagaimanapun juga dunia saat ini dimonopoli oleh sistem yang sangat liberal dan kapitalis. Dalam aktivitasnya sangat menyepelehkan hak asasi, tidak terkecuali hak alam. Ditambah dengan egoism manusia yang diberikan derajat sebagai Khalifah dan kemampuan untuk bisa menjadi seorang yang kreatif, inovatif. Dengan kemampuan tersebut, manusia bisa menciptakan peradabannya sendiri. Menciptakan tekhnologi kreatif, system informasi yang inofatif dan lainnya untuk menjawab kebutuhan manusia dengan praktis, mudah dan instan. Namun sering kali, manusia bisa menciptakan dan bersikap ceroboh yang justru merugikan banyak pihak. Kerusakan lingkungan akibat eksplorasi, produksi dan ekspliotas alam yang berlebihan oleh manusia berwatak kapitalis merupakan bukti paling sederhana.

Padahal secara tegas bahwa alam dan segala isinya adalah titipan Tuhan/ Allah SWT kepada manusia untuk dijaga dan digunakan dalam rangka kemaslahatan umat. Tetapi manusia sebagai khalifah terkadang lupa akan maksud ke-khalifah-an mereka yang menyebabkan kerusakan yang ada di muka bumi baik di darat maupun di laut.

Tanpa harus menutup mata, seberapa banyak masyarakat yang dirugikan akibat watak kapitalisme yang serakah. Kegiatan produksi, eksplorasi dan eksploitasi oleh aktor kapital sama sekali tidak berpihak pada kemaslahatan ummat dan keberlanjutan lingkungan hidup. Kita bisa berkaca pada Kalimantan, papua, Maluku, dan di pulau jawa. Bagaimana aktivitas pertambangan batu bara, indutrialisasi, perkebunan kelapa sawit yang merugikan masyarakat.

Oleh sebab itu, kiranya tidak salah kesimpulan sementara ditengah ancaman wabah COVID-19 ini bahwa alam sedang murka terhadap kita semua. Ketika alam direnggut hingga ambang batasnya, maka ia akan memukul balik. Hal demikian merupakan konsekuensi logis dari aktifitas eksploitasi yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan hidup.

Sangat problematis selaku ummat Islam dan mengaku diri sebagai ummat Islam yang sangat ta’at dan patuh namun masih melakukan kegiatan yang tidak sesuai. Pemaknaan atas Islam sudah sepatutnya dijadikan sebagai kekuatan pembangkit kesadaran dalam melakukan kebaikan, bukan kemudian melakukan aktifitas yang justru merugikan banyak orang. Jangan sampai Islam hanya dipandang sebagai ritus-ritus belaka.

Ikhtiar Melawan COVID-19

Telah jelas diatas bahwa, wabah COVID-19 tidak terlepas dari praktik kapitalisme yang sewenang-wenang. Maka dari itu patut untuk dipertanyakan, Bagaimana dengan dinamika keIslaman dalam praktik kapitalisme ini ?

Saat ini berbagai tendensi keagamaan yang terafiliasi dengan kekuasaan menjadikan Islam sendiri hanya sebagai ritus-ritus dan kepercayaan ukhrawi. Padahal realitas Islam bukan hanya representasi dari sistem Islam sehingga Islam tidak menjadi buta atas dominasi praktik kapitalisme. Islam harusnya menjadi gerakan untuk melawan upaya-upaya kolonialisasi dan kapitalisasi.

Bukankah Islam adalah agama yang selalu mengglorofikasikan agar kita harus saling berbuat kebaikan antar sesama (Fastabiqul Khoirat), tanpa memandang ras, suku, budaya dan agama tertentu. Sebagai ummat muslim, selayaknya harus memposisikan wabah penyakit/ COVID-19 sebagai masalah kolektive dan harus dilawan secara bersama-sama pula. Rasulullah SAW dalam menanggapi Wabah penyakit, seperti dalam sebuah HR Bukhari Muslim Rasulullah SAW pernah bersabda :

“ Wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu”.

Rasulullah juga menganjurkan untuk isolasi bagi yang sedang sakit dengan yang sehat agar penyakit yang dialaminya tidak menular kepada yang lain. Hal ini sebagaimana hadis: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Dengan demikian, penyebaran wabah penyakit menular dapat dicegah dan diminimalisasi.

Wabah penyakit yang melanda siapa saja mestinya direfleksikan sebagai sebuah ujian bagi kita semua. Disinilah momentum untuk sama-sama membangun solidaritas kemanusiaan terhadap sesama. Sebab realitas dunia saat ini, rasa kemanusiaan sering diabaikan. Sebagian orang masih saja mempertahankan ego pribadinya tanpa memikirkan orang lain. Aktivitas memperkaya diri sendiri dengan membiarkan tetangga rumahnya kelaparan masih saja terjadi.

Meski himbauan terkait Social Distancing, Work From Home, Phsycal Distancing, PSBB dan sejumlah istilah lainnya telah diglorofikasikan, namun segelintir orang masih saja berkeliaran dan melakukan aktifitas diluar. Jika diperhatikan, rata-rata dari mereka adalah orang yang memiliki standar ekonomi menengah-kebawah: pedagang kaki lima, UMKM, para ojek online (ojol) dan lainnya.

Lain hal, terdapat daerah-daerah yang menolak jenazah dan menjauhi para petugas medis akibat virus korona. Tentu sangat bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan. Bahwa musuh kita saat ini bukan orang yang terkena korona. Akan tetapi virus korona itu sendiri sebagai akibat dari watak kapitalisme selama ini.

Dalam kondisi ini, solidaritas dan rasa kemanusiaan hendaknya dikerahkan secara maksimal. Kita yang selama ini lupa, dibuat lupa oleh pesona dunia dan fanatisme golongan diingatkan kembali kepada firman-Nya Surat Al-Hujurat ayat 13; bahwa kita Ia ciptakan dari laki-laki dan perempuan dan Ia jadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal. Saling peduli,”

Sebagai penutup, Islam harusnya menjadi satu kekuatan besar untuk melawan pandemic Kapitalisme yang menyebabkan wabah COVID-19 ini. Artinya umat muslim sepatutnya merefleksikan wabah ini sebagai akibat dari ulah kapitalisme. Dan melawan kapitalisme adalah tugas besar kita, jangan sampai agama hanya menjadi candu.

Ditulis Oleh :

Muhammad Kamarullah – Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang

References

Baidhawy, Z. (2007). Islam Melawan Kapitalisme. Yogyakarta: Resist Book.

Christian, Y. (2020, Maret 31). Tempo.com. Retrieved from kolom.tempo.co/read/1325841/kapitalisme-rakus-dan-wabah-corona/full&view=ok

CNBCIndonesia. (2020). Riset Terbaru Kampret Ini Penyebab Munculnya Corona. Jakarta: CNBC.

Harari, Y. N. (2018). Homo Deus Masa Depan Umat Manusia. Alvabet.

Mushoffa, I. (2020, April 6). Kapitalisme ‘Memproduksi’ Pandemi. Retrieved from Transisi.org: https://transisi.org/kapitalisme-mencipta-dan-mempersering-kemunculan-pandemi/

Republika. (2020). UAS Jelaskan Bagimana Seharusnya Orang Beriman Hadapi Wabah. Jakarta: Republika.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *