Penduduk dan Kesehatan Penduduk dan Lingkungan

Tahukan anda? Beberapa data pokok tentang toilet di Indonesia3 min read

November 19, 2020 2 min read

author:

Tahukan anda? Beberapa data pokok tentang toilet di Indonesia3 min read

Reading Time: 2 minutes

Berbagai data sanitasi Indonesia menunjukkan bahwa perkembangan menuju kepada akses terhadap sanitasi yang lebih baik masih berjalan lambat. Bahkan target untuk mencapai 100% akses terhadap sanitasi layak pada 2019 belum tercapai. Inisiatif-inisiatif berupa program untuk meningkatkan kondisi sanitasi tampaknya belum cukup memiliki daya ungkit. 

Upaya untuk menjadikan sanitasi sebagai perhatian dan kebutuhan masyarakat, terutama pengelolaan limbah cair, tampaknya harus dijadikan sebagai prioritas sehingga upaya untuk membangun infrastruktur pengelolaan limbah cair yang lebih baik.

Perkembangan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak di Indonesia (BPS)

Tahun201520162017201820192020
Persentase46.63%52.39%53.51%55.47%66,57%

Perkembangan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak secara umum masih lambat (rata-rata satu digit), meski pada tahun 2019 terjadi peningkatan yang cukup signifikan yang mencapai lebih dari 11%. Peningkatan ini tidak terlepas dari akselerasi kegiatan yang tercermin dari berbagai program terkait sanitasi, diantaranya program 100-0-100 (100% akses aman air minun, 0% kawasan permukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi layak).

Perkembangan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak dan berkelanjutan di Indonesia (BPS)

Tahun201520162017201820192020
Persentase61,57%67,2%67,54%69,27%77,39%

Perkembangan persentase penduduk yang memiliki akses terhadap sanitasi layak dan berkelanjutan juga memiliki trend yang serupa. Berkaca dari dua data diatas serta data lainnya, tampaknya tujuan dari program 100-0-100 belum mencapai target yang diinginkan.

Menurut definisinya, fasilitas sanitasi layak adalah fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan yaitu fasilitas tersebut digunakan oleh rumah tangga sendiri atau bersama dengan rumah tangga lain tertentu, dilengkapi dengan kloset jenis leher angsa, serta tempat pembuangan akhir tinja berupa tangki septik atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Perkembangan persentase rumah tangga tanpa fasilitas tempat buang air besar (BAB)

Grafik di atas menunjukkan data tahun 2000 hingga 2005 kategori yang digunakan untuk merujuk rumah tangga tanpa fasilitas BAB adalah “lainnya”, sementara tahun 2006 hingga 2016 dipergunakan kategori “tidak ada”. Kondisi ini kemudian diacu sebagai “buang air besar sembarangan”/BABS. Menurut UNICEF, ada sekitar 25 juta orang di Indonesia tidak menggunakan toilet. “Mereka buang air besar di ladang, semak, hutan, parit, jalan, sungai atau ruang terbuka lainnya”. (https://www.unicef.org/indonesia/id/air-sanitasi-dan-kebersihan-wash).

Dari 68 jumlah kota (dan 416 kabupaten) hanya 13 kota yang telah memiliki Sistem Pengolahan Pengolahan Air Limbah Terpusat (SPALD-T). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

KotaIPAL
BandungBojongsoang
CirebonAde Irma  Kesenden Perumnas  Perumnas Utara
YogyakartaSewon
SurakartaMojosongo  Semanggi
BaliSuwung
MedanPulo Brayan
PrapatAji Bata
BalikpapanMargasari
BanjarmasinHKSN  Lambung Mangkurat Pekapuran Raya  Basiri
JakartaSetiabudi  Malaka Sari
TangerangSukasari
ManadoBoulevard
BatamBatam Center

Sumber: Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum (tanpa tahun). 

Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *