Kajian Kependudukan SDM Pendidikan

Pernikahan Masal Antara Pendidikan Vokasi dan Industri, Mungkinkah?7 min read

September 13, 2020 5 min read

Pernikahan Masal Antara Pendidikan Vokasi dan Industri, Mungkinkah?7 min read

Reading Time: 5 minutes

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan harapannya agar lima tahun mendatang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan semakin diminati oleh masyarakat (Siaran Pers Kemdikbud, 2020). Oleh karena itu, kepala sekolah dan guru SMK diimbau mempersiapkan diri dengan cepat dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMK. Selain itu, Menteri Nadiem juga membangun hubungan yang baik dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Pemerintah mengajak agar ada Pernikahan Masal antara dunia pendidikan dengan DUDI.

Mengapa dikatakan pernikahan? Karena sudah sejak lama, antara dunia pendidikan dan DUDI kesulitan untuk selalu menyatu dan sejalan. Sejak era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, link and match sudah menjadi kebijakan pemerintah, namun selalu bermasalah ketika masuk ke ranah implementasi. Berita Resmi Statistik Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2020 (BPS, 2020)menyebutkan bahwa lulusan SMK masih menempati posisi pertama pada tingkat pengangguran terbuka (TPT) yaitu sebesar 8,49 persen.

Berbagai upaya untuk mengurangi pengangguran pada lulusan SMK maupun meningkatkan kualitas pendidikan SMK sudah dilakukan, yang terbaru pada tahun 2016, pemerintah merilis Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi SMK. Instruksi Presiden ini berupaya untuk mewujudkan pendidikan vokasi secara integratif dengan melibatkan berbagai pihak dari pusat sampai di daerah. Namun demikian upaya tersebut belum sepenuhnya menuai hasil maksimal dan tepat sasaran. Hal ini dikarenakan pembangunan pendidikan di SMK memang sangat kompleks dan problematik.

Ditjen Pendidikan Vokasi telah menyiapkan 9 Paket Pernikahan Masal yang harus diterapkan oleh seluruh SMK. Paket Pernikahan Masal tersebut antara lain:  Sinkronisasi kurikulum yang disusun bersama industri dan resmi masuk ke dalam kurikulum SMK; peningkatan intensitas guru tamu dari industri hadir mengajar di SMK; program praktik kerja industri dan magang yang terstruktur dan dikelola bersama dengan baik; penyiapan beasiswa dan ikatan dinas bagi siswa; dan komitmen kuat dan resmi pihak industri dalam hal penyerapan lulusan SMK (Nidya, 2020).

Paket tersebut terlihat ideal jika dapat diimplementasikan dengan optimal untuk menjadi salah satu terobosan baru. Akan tetapi kenyataan pada tataran praktis masih sulit untuk dilaksanakan. Apalagi jika terminologi yang digunakan adalah Pernikahan Masal. Pernikahan bukan hal yang mudah ditempuh, memerlukan visi dan komitmen kuat di antara kedua belah pihak. Jika tak ada visi dan komitmen kuat di antara pendidikan vokasi dan dunia usaha dan dunia industri, situasi berbalik menjadi pernikahan paksa.

Perbedaan Cara Pandang antara Pendidikan Vokasi dan Industri

Sejak awal pendidikan vokasi di Indonesia dibangun dengan tujuan untuk menopang industrialisasi. Oleh sebab itu, tersedia celah yang sangat besar untuk terjadinya kooptasi dunia pendidikan oleh kepentingan industri. Hal tersebut sangat berpotensi menciptakan pragmatisme yang menjadikan SMK menjadi medium untuk memproduksi ‘robot-robot’ dan zombie-zombie industri. Kondisi yang membawa SMK pada korporatisasi, di mana industri sebagai investor masuk ke jantung dunia pendidikan. Orientasinya tentu menjadi return on investment, bukan lagi sebagai ruang untuk memanusiakan manusia. Dan lambat-laun upaya pendidikan vokasi menjadi medium terjadinya dehumanisasi dan dekadensi pendidikan, sebab pada prosesnya lebih memfokuskan diri pada penyiapan peserta didik untuk memasuki dunia industri semata.

Permasalahan lainnya adalah adanya performance gap yang dialami SMK dengan industri. SMK berpedoman pada Analisis SWOT (strenght, weakness, opportunities, and threats), sedangkan industri berdasar pada big data hasil Analisis DROWS (development, risk, opportunities, weakness, strenght). SMK mengandalkan pendekatan berbasis tantangan dan ancaman (threat based), sedangkan industri mengembangkan pendekatan berbasis penguatan kapabilitas (capability based). SMK bersedia memproduksi sebanyak-banyaknya ‘batu bata’, namun industri lebih membutuhkan ‘tanah liat’. Hal ini menunjukkan dengan jelas, bahwa SMK masih bernostalgia pada masa lalu yang sesungguhnya belum tentu indah, sedangkan industri terus membawa semangat tomorrow is today. Dengan kondisi tersebut, tentu saja jelas industri akan selalu berlari cepat meninggalkan dunia pendidikan.

Mengoptimalkan Potensi SMK

Terlepas dari permasalahan-permasalahan tersebut, upaya ini juga memiliki potensi percepatan transformasi SMK sebagai pionir pendidikan berbasis entrepreneurship. Harapan Mas Menteri dengan ‘memuliakan’ posisi kepala SMK sebagai Chief Executive Officer (CEO), semestinya dapat menjadi potensi percepatan transformasi tersebut (Prodjo, 2020). Potensi perubahannya kini terletak pada mindset sebagai seorang CEO dan mind map sistem SMK sebagai social business enterprise. Sebagai CEO, kepala SMK bukan hanya dituntut memiliki kapabilitas sebagai entrepreneur, namun juga mampu mengimplementasikan dalam setiap kebijakan di sekolah. Kepala dan guru SMK harus mengubah diri menjadi a heroic entrepreneurial leader. Yang setidaknya memiliki empat keunggulan secara personal yaitu innovatoropportunity seekerresource allocator, dan risk taker.

Akan tetapi, keunggulan personal ini tidak akan mudah terpenuhi jika kebijakan terkait SMK masih disamaratakan dengan pola pendidikan umum lainnya. Misalnya saja terkait dengan kebijakan pengelolaan keuangan dan dana bantuan operasional sekolah. Pemerintah mesti memberikan kebijakan yang berbeda terhadap SMK. Dengan kondisi saat ini, menjadikan kepala SMK sebagai CEO tentu mustahil. Struktur dan kultur yang ada tidak mendukung posisi mereka sebagai CEO. Kondisi yang terjadi sebaliknya membuat para kepala sekolah seperti diposisikan sebagai project leader yang sekadar mampu menyerap anggaran (bantuan) sesuai juknis dan arahan pusat, bukan capability based dan innovation to grow.

Sebagai CEO, Kepala SMK seharusnya diberi keleluasaan dalam pengambilan kebijakan masa depan SMK yang berfokus pada 3 hal: innovationgrowth dan profitability. Maknanya, penyerapan anggaran SMK bukan lagi hanya sekadar memenuhi juknis dan arahan pusat, namun benar-benar berorientasi pada pengembangan potensi dan kapabilitas sekolah, yang nantinya berdampak nyata pada relasi positif antara sekolah dan industri.

Merujuk pada buku Creative Schools: Revolutionizing Education from the Ground Up (2015) karya Ken Robinson dan Lou Aronica  dan Disrupting Class: How Disruptive Innovation Will Change the Way the World Learns (2008) karya Clayton Christensen dkk, paket Pernikahan Masal ini semestinya justru membawa SMK back to basic yaitu menjadikannya tempat yang nyaman bagi peserta didik untuk bertransformasi menjadi manusia dewasa yang berpengetahuan, terampil, berkepribadian, sarat kearifan, serta lentur terhadap perubahan zaman. Jika kondisi ini terjadi, maka anak-anak tersebut diyakini akan lebih adaptif dalam mengarungi hidup yang penuh risiko. Mereka akan siap menghadapi beragam situasi yang semakin tidak menentu di dunia kerja.

Kelenturan ini yang sesungguhnya dibutuhkan oleh industri. Kelenturan yang membuat setiap peserta didik memiliki keinginan untuk terus belajar, berlatih serta siap terhadap perubahan dan situasi yang serba tak pasti. Menjadi sosok yang kreatif dan inovatif serta memiliki ketangguhan dalam berbagai situasi.

Lantas Bagaimana?

Bagaimanapun kita mesti mengapresiasi kemunculan paket pernikahan masal ini dalam konteks penguraian dan perbaikan masalah terkait link and match pendidikan vokasi dan industri. Terlepas dari berbagai kepentingan dan potensi masalah yang ditimbulkan, namun setidaknya ide ini menjadi pelepas dahaga yang datang ketika seluruh stakeholder pendidikan vokasi berada pada titik jenuh dan kebimbangan seiring arus deras disrupsi pendidikan yang semakin terasa. Namun demikian, program ini harus berorientasi pada ‘kemenangan subyek didik’. We make people, before we create industry.

Bagaimana pun SMK itu sudah seharusnya tidak hanya menghasilkan atau memproduksi, namun membantu seluruh stakeholder pendidikan vokasi, menjawab kebutuhan (meet the needs), dan menangani keluhan (handling complain). Paket pernikahan Masal mestinya bukan hanya menjadi lompatan dan terobosan berpikir (jump of the box), karena tidak menjadi penting lagi berpikir mana yang di dalam kotak, dan mana yang di luar kotak. Namun, terpenting adalah terusmenciptakan kotak-kotak yang baru. Jika ingin SMK unggul dan Indonesia maju, beragam ikhtiar perlu diupayakan.

Ditulis oleh Robert Anang(Guru SMK Sadar Wisata, Manggarai NTT) dan Anggi Afriansyah(Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. 2020. Berita Resmi Statistik: Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2020 No. 40/05/Th. XXIII, 05 Mei 2020. Sumber: https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/05/05/1672/februari-2020–tingkat-pengangguran-terbuka–tpt–sebesar-4-99-persen.html

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud. 2020. Kemendikbud Imbau Kepala Sekolah dan Guru SMK Persiapkan Diri, Tingkatkan Kerja Sama dengan DUDI. Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 153/sipres/A6/VI/2020 (https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/06/kemendikbud-imbau-kepala-sekolah-dan-guru-smk-persiapkan-diri-tingkatkan-kerja-sama-dengan-dudi).

Christensen, Clayton M., Horn, Michael B.  & Johnson  Curtis W. 2008. Disrupting Class: How Disruptive Innovation Will Change the Way the World Learns. New York: McGraw Hill.

Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam Rangka Pembangunan SDM Berkualitas. Sumber: https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/09/presiden-jokowi-keluarkan-inpres-tentang-revitalisasi-smk.

Nidya, Inadha Rahma . 2020. Ditjen Pendidikan Vokasi Siapkan “Paket Pernikahan” pada Program Link and Match. Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2020/06/21/190214371/ditjen-pendidikan-vokasi-siapkan-paket-pernikahan-pada-program-link-and?page=all

Prodjo, Wahyu Adityo. 2020. Mendikbud Nadiem: Kepala Sekolah SMK Harus Seperti CEO Perusahaan. Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2020/06/30/070000471/mendikbud-nadiem–kepala-sekolah-smk-harus-seperti-ceo-perusahaan?page=all

Robinson, Ken. 2015. Creative Schools: Revolutionizing Education from the Ground Up. London: Allen Lane.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *