Dunia pendidikan selalu menjadi sorotan utama ketika begitu banyak persoalan melanda bangsa ini. Kita begitu mudah disuguhkan tontontan mengenai pertarungan politik tanpa etika, mudahnya saling membenci karena perbedaan, berbagai tindakan kekerasan, eksploitasi sumber daya alam, dan persoalan-persoalan lainnya. Kemudian timbul pertanyaan, mengapa pendidikan di negeri ini belum mampu membangun manusia Indonesia yang dapat membawa bangsa ini menjadi lebih demokratis dan sejahtera? Apa sesungguhnya yang membuat situasi tersebut terjadi? Ada apa dengan dunia pendidikan di negeri ini?

Berbagai kegelisahan yang disampaikan di awal menjadi perhatian dari Haidar Bagir dalam buku terbarunya yang berjudul Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia: Meluruskan Kembali Falsafah Pendidikan Kita (2019). Karyanya tersebut berusaha menjawab berbagai pertanyaan terkait kegagalan dunia pendidikan di negeri ini. Setiap masalah yang ada di dalam tubuh bangsa seperti ketidakdisiplinan, korupsi, konflik dan kekerasan, ketidakbahagiaan menurut penulis adalah akibat dari rendahnya kualitas pendidikan. Kondisi tersebut berefek panjang pada situasi bangsa pada saat ini dan di masa yang akan datang.

Buku ini kemudian mengajak kita untuk berpikir ulang mengenai arah pendidikan di negeri ini. Fokusnya adalah pada tiga bagian yaitu tentang falsafah pendidikan, konsep dan metode pendidikan, serta falsafah pendidikan Islam. Pada tiap kita akan disuguhi refleksi penulis terkait pendidikan di negeri ini dilengkapi berbagai referensi dan pengalaman panjang penulis dalam aktivisme pendidikan.

Penulis memulai buku ini dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang akan membuat kita semua bertanya ulang tentang tujuan pendidikan nasional?. Ia membawa kita pada beragam isu dan persoalan yang ada di dunia pendidikan seperti upaya membangun pendidikan yang memanusiakan, tantangan artificial intelligence, paradigma multiple intelligent yang terabaikan, pendidikan yang belum memberi porsi pada IQ, EQ, dan SQ, serta tentang pentingnya pengembangan kreatifitas dan pendidikan karakter. 

Segenap proses pendidikan, menurut penulis, harus ditujukan untuk pengembangan seluruh potensi manusia manusia demi mencapai kehidupan sejahtera baik secara fisik, mental, dan spiritual. Pendidikan tidak sebatas mempersiapkan angkatan kerja yang kompetitif, sehingga, pendidikan harus secara jeli melihat multipotensi yang ada di dalam manusia sehingga anak-anak dapat menjadi manusia seutuhnya. 

Babak kedua dalam buku ini lebih terfokus pada hal-hal yang praktikal. Pembahasannya dititikberatkan pada kemungkinan penggunaan kurikulum ataupun metode pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Kurikulum autentik menjadi salah satu konsep penting yang penulis ajukan. Kurikulum autentik menjadi sangat relevan karena setiap pembelajaran berusaha untuk membekali anak dengan kompetensi yang sesuai dengan kondisi sesungguhnya yang ada di masyarakat. 

Proses pembelajarannya dilakukan melalui pembelajaran kontekstual, yang relevan dengan kondisi keseharian. Anak tidak pisahkan dari akar budaya dan kesehariannya.Praktiknya dilakukan melalui berbagai projek penugasan (project based learning atau PBL). PBL membuat anak-anak berhadapan langsung dengan realitas sosial yang ada di sekitar mereka.

Terminologi menarik lainnya adalah ketika penulis menyebut bahwa sekolah bukanlah tempat berhasil, melainkan tempat gagal. Sekolah bukan tempat bekerja di mana anak dinilai seperti para pekerja. Sekolah adalah tempat anak mengembangkan kepercayaan diri, keberanian berekspresi, keterampilan berkomunikasi, mengembangkan sikap toleransi dan demokrasi. Di sekolah anak-anak perlu diberi ruang seluas-luasnya— dengan bimbingan guru tentunya— untuk melakukan berbagai eksperimen. Anak terlatih untuk berjuang dan siap menerima berbagai kegagalan. Dari situ sikap mental dilatih dan mereka menjadi pribadi yang tangguh, penuh inisiatif dan kreatif. 

Di bagian akhir penulis lebih memfokuskan pada pembahasan mengenai falsafah pendidikan Islam. Bobot yang disampaikan pada bagian ini lebih pada bagaimana mendidik generasi muda memiliki akhlak atau karakter yang baik. Penulis mengkritik pendidikan agama di Indonesia yang memiliki dua kelemahan mendasar yaitu, pertama, lebih berpusat pada hal yang bersifat ritual, simbolis, dan legal formalistis. Kedua, pendidikan agama tidak menggarap secara serius tiga ranah pada taksonomi Bloom yaitu kognitif (intelektual), afektif (emosional) dan psikomotorik. Kedua problem tersebut berakibat pada begitu besarnya jarak antara apa yang dikatakan dengan laku keseharian.

Sekolah dengan berbagai keterbatasnya, menurut penulis, harus dapat dipulihkan untuk menjadi lokus di mana anak-anak dididik menjadi manusia yang merdeka, memelihara dan mengembangkan spiritualitasnya, mencapai kebahagiaan, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya. 

Pengalaman panjang penulis dalam bergulat membangun anak-anak bangsa di yayasan yang dikelolanya menjadi nilai plus pada ide-ide yang ditawarkan. Sebab penulis tidak hanya berwacana tetapi sudah bereksperimen dan mempraktikan berbagai konsep yang ditawarkan dalam buku ini. Buku ini sangat relevan dipelajari oleh para pendidik, orangtua, dan pengambil kebijakan.

Judul Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia: Meluruskan Kembali Falsafah Pendidikan Kita

Penulis: Haidar Bagir

Penerbit: Mizan

Cetakan: Pertama, 2019

Halaman : 212 hlm

Screen_Shot_2020-05-30_at_15.10.35.png

Diresensi oleh Anggi Afriansyah, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI 

powered by social2s
Go to top