Ada catatan menarik dari Anya Kamenetz (2020) dalam Panic-gogy: Teaching Online Classes During The Coronavirus Pandemic.

 

Ia mencatat beberapa pakar pembelajaran digital yang menyarankan, dalam situasi krisis saat ini tidaklah perlu ngoyo melakukan pembelajaran reguler. Do less, begitulah saran banyak pakar terkait pembelajaran daring di situasi pandemi. 

 

Sean Michael Morris dari School of Education and Human Development University of Colorado menyebut, gagasan mengubah pembelajaran ruang kelas menjadi daring memiliki persoalan dan mencobanya di tengah pandemi menyimpan masalah lainnya.

 

Ia dan koleganya menyebut, situasi saat ini sebagai panicgogy dari kata panic dan pedagogy (Kamenetz, 2020). Konteks yang disampaikan Morris memang ada pada situasi pembelajaran di perguruan tinggi.

 

Namun, bisa sangat relevan dengan pendidikan di level dasar dan menengah. Siapa pun, jelas panik dalam situasi saat ini. Mulai dari pembuat kebijakan, guru, siswa, sampai orang tua harus beradaptasi dengan sistem belajar baru.

 

Situasi di rumah jelas berbeda dengan situasi terkontrol di sekolah. Atau mekanisme belajar di rumah ini jelas berbeda dengan sistem pembelajaran home schooling. Jika dalam situasi normal tersedia banyak pilihan, dalam situasi saat ini pilihan semakin terbatas.

 

Semua dipaksa beradaptasi, mau tidak mau mengikuti pola pembelajaran jarak jauh. Pada titik inilah problem berdatangan dan kepanikan menjadi niscaya. Belajar di rumah bagi siswa menjadi persoalan ketika berbentrokan bekerja dari rumah para orang tua.

 

Maka itu, di level rumah tangga, alih-alih mendekatkan anak dengan orang tua, belajar di rumah memberikan beban psikologis dan tingkat stres tinggi. Apalagi, jika pihak sekolah dan kantor tanpa tedeng aling-aling tetap memberi porsi pekerjaan yang tinggi.

 

Anak-anak akan bertanya banyak ke orang tua untuk menyelesaikan tugas. Sementara itu, orang tua terbebani pekerjaan kantor. Pengalaman penulis dan istri dengan anak berusia lima tahun dapat menjadi gambaran. 

 

Penulis dan istri sama-sama harus bekerja dari rumah. Kami tidak memiliki asisten rumah tangga. Karena anak kami masih kecil, kami bekerja layaknya sistem shift di kantor ketika menemani anak belajar dan bermain.

 

Namun, repotnya ketika jadwal mengajar istri bentrok dengan jadwal rapat daring atau diskusi-diskusi lainnya. Tentu dapat bayangkan, bagaimana senangnya anak lima tahun ketika melihat kedua orang tuanya ada di rumah.

 

Baginya, setiap hari ada di rumah berarti setiap waktu merupakan momen bermain bersama. Kami harus memberi pengertian berkali-kali meski sulit. Namun, kami jelas lebih beruntung dibandingkan mereka yang masih harus bekerja di luar rumah saat pandemi.

 

Anak-anak mereka juga perlu diperhatikan. Sekolah yang paling tahu kondisi anak-anak didiknya. Tugas-tugas yang diberikan guru di sekolah perlu memperhatikan berbagai kondisi di rumah. Jangan bayangkan rumah sebagai arena ideal untuk belajar.

 

Orang tua pun perlu memahami para guru. Sebab, mereka juga orang tua yang anak-anaknya perlu pendampingan di rumah. Sekolah juga harus memahami kondisi guru dan siswa dalam waktu yang sama.

 

Tuntutan penyelesaian kurikulum tentu tidak menjadi prioritas. Dalam situasi sulit ini, bertahan hidup dan tetap sehat adalah paling utama. Sehingga, materi-materi yang berbasis akademik bukanlah utama.

 

Apalagi, merujuk pada Surat Edaran Kemendikbud No 4/2020, di salah satu poinnya menyebutkan agar tidak terfokus pada penyelesaian kurikulum. Bukan hanya siswa yang terbebani, tanpa fleksibilitas guru pun akan mudah dihinggapi stres.

 

Paling utama adalah mendialogkan berbagai rencana pembelajaran kepada siswa. Para guru, misalnya, dapat mengajak siswa mengeksplorasi berbagai isu terkait Covid-19.  Eksplorasi ini dilakukan berbasis mata pelajaran dan level kelas siswa.

 

Catatannya, kondisi ini terjadi saat kapasitas sekolah dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh dapat dilaksanakan secara optimal ketika internet, kuota, dan perangkat digital tidak menjadi kendala.

 

Pelajaran ilmu sosial di level SMP dan SMA, misalnya, dapat mengajak anak untuk memahami situasi saat ini. Tujuannya, mereka lebih peduli dengan situasi di sekitar mereka. 

 

Contoh, pada pelajaran PPKN, pada materi otonomi daerah dapat dihubungkan dengan peran daerah sampai ke tingkat RT dalam melawan Covid-19.

Hal tersebut tentu akan lebih menarik. Bobot tugas pun dibuat secara fleksibel sebab tujuan utamanya bukan pemenuhan akademik melainkan pada pemahaman utuh peserta didik dan kepedulian mereka terhadap situasi sekitar.

 

Minta anak-anak berdiskusi dengan orang tua terkait peran lingkungan di sekitar rumah mereka dalam membatasi ruang gerak Covid-19. Apa yang sudah atau dapat dilakukan untuk membantu mereka yang kesulitan akibat Covid-19.

 

Apa manfaat bagiku (AMBAK) kira-kira demikian seperti yang dicetuskan oleh Bobbi De Porter & Mike Hernacki (2007) dalam bukunya Quantum Learning.

Semakin bermanfaat dan relevan bagi siswa, mereka tidak akan merasa sulit menerima pelajaran atau menggenapi tugas. Orang tua pun tak merasa terbebani dengan tugas yang diberikan ke siswa. Jadi, hiruk pikuk belajar di rumah bisa diminimalkan.

 

Anggi Afriansyah

Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Dimuat di Republika, 21 April 2020

powered by social2s
Go to top