Korporealitas dan Generasi Rapuh

Oleh: Andy Ahmad Zaelany* (Puslit Kependudukan LIPI)

Akhir-akhir ini sering kita dengar keluhan banyak orang tua tentang anak-anaknya. Keluhan yang disertai keheranan mengapa anak-anaknya, baik yang masih kecil maupun yang sudah mulai beranjak remaja, mudah lelah dan mudah sakit. Generasi rapuh pelan tapi pasti telah mulai menjadi fenomena yang mengkuatirkan. Padahal makanan mahal, hiburan dan berbagai fasilitas dipersiapkan untuk ananda. Berbeda sekali dengan kondisi mereka semasa kanak-kanak. Di tengah-tengah keterbatasan dan hidup sederhana dahulu mereka mampu melampaui masa kanak-kanak dalam kondisi sehat dan penuh aktivitas. Bermain air hujan, membantu orang tua di sawah, berjalan kaki berkilo-kilo meter menuju sekolah menghiasi masa kanak-kanak hingga masa remaja. Kini segala serba ada dan kebutuhan anak dicukupi kenapa justru kondisi mereka mudah lelah dan mudah sakit.

Fenomena generasi rapuh ini didukung dengan semakin meningkatnya jumlah bayi lahir prematur di Indonesia.Peningkatan terus menerus jumlah bayi prematur tiap tahunnya sungguh mengkhawatirkan Kontribusi Indonesia dari jumlah bayi prematur di dunia mencapai 15%. Indonesia sudah masuk lima besar dunia jumlah penghasil bayi prematur. Padahal ketika seorang ibu yang melahirkan bayi prematur selain dia harus berjuang mempertahankan nyawanya, bayinya pun menghadapi risiko tinggi kematian. Sang bayi prematur seringkali mengalami kondisi sakit-sakitan dan kemungkinan meninggal dunia. Seandainya pun dia mampu melampaui phase itu, umumnya dia akan menjadi anak yang mudah  terserang penyakit dan tergolong mempunyai fisik yang lemah.

Korporealitas

Kesadaran korporealitas  yang meningkat di kalangan masyarakat untuk bersikap otonom terhadap tubuhnya (koerper haben). Adapun wujudnya adalah keterlibatannya dan haknya dalam pembuatan keputusan-keputusan yang berpengaruh terhadap tubuhnya maupun dirinya secara keseluruhan (lihat Zaelany, 2006). Bentuk kesadaran tersebut secara positifnya adalah lebih memperhatikan perawatan tubuhnya maupun kesehatan dirinya sepenuhnya. Namun, bentuk kesadaran lain yang negatif bisa muncul dalam wujud hedonism seperti kerakusan dalam makanan yang tidak sehat.

Kesadaran korporealitas yang negatif bentuknya bisa kita lihat dari pola makanan anak-anak dan remaja masa kini. Jenis makanan yang mereka santap sangat homogen, umumnya karbohidrat dan makanan yang penuh lemak.  Selain itu, makanan junk food menjadi ikon prestise dan kegemaran mereka.  Ulang tahun pun dirayakan di restoran dengan menu utama junk food; sungguh suatu irrational consumer yang memprihatinkan (Dan Ariely, 2013). Berbeda dengan anak-anak di perdesaan yang pola makannya lebih seimbang dengan jenis makanannya yang lebih beragam, lebih segar dan lebih terhindar dari bahan-bahan kimiawi. Kondisi kesehatan anak dan remaja di desa sekarang ini cenderung lebih baik dibandingkan kesehatan anak dan remaja di kota.

Konsumsi makanan yang tidak sehat tersebut juga didukung oleh life style yang menimbulkan problema psiko sosial, seperti penggunaan narkoba, peminum alcohol, perokok berat, depresi, dan lain-lain. Belum lagi masalah yang marak sekarang ini, yakni usia mengenal hubungan seksual yang terlalu dini, khususnya bila memulai melakukan hubungan seksual pada usia  kurang dari 16 tahun. Rerata usia pernikahan memang kecenderungannya membaik, dalam arti mulai berkurang jumlah kasus pernikahan dini. Namun, melakukan hubungan seksual di bawah usia 19 tahun akan berakibat kurang baik pada kesehatan organ seksualnya dan meningkatnya posibilitas melahirkan bayi prematur.  Hal tersebut berdampak pada memburuknya kesehatan sang ibu maupun bayi yang akan dilahirkannya.

Hindari Generasi Rapuh

Teori dominan menekankan siapa-siapa yang dalam struktur masyarakat lebih superior dia akan cenderung menentukan norma-norma yang harus dianut oleh masyarakat. Rangkaian norma tersebut menjadi identitas komunitas  (Gatens, 1996). Hal serupa terjadi juga pada penentuan sikap komunitas maupun sikap seseorang. Pola hidup yang didominasi kapitalis yang mendorong modernisasi besar-besaran dalam semua aspek kehidupan masyarakat telah membentuk sikap masyarakat yang hedonistik dan memilih kesadaran korporealitas di jalur negatif. 

Pola makan yang tidak sehat dan life style yang bias psiko sosial sesungguhnyalah dampak negatif dari berkembangnya modernisasi yang melahirkan budaya serba instant, serba cepat dan serba “wah”.. Kini sudah mulai terbentuk “Generasi Rapuh”, yang sungguh merupakan ancaman bencana yang serius bagi masa depan bangsa Indonesia. Tingginya tingkat kesakitan dan meningkatnya penderita usia muda yang mengidap penyakit degeneratif seperti sakit jantung, stroke, kanker, dan lain-lain merupakan indikator telah berkembangnya generasi rapuh tersebut.

Seyogyanyalah kita lebih bijak dalam menyikapi arus modernisasi dan globalisasi dengan memilih aspek-aspek yang baik, bermanfaat dan berguna bagi masa depan bangsa serta menihilkan dan menghindari aspek-aspek yang buruk seperti pola konsumsi makanan yang tidak sehat. Bila masalah “generasi rapuh” ini tidak segera diatasi, bisa dibayangkan masa depan suram bangsa Indonesia.

 

*Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan-LIPI

PPK LIPI on Twitter

Go to top