Secara umum, identitas berkaitan dengan rekognisi diri terhadap suatu ciri yang membedakan dirinya dari yang lain, baik secara individu maupun kelompok. Kajian Antropologi tidak serta-merta menganggap identitas sebagai suatu hal yang hadir begitu saja pada saat manusia dilahirkan (naturally given); identitas sering kali juga bisa dibentuk atau dikonstruksi oleh lingkungan, seperti keluarga (Golubović, 2011:27). Identitas membutuhkan kesadaran dan pengakuan dari diri sendiri maupun lingkungan terhadap ciri yang diaktifkan. Hildred Geertz (1961) dalam bukunya, The Javanese Family: A Study of Kinship and Social Relation, mendeskripsikan bagaimana seorang anak dari keluarga Jawa diajarkan untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh keluarganya sebagai orang Jawa. Dalam kasus keluarga Jawa yang digambarkan Geertz (1961), sekalipun seseorang sudah memiliki keturunan sebagai orang Jawa, tetapi eksistensinya dalam kelompok perlu didukung dengan adanya pengakuan dari orang lain melalui serangkaian pengajaran dalam keluarga (konstruksi lingkungan).

Pengajaran yang didapat dari lingkungan sekitar membuat individu menyadari persamaan dan perbedaan antara dirinya dengan orang lain, sehingga membentuk kategori self (persamaan/kita) dan others (perbedaan/mereka). Siapakah kita (self)? Siapakah mereka (others)? Schwartz (2007:93-94) mendeskripsikan diri (self) sebagai skema konseptual objektif dari organisme yang menerima dirinya sebagai suatu hal yang identik. Dalam membentuk diri, diperlukan adanya kesadaran seberapa jauh seseorang atau kelompok mengenal dirinya dalam ciri identitas tertentu. Untuk mempermudah identifikasi ini, justifikasi sering dibentuk berdasarkan kesamaankesamaan yang ditemukan, baik melalui ciri fisik, geografis, maupun memori kolektif yang sama. Misalnya saja dalam pembagian kelompok negara-negara Asia Tenggara, selain letak geografis, memori kolektif mengenai kolonialisme juga penting untuk membangun identitas yang sama.

Screenshot_2019-10-18_at_07.28.15.png

Pemisahan identitas antara diri dan liyan perlu dilihat pembatasnya. Stasch (2009) dalam bukunya, Society of Others, menggambarkan bagaimana rekognisi identitas yang berlawanan dapat disadari melalui keberliyanan (otherness). Stasch (2009:15) mencoba melihat keberliyanan melalui tiga klasifikasi, yaitu (1) persepsi mengenai perbedaan, (2) adanya jarak, (3) afeksi, evaluasi, atau refleksi pribadi terhadap yang berbeda. Sesuatu yang dikatakan sebagai keberliyanan harus dilihat melalui dua sisi, yaitu pengakuan atau kesadaran dirinya sendiri dan pengakuan dari yang lain ketika melihat dirinya. Melalui kesadaran keberliyanan ini nantinya akan terbentuk jarak yang jelas antara diri dan liyan.

Sama halnya dengan dinamika antara pendatang dan orang lokal di Meos Su dan Sausapor, masing-masing sisi akan mengidentifikasikan dirinya ke dalam kelompok dan membentuk batas-batas dengan yang lain. Kesadaran mengenai diri dan liyan muncul dari masing-masing kelompok pada saat pendatang berhadapan dengan orang lokal maupun sebaliknya. Identifikasi siapa pendatang dan siapa lokal ini didasarkan pada persepsi etnis, kesadaran, dan rentang waktu masuk yang berbeda. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut melalui sejarah migrasi orang Biak di Meos Su dan Sausapor.

Irin Oktafiani dan Herry Yogaswara - Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Selengkapnya tulisan berjudul ‘Migrasi Orang Biak dan Identitas Orang Asli Papua di Sausapor, Papua Barat  dapat diakses di http://journal.ui.ac.id/index.php/jai/article/view/11278

powered by social2s
Go to top