Dampak dari perubahan iklim ditengarai semakin memburuk karena pengaruh perbuatan manusia (Case, Ardiansyah and Spector, 2007, p. 5). Indonesia pun diidentifikasi sebagai salah satu negara di Asia yang paling rentan terhadap pengaruh perubahan iklim karena termasuk diurutan ketiga tingkat dunia dalam hal produksi emisi gas rumah kaca. Dampak perubahan iklim tidak hanya terbatas pada perubahan musim hujan-kemarau, kenaikan muka air laut, namun juga telah mempengaruhi beragam aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, kesehatan, ketahanan pangan dan juga kerusakan lingkungan. Berdasarkan berbagai kasus yang pemah ada memperlihatkan bahwa dampak perubahan iklim tidak sama dialami oleh kelompok masyarakat, laki-lak.i maupun perempuan.

Perempuan dan anak dikatak.an merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak langsung maupun tidak langsung dari perubahan iklim. Ketika terjadi kemarau panjang, perempuan dan anak perempuan biasanya ditugaskan sebagai pengumpul air dan bahan bakar, mencari makanan temak, serta menyiapkan pangan untuk keluarga. Selain itu, perempuan pedesaan juga acapkali memikul tanggung jawab sebagai pengelola pertanian untuk kebutuhan konsumsi pangan bagi keluarganya. Di masa-masa iklim yang sulit dan serba tidak menentu, mereka jelas harus menghadapi sumber daya alam yang makin terbatas dan beban kerja yang lebih berat. Konsekuensi dari lamanya waktu dan beban kerja yang lebih berat bagi perempuan dan anak-anak sangat beragam dan melingkupi berbagai aspek, seperti pendidikan, kesehatan serta pangan.

Sudah banyak bukti yang memperlihatkan bahwa dampak perubahan iklim memiliki keterkaitan dengan isu gender dan kerentanan perempuan . Dampaknya terutama dirasakan di sektor-sektor yang secara tradisional banyak terkait dengan peran perempuan, seperti di wilayah pertanian maupun perkebunan. Sektor-sektor ini rentan terimbas dampak perubahan iklim, sehingga situasi ini semakin menambah beban perempuan dari rumah tangga miskin, karena mereka sangat tergantung pada sumber daya alam lokal untuk menopang kehidupan keluarganya. Sebagai gambaran saja, data dari Serikat Petani Indonesia memperlihatkan bahwa hampir sekitar 70-80 % pekerja di sektor pertanian adalah perempuan, sementara pada tahun 2007 sekitar 6,676 hektar areal pertanian gagal panen karena bencana banjir. Dapat dipastikan bahwa kelompok pekerja petani perempuan adalah pihak yang paling berat terimbas dampak banjir (Asian Development Bank Institute, 2011 ).

Dengan kondisi laban yang semakin berkurang kualitas kesuburannya karena pengaruh perubahan musim, juga berkurangnya ketersediaan air bersih dan produksi pertanian, serta semakin sulitnya memprediksi iklim untuk bercocok tanam karena pola musim hujan-kemarau yang berubah, jelas akan semak.in meningkatkan resiko kelaparan/kemiskinan di kalangan perempuan (Nellemann, C., Verma, R., dan Hislop, L., 2011). Sehingga tanpa ada intervensi dari berbagai pihak, perempuan yang mayoritas merupakan tenaga kerja/buruh tani, dapat semakin terpuruk dalam kondisi kemiskinan.

Kondisi yang sama juga ditemukan dalam rumah tangga nelayan, terjadinya perubahan iklim yang salah satunya diindikasikan dengan kenaikan air laut, telah menimbulkan perubahan, tidak hanya pada lingkungan ekosistem, namun juga terhadap kehidupan rumah tangga nelayan. Berkurangnya air bersih, rusaknya tempat tinggal dan infrastruktur telah mendorong sebagian rumah tangga terpaksa bermigrasi. Ketika menghadapi sumber daya alam yang makin terbatas, perempuan dari rumah tangga nelayan miskin, acapkali harus menanggung beban lebih berat dibandingkan laki-laki.

Oleh Ade Latifa dan Fitranita, Peneliti Mobilitas penduduk di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

*) Tulisan ini merupakan baguan dari artikel yang berjudul ‘STRATEGI  BERTAHAN  HIDUP  PEREMPUAN DALAM  MENGHADAPI  DAMPAK  PERUBAHAN  IKLIM’, selengkapnya dapat diakses di http://ejurnal.kependudukan.lipi.go.id/index.php/jki/article/view/22/16

powered by social2s