Perbedaan antar wilayah secara fisik, ekonomi dan sosial demografi sudah menjadi alasan utama untuk bermigrasi. Hal ini diperkuat dengan kemajuan di bidang teknologi informasi yang semakin membuka jalan untuk mempermudah penduduk berpindah. Teknologi melalui media sosial telah membuat hubungan antara daerah asal dengan daerah tujuan menjadi lebih dekat dan terjangkau. Interaksi antar migran bisa menjadi lebih mudah dan meminimalisir resiko dan biaya migrasi.

Saat ini media sosial sudah tidak lagi sekedar menjadi alat komunikasi. Media sosial telah berkembang menjadi sebuah sumberinformasi yang bisa diakses secara luas. Media sosial telah mempererat hubungan antara dua orang di dua tempat yang berbeda dari weak ties menjadi strong ties (Haythornthwaite, 2002). Melalui media sosial, migran masih bisa menjalin hubungan dengan keluarga yang ditinggalkannya dengan mudah (Mahler, 2001).

Hasil survei tim mobilitas penduduk di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI menunjukkan migran di Kota Batam sudah mulai memanfaatkan media sosial dalam kehidupan sehariharinya. Lebih dari separuh sudah mengakses media sosialnya untuk segala kepentingan sehari-hari seperti mencari berita, hiburan hingga melakukan kontak sosial (63,1 persen). Pelaku migrasi tenaga kerja di Kota Batam yang di dominasi oleh kaum muda sudah mulai memanfaatkan media sosial untuk berhubungan dengan jaringan sosialnya. Informasi yang melimpah yang dapat diakses dari media sosial dapat membantu migran untuk membuat keputusan bermigrasi dengan lebih cermat. Internet dan media sosial berperan sebagai penyedia informasi mengenai daerah tujuan dan media untuk membangun kontak sosial.

Peran media sosial dalam konteks migrasi adalah sebagai alat untuk menjaga social ties dari migran. Bahkan media sosial bisa dikatakan sebagai faktor penting dalam proses migrasi. Menurut Dekker & Engbersen (2012), jalur komunikasi melalui media sosial dapat menfasilitasi migrasi melalui empat fungsi: memperkuat jaringan sosial antara migran dengan keluarga dan teman, menciptakan strong ties dalam proses migrasi dan integrasi, menciptakan latent ties dan yang terakhir media sosial mampu menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi pelaku migran.

Screenshot_2019-04-05_at_16.46.45.png

Ditulis oleh Inayah Hidayati, Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

*) Tulisan ini merupakan bagian dari Laporan Penelitian Tim Mobilitas Penduduk Tahun 2017

powered by social2s
Go to top