Downsizing merupakan film fiksi ilmiah yang keluar di tahun 2017. Jika menonton trailernya, penonton bisa berimajinasi dan membayangkan bagaimana jadinya jika tubuh mengecil tetapi tetap menikmati kehidupan secara normal. Di dalam trailer digambarkan betapa mudahnya hidup dengan ukuran kecil dan segala sesuatu dalam ukuran normal akan terlihat besar, misalnya donat dalam ukuran besar. Sangat mengenyangkan! Namun bagaimana jika manusia dengan ukuran kecil harus bertemu semut atau nyamuk dengan ukuran yang sama dengan dirinya pada saat mengecil? Atau masalah lain dimana postur tubuh kecil malah mendatangkan masalah baru bagi manusia.

Tema yang diusung oleh film ini adalah tema yang tidak populer ditengah gempuran tipe film aksi atau superhero . Dalam film ini, Downsizing dianggap sebagai solusi terhadap over populasi manusia. Film menceritakan Dr. Jorgen Asbjørnsen seorang peneliti rekayasa genetik yang menemukan formula mengecilkan manusia setinggi 180 cm menjadi hanya seukuran 12,9 cm. Melalui penemuannya, Dr. Jorgen dan tim mengklaim bahwa manusia tidak perlu mengkahwatirkan permasalahan lahan yang semakin sempit apabila dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan jumlah penduduk. Di sisi lain, tubuh kecil juga berimbas pada penurunan jumlah hasil buangan limbah domestik dan industri. Permasalahan over populasi digambarkan sebagai salah satu penyebab bencana alam yang terjadi di dunia.

irin.png

Over populasi merupakan keadaan dimana jumlah penduduk jauh melebihi jumlah sumber daya yang ada di sekitarnya. Indikator over populasi diantara lain tingkat kelahiran, tingkat kesehatan penduduk dan kematian, tingkat pendidikan, dan juga migrasi.  Susahnya mendapatkan pekerjaan, kesulitan untuk mendapatkan lahan untuk pemukiman dan mencukupi kebutuhan pangan menjadi isu yang melekat pada permasalahan populasi. Over populasi biasanya terjadi pada daerah yang memiliki penduduk padat dengan lahan sempit seperti Hong Kong. Setiap 1 km2 di kota Hong Kong ditempati oleh 14.464 penduduk. Jumlahnya dua kali lipat dibandingkan dengan Jakarta yang memiliki kepadatan 6.480 jiwa/km2. Untuk itulah, perlu adanya antisipasi untuk mencegah over populasi.

Kondisi over populasi ini bukanlah hal yang baru, pada tahun 1798, di dalam buku An Essay on The Principles of Population, Thomas Robert Malthus menyatakan bahwa perkembangan jumlah makanan seperti deret hitung (aritmatika) dan perkembangan jumlah manusia seperti deret ukur (geometri). Deret aritmatika merupakan urutan bilangan dimana bilangan berikutnya adalah hasil penambahan dari bilangan sebelumnya, sedangkan deret geometri merupakan urutan bilangan dimana bilangan berikutnya adalah hasil perpangkatan dari bilangan sebelumnya. Merujuk pada teori Malthus dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan pangan akibat pertumbuhan jumlah populasi manusia yang cepat. Oleh karena itu pemerintah dari beberapa negara yang memiliki banyak penduduk seperti Indonesia mencoba bebagai hal untuk menekan kenaikan populasi, diantaranya adalah program Keluarga Berencana di Indonesia dan impor bahan-bahan makanan pokok untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, over populasi juga berakibat kepada banyaknya jumlah limbah yang dihasilkan oleh masnusia. Mengutip berita pada laman Tempo Bisnis, pada tahun 2015, Dr. Jenna Jambeck menyatakan bahwa Indonesia sebagai penyumbang limbah plastik kedua terbesar sebanyak 3,2 juta ton per tahun setelah China, disusul Filipina, Vietnam dan Sri Lanka. Untuk Jakarta sendiri, pada tahun 2018 sekjen pengelolaan limbah, sampah, dan bahan beracun berbahaya (PLSB3) menyatakan hasil sampah mencapai 70 ribu ton per hari dan 60% sampah disumbang oleh sampah rumah tangga. Jika berat rata-rata satu ekor sapi ada 500 kg maka per hari Jakarta menyumbang sampah sebanyak 150 ribu ekor sapi. Ini adalah jumlah yang sangat banyak, ditambah lagi diperlukan lahan yang juga besar untuk mengelola sampah-sampah tersebut.

Imajinasi film Downsizing, sukses membuat penonton berpikir mengenai permasalahan over populasi terutama di Indonesia. Pemasalahan ketersediaan pangan, lapangan pekerjaan, ketersediaan pemukiman, dan sampah menjadi hal yang perlu disorot menanggapi masalah over populasi. Di tambah lagi Indonesia juga akan mengalami bonus demografi hingga tahun 2030. Jika alat seperti Downsizing ini ada, apakah kita perlu mengecilkan diri untuk menyelamatkan lingkungan? Namun rasanya tak usah berkhayal terlalu jauh untuk mencegah atau menanggulangi over populasi. Sebagai refleksi pribadi, bisakah kita mengurangi konsumsi plastik dan limbah rumah tangga kita? Bisakah kita lebih matang dalam merencanakan jumlah anak-anak kita? Mari selamatkan bumi mulai dari diri sendiri.

(Ditulis oleh Irin Oktafiyani, Kandidat Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)

Sumber:

Malthus, T. R. (1798). An Essay on The Principle of Population. London: J. Johnson.

https://bisnis.tempo.co/read/1052480/klhk-jakarta-produksi-70-ribu-ton-sampah-per-hari

Go to top