Indonesia merupakan salah satu negara utama pengirim tenaga kerja migran internasional ke luar negeri. Diukur dari keuntungan ekonomi, migrasi tenaga kerja berdampak positif terhadap kondisi ekonomi keluarga migran maupun daerah asalnya. Tetapi kondisi ekonomi bukan satu-satunya dampak terhadap kehidupan keluarga. Dalam satu keluarga inti yang “utuh/lengkap”, umumnya terdiri dari bapak, ibu dan anak-anak, masing-masing anggota keluarga mempunyai peran dalam kehidupan dan ketahanan keluarga mereka. Karenanya ketidakhadiran salah satu anggota keluarga dewasa untuk jangka waktu yang lama akan berdampak terhadap kelangsungan dan daya tahan keluarga dalam kehidupan kesehariannya. Komitmen dalam mempertahankan kelangsungan keluarga akan lebih sulit dipertahankan jika anggota-anggota keluarga tinggal terpisah pada jarak yang cukup jauh, seperti pada kasus pekerja migran Indonesia (PMI).

Tulisan ini membahas upaya keluarga untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan secara normal dengan bermigrasinya salah satu pasangan (suami atau istri) dari satu keluarga inti, untuk bekerja di luar negeri. Upaya mempertahankan keberlangsungan kehidupan keluarga dimulai dari saat membuat keputusan untuk salah satu pasangan bekerja di luar negeri. Selanjutnya, pengelolaan kehidupan keluarga merupakan ‘sesuatu’ yang harus menjadi komitmen antara suami dan istri sebagai pasangan untuk menjaga kelangsungan keluarga. Ketidakberhasilan suami dan istri untuk mempertahankan komitmen dalam pengelolaan ‘keluarga transnasional’ ini dapat menimbulkan berbagai permasalahan yang berpotensi menyebabkan terjadinya perceraian.

 

Permasalahan dalam mengelola keluarga transnasional

Dua pemahaman tentang konsep keluarga yang umum adalah: (1) keluarga inti/batih (nuclear family), yang biasanya terdiri dari suami, istri dan anak-anak dan (2) keluarga luas (extended family) yang terdiri dari suami, istri, anak-anak serta kerabat lain dari pihak istri dan/atau suami. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO, 1992) menyatakan bahwa keluarga merupakan satu kesatuan unit pertalian keluarga yang meskipun anggota-anggotanya tidak tinggal bersama dalam satu rumah, masih mungkin ada sebagai realitas sosial. Kondisi ini dapat ditemukan pada kasus keluarga PMI yang salah satu anggotanya (suami, istri atau orang tua/mertua) bekerja di luar negeri sehingga tidak tinggal bersama dalam satu rumah. Namun, pada kenyataannya fungsi-fungsi keluarga, secara sosial, ekonomi, kemasyarakatan, masih tetap berjalan terutama di daerah asal PMI tersebut. Tentunya untuk mempertahankan fungsi-fungsi tersebut agar berjalan normal, keluarga PMI akan mengalami lebih banyak permasalahan dibandingkan keluarga non-PMI. Keluarga dengan salah satu anggotanya di luar negeri dapat disebut sebagai ‘keluarga transnasional’, karena pengelolaan fungsi-fungsi keluarga diatur melalui hubungan lintas negara dengan memanfaatkan berbagai macam media komunikasi.

Beberapa pemasalahan yang dihadapi oleh keluarga trasnasional dapat dijelaskan sebagai berikut (Garabiles, Ofreneo and Hall, 2017): (1). Bermigrasinya salah satu anggota keluarga untuk bekerja di luar negeri akan berkaitan dengan tekanan dan kesukaran yang dialami pekerja migran maupun seluruh anggota keluarga yang ditinggalkan. Migrasi tersebut mengganggu kemampuan keluarga untuk mempertahankan keakraban, seperti dalam pengasuhan anak, karena jarak fisik yang berjauhan atau terpisah. Perpisahan yang berlangsung pada jangka waktu yang panjang akan mempersulit keluarga untuk mengembalikan hubungan yang sudah terjalin sebelumnya dalam keluarga tersebut, ketika migran kembali ke kampung halamannya. (2). Pekerja migran maupun anggota keluarga yang ditinggalkan akan mengalami tekanan psikologis yang diekspresikan melalui perasaan kehilangan, kesedihan, ketidakberdayaan, kekhawatiran terkait keselamatan diri dan kondisi keluarga yang ditinggalkan, kerinduan pada rumah, serta perasaan bersalah karena meninggalkan keluarganya. (3). Gangguan-gangguan yang dihadapi migran maupun pasangan yang ditinggalkannya mengancam keberlangsungan hubungan perkawinan, maupun hubungan antara orang tua dan anak. (4). Anak-anak yang ditinggalkan merasa diabaikan/ditelantarkan oleh salah satu orang tua ataupun keluarga yang bekerja di luar negeri. Kondisi ini akan lebih terasa dalam keluarga luas/extended family. (5). Pekerjaan di luar negeri tidak menghasilkan cukup pendapatan untuk menjamin kehidupan migran di tempat kerja dan keluarga yang ditinggalkan. Pada banyak kasus, biaya migrasi yang dikeluarkan pekerja migran didapat dengan berhutang kepada keluarga lain sehingga hal tersebut menjadi beban yang memberatkan pekerja migran maupun keluarga yang ditinggalkan.

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi keluarga akan menyebabkan ketimpangan dalam keberlangsungan dan fungsi-fungsi keluarga yang utuh. Oleh karena itu, pekerja migran maupun anggota keluarga yang ditinggalkan perlu melakukan upaya-upaya untuk mempertahankan keberlangsungan kehidupan normal keluarganya. Jarak fisik yang berjauhan/terpisah membuat PMI melakukan ragam strategi untuk mempertahankan keberlangsungan keluarga mereka, salah satunya adalah melalui komunikasi lintas negara. Di bawah ini diuraikan beberapa upaya dari PMI dalam mempertahankan kelangsungan keluarga melalui komunikasi lintas negara.

 

Komunikasi lintas negara untuk mengelola rumah tangga

Salah satu dampak dari kepergian anggota rumah tangga, khususnya orang tua, untuk bekerja ke luar negeri dalam waktu relatif lama adalah terganggunya proses pengasuhan anak. Anak-anak PMI kehilangan figur ayah/ibu yang selama ini mendidik karena tidak bisa bertemu setiap hari di rumah. PMI dan anggota keluarga mereka yang ditinggalkan di daerah asal harus melakukan berbagai strategi agar kehidupan keluarga sehari-hari tetap berlangsung meskipun dengan keluarga yang tidak utuh.

Kemajuan teknologi memungkinkan anggota keluarga yang tinggal berjauhan di negara berbeda dapat terkoneksi setiap hari. Inilah yang dimanfaatkan oleh PMI dan keluarganya agar dapat berkomunikasi selama tinggal terpisah. Seorang isteri PMI di Cilacap yang ditinggalkan suaminya bekerja ke Korea Selatan mengemukakan bahwa suaminya menghubungi anak-anak mereka melalui panggilan video (video call) lebih dari tiga kali sehari. Kegiatan ini dilakukan agar anak-anak lebih sering “bertemu” dengan ayah mereka. Meskipun tidak ada hal-hal khusus yang dibicarakan, percakapan melalui panggilan video itu dapat mendekatkan hubungan anak-anak dengan ayah mereka yang berstatus sebagai PMI. Petikan wawancara berikut memperlihatkan komunikasi yang dilakukan oleh anak-anak dan ayah mereka yang telah bekerja di Korea Selatan selama hampir enam tahun.

Kita pasang IndiHome. Iya di rumah sini kita pasang. Dulu sebelum pindahan kita pasang IndiHome di rumah. Tiap hari. Tiap hari, tuh dari dulu. Pagi, siang, sore, malam telpon. Kita, kan nunggu dia waktunya istirahat. Jadi bangun tidur, istirahat siang, istirahat sore, pulang kerja, mau tidur, telpon. Hari-hari kayak gitu. Iya. Jadi nggak pernah yang namanya nggak telpon. Kalau Minggu kita full, malahan dari pagi sampai sore kadang, bisa langsung kesambung. Kalau hari kerja biasa, nggak. Nunggu dia istirahat.

(Sp, 32 tahun, Desa Danasri Kidul, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap)

Aktivitas yang sama juga dilakukan oleh (mantan) PMI yang bekerja di Taipei sebagai caregiver. Selama bekerja di luar negeri komunikasi dengan kedua anak yang ditinggalkan bersama suaminya di daerah asal dilakukan melalui panggilan video. Komunikasi dengan cara tersebut baru bisa dilakukan setelah PMI bekerja di Taipei selama satu tahun karena sebelumnya yang bersangkutan tidak mampu membeli telepon dengan sistem operasi Android. Selain untuk melepas rindu, panggilan video dilakukan untuk mengurangi rasa bersalah karena telah meninggalkan anak-anak dalam waktu lama. Dengan komunikasi melalui panggilan video, anak-anak PMI dapat mengungkapkan perasaan dan bisa merasakan keberadaan ibu diantara mereka, sebagaimana terlihat dalam kutipan wawancara berikut.

Iya, masih. Masih, ibu belikan, misalnya aku pingin boneka, misalnya seperti itu atau dia masih laporan bahwa di sekolah seperti ini. Kemudian, ibu kangen. Kapan pulang? Itu yang besar mengungkapkan itu. Kalau yang kecil, tidak. Dia hanya hura-hura seperti menyapa ntah siapa, yang kecil seperti itu. Karena memang tidak mengenali saya, kan. Memang dua tahun, kan saya tidak tahu memori anak itu masuk umur berapa. Tapi dulu saya tinggal memang baru lepas susu, Bu. Benar-benar baru lepas susu.

(Er, 43 tahun, Desa Karangjati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap).

Selain hubungan dengan anak-anak, komunikasi dengan pasangan yang ditinggalkan di daerah asal juga sangat penting untuk dijaga. Hal tersebut dilakukan agar keluarga dapat bertahan di tengah banyaknya tekanan yang mungkin timbul akibat suami isteri yang tinggal terpisah di negara berbeda. Pengelolaan uang kiriman, misalnya, merupakan salah satu sumber yang sering menimbulkan konflik dalam rumah tangga PMI, yang tidak jarang berujung pada perceraian. Dengan komunikasi yang baik, kesalahpahaman bisa dihindarkan, misalnya akibat ketidakpercayaan PMI terhadap pasangan dalam mengelola remintasi. Hal ini dikemukakan oleh ibu Sp seperti dalam kutipan wawancara berikut.

Jadi setiap kali ada pengeluaran berapa, suami dikasih tahu. Sisanya tinggal berapa, ya itulah. Jadi nggak mau yang namanya kau sembunyi-sembunyi pengen beli apa, berapa. Misalkan untuk jalan, apa, hang out sama teman, aku nggak. Sama sekali nggak berani. Istilahnya itu bukan milik aku. Tak patoki dari dulu kek gitu. Makanya alhamdulillah kayak, ya nuwun sewunya, ya. Kadang yang namanya ibu mertua, kan ada ya. Oh, suami di Korea, bla-bla-bla. Itu, kan ada.

(Sp, 32 tahun, Desa Danasri Kidul, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap)

Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mempertahankan keluarga yang hidup terpisah adalah kepercayaan terhadap pasangan. PMI yang pergi memberi kepercayaan sepenuhnya terhadap suami/isteri yang ditinggalkan dan selama berada di negara tempat bekerja harus bisa menjaga kepercayaan yang diberikan oleh pasangannya. Selanjutnya, pasangan yang ditinggalkan di daerah asal juga harus memberikan kepercayaan dan sebaliknya, menjaga kepercayaan yang diberikan oleh suami/isteri yang bekerja di luar negeri. Dengan demikian, masing-masing anggota keluarga dapat menjalankan peran mereka untuk mempertahankan keutuhan keluarga selama hidup dan tinggal berjauhan.

Lebih ke begini. Lebih ke saya meletakkan hubungan saya dengan suami ketika saya LDR itu lebih ke jadi apa, ya. Saya tidak mencampuri apapun yang ada di sini. Mau bagaimana diatur rumah ini itu karena saya tidak ada di sini makanya saya tidak akan mencampuri itu. Kecuali waktu itu saya sekali memang meminta bikin kamar mandi, gitu kan. Memang suami saya ngomong, saya mau bikin kamar mandi nih dan saya hanya request kamar mandinya yang besar. Itu saja, cuma itu saja. Tapi saya tidak mencampuri saya, itu nanti rumahnya dibikin seperti ini, anaknya dibelikan ini, disekolahkan. Saya menyerahkan itu semua ke sini.

(Er, 43 tahun, Desa Karangjati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap)

 

Teknologi komunikasi membantu mempertahankan kelangsungan keluarga

Terpisahnya anggota keluarga, terutama orang tua, karena bekerja di luar negeri menyebabkan keluarga menjadi tidak utuh. Hal ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kelangsungan kehidupan keluarga yang tidak jarang berujung pada perceraian suami isteri. Oleh karena itu, semua anggota keluarga harus melakukan upaya adaptasi untuk mempertahankan kelangsungan keluarga di tengah berbagai tekanan yang mungkin akan timbul.

Kemajuan teknologi memungkinkan anggota keluarga dapat berkomunikasi dengan mudah, tidak hanya secara audio melainkan juga dengan visual.Ini menyebabkan kedekatan antar anggota tetap terjaga, meskipun tinggal dengan jarak berjauhan. Pengasuhan anak masih bisa dilakukan orang tua yang bekerja sebagai PMI, meskipun dilakukan melalui komunikasi virtual. Hal yang sama juga terjadi dalam komunikasi antara suami dan isteri yang tinggal di daerah asal, dan sebaliknya.

Berdasarkan pembahasan di atas, terlihat bahwa komunikasi antar anggota keluarga menjadi menjadi isu yang penting untuk mempertahankan kelangsungan keluarga. Motivasi yang melandasi keberangkatan anggota keluarga untuk bekerja ke luar negeri juga berperan dalam menjaga ketahanan keluarga. Dengan motivasi yang kuat (sebagai contoh, untuk mengumpulkan modal usaha), semua anggota keluarga dapat berkontribusi dalam menjaga keutuhan keluarga sesuai dengan peran yang diharapkan dari masing-masing anggota, baik PMI yang bekerja di luar negeri maupun keluarga yang ditinggalkan di tanah air.

 

Ditulis oleh Aswatini dan Mita Noveria, Peneliti Demografi Sosial di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Daftar Bacaan

Garabiles, Melissa. R., Mira Alexis P. Ofreneo., Brian, J. Hall. 2017. Towards a model of resilience for transnational families of Filipina domestic workers. PLOS ONE. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0183703 August 24, 2017.

UNESCO. 1992. The changing family in Asia: Bangladesh, India, Japan, Philippines and Thailand. Bangkok: UNESCO Principal Regional Office for Asia and Pacific.

powered by social2s
Go to top