Pasar tenaga kerja sebagai tempat bertemunya pencari kerja (supply) dan penerima kerja (demand) saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat seiring dengan berbagai perkembangan penemuan teknologi. Berbagai penemuan teknologi tersebut dikenal mendorong berkembangnya istilah revolusi industri. Saat ini diskursus mengenai revolusi industri semakin meningkat dengan adanya penemuan internet sebagai tonggak awal revolusi industri 4.0.

Oleh karena itu betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan oleh suatu bangsa, karena penemuan tersebut tidak hanya berdampak terhadap perubahan sosial, budaya namun juga berpengaruh terhadap kondisi ketenagakerjaan. Kondisi industri yang bergitu cepat diikuti oleh pasar tenaga kerja saat. Dimana kondisi pasar kerja saat ini mengarah ke fleksibilitas tenaga kerja dimana lalu lintas tenaga kerja tidak hanya lintas daerah namun juga sudah lintas negara.

Perubahan industri maka diikuti dengan tuntutan profesionalitas tenaga kerja. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Emile Durkeim seorang Sosiolog dari Perancis, bagaimana pembagian kerja division of labour merupakan efek dari tuntutan produktivitas industri. Kemudian perubahan jenis kerja dan munculnya kerja baru tidak terelakkan. Mc Kinsey and Company melaporkan bahwa pada tahun 2030 diprediksi bahwa banyak jenis pekerjaan yang tergeser, sekitar 16 persen total jam kerja di Indonesia dapat diotomatisasi dengan mengadopsi teknologi.

Melihat hasil studi Mc Kinsey tersebut perlu menjadi perhatian khusus adalah bagaimana tenaga kerja Indonesia mampu mengadopsi dan memenuhi tuntutan pasar yang demikian besar dalam menguasai keterampilan dan teknologi.  Oleh karena itu Indonesia perlu membuat sistem yang mampu manjawab tuntutan dunia industri. Disamping itu harus berani mengembangkan potensi industri dalam negeri sehingga tidak bergantung kepada investasi luar negeri. Apalagi tuntutan banyaknya sertifikasi di dunia kerja internasional jelas membutuhkan pelatihan dan planning serta membutuhkan anggaran yang cukup besar. Jika hal tersebut tidak dapat dilakukan maka Indonesia tidak mampu mengambil adanya peluang perubahan teknologi ini. Disisi lain ketakutan akan adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal akibat perubahan teknologi (otomatisasi) tidak menjadikan sikap pesimis. Karena adanya otomatisasi dan penggunaaan internet memunculkan jenis pekerjaan baru dan membuat peluang-peluang baru.

Peluang Tenaga Kerja Indonesia

Peluang tenaga kerja Indonesia dalam persaingan di era digital saat ini terbuka sangat lebar jika beberapa hal berikut dapat dilewati. Pertama penyiapan SDM dan infrastruktur yang memadai. Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan melek teknologi merupakan prasyarat mutlak jika ingin memenangkan persaingan di era digital ini. Karena bagaimanapun juga penguasaaan teknologi akan menghadirkan kesiapan tenaga kerja Indonesia untuk bersaing. Karena adanya perkembangan teknologi akan memiskinkan dan memingirkan kepada individu yang tidak mengerti penguasaan teknologi di pasar kerja.  Just Job Network (2016:9) dalam studinya menjelaskan bahwa“Technology alone cannot pull marginalized workers out of poverty or grant them access to high-quality segments of the labor market”. Hal tersebut menjadi pembelajaran jangan sampai adanya perkembangan teknologi tersebut menjadi bencana dalam dalam sektor ketenagakerjaan.

Kondisi pasar kerja saat ini selain terampil juga dibuktikan dengan sertifikasi khususnya yang diakui di tingkat internasional. Sertifikasi tersebut sebagai pengakuan dan merupakan bagian dari cara kerja kapitalis. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja yang terampil.  Pembagian  kerja sebagai upaya dalam efisiensi dan bentuknya kondisi sekarang ini adalah dalam bentuk sertifikasi tersebut.

Penguatan pelatihan atau keterampilan tersebut melahirkan pusat-pusat pelatihan sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Tuntutan produktivitas dan efisiensi ini karena industri memerlukan investasi mesin yang cukup besar untuk menggantikan  tenaga manusia.  Kondisi industri saat ini, produksi di perusahaan tidak mengandalkan kapasitas jumlah tenaga manusia justru menumpuk mesin otomatis yang secara kontrol lebih mudah daripada mengontrol tenaga manusia. Hal tersebut misalnya jika mengandalkan buruh maka akan ada reaksi misalnya demonstrasi menuntut hak dan peraturan normatif  lainnya. Hal ini berbeda dengan menggantikannya dengan mesin dimana mesin tinggal disesuaikan dengan target produksi. Kondisi saat ini semua produksi mengarah ke digital dan otomatisasi  mesin tersebut.

Namun demikian penggantian mesin tersebut memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap dan unggul. Oleh karena itu dalam penggantian tenaga manusia ke mesin juga memerlukan waktu dan penyiapan kapasitas SDM. Apalagi industri saat ini mengarah ke pembagian kerja yang mengarah ke spesialisasi jika dihadapkan dengan kondisi saat ini. Spesialisasi membutuhkan proses yang cukup panjang berupa pelatihan.

Kecepatan perkembangan teknologi dan internet tersebut harus segera disikapi dan pemerintah harus memiliki road map yang jelas dalam mempersiapkan SDM dalam rangka untuk memenangkan persaingan di tingkat global. Apalagi adanya perkembangan teknologi tersebut maka akan semakin memperluas pembagian kerja sesuai dengan spesifikasi. Spesialisasi yang lebih mengandalkan keterampilan tersebut menjadi jantung dalam memenangkan persaingan.

Ditulis Oleh : Triyono - Peneliti Ketenagakerjaan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

powered by social2s
Go to top