Pemuda dalam Studi Sosial

Oleh: Vanda Ningrum*

 

Tulisan ini mengulas ringkas tentang konsep pemuda yang digunakan dalam beberapa studi sosil. Refleksi studi kepemudaan di Indonesia sendiri secara komprehensif telah dirangkum oleh Ben White dan analisisnya memberikan inspirasi kepada studi-studi pemuda yang dilakukan selanjutnya. Definisi pemuda dalam bahasan studi sosial tidak hanya sekedar penduduk berusia muda dengan batasan usia tertentu, tetapi mencakup suatu transisi kehidupan dan bahkan lebih besar lagi pemuda dapat diartikan sebagai perubahan besar. Dalam reviewnya, White menyoroti bahwa studi tentang kepemudaan saat ini cenderung memandang pemuda dengan cara yang konvensional, yaitu dengan memandang pemuda sebagai periode transisi dari periode anak-anak menuju dewasa, dari pendidikan menuju pekerjaan, dan dari keluarga asal menuju keluarga tujuan (Lyod, 2005 ; Robert, 2009).

Pandangan tersebut dikritik oleh Naafs dan White (2008) yang beranggapan bahwa pemuda tidak selalu melihat dirinya dengan cara yang demikian (transisionalitas), Pemuda cenderung mengembangkan budaya dan identitas sendiri serta berusaha agar tampak berhasil didepan rekan-rekannya sebagai pemuda. Pandangan ini sangat bertentang dengan studi konvensional yang hanya menyiapkan pemuda menjadi orang dewasa yang berhasil dari masa transisinya tersebut. Bukan hanya untuk pemuda di pedesaan, kritik Naafs dan White juga terlihat dari studi gaya hidup kelas menengah usia muda di perkotaan. Keberhasilan anak muda untuk masuk dalam kelas sosial dinyatakan dengan gaya hidup yang dapat diterima oleh kelompok pemuda pada kelas sosial tersebut, gaya hidup seperti ini terlihat dari pola konsumerisasi pemuda yang sering “nongkrong” di “kafe” atau mengikuti keanggotan klub tertentu seperti “gym” (Ansori, 2009). Hal ini diperkuat oleh survey kelompok muda kelas menengah muda di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang memperlihatkan bahwa pengeluaran terbesar kelompok sosial ini adalah konsumsi sekunder seperti hiburan, makanan, dan kebutuhan sekunder lainnya (Ningrum dkk, 2014).

Konsep lain yang digunakan untuk melihat pemuda secara lebih mendalam ditemukan juga dalam studi Koning tahun 1997. Konning memandang pemuda sebagai dimensi “generasi”. Ada tiga makna penting yang diperhatikan dalam dimensi generasi tersebut, Pertama, pengertian sebagai sekolompok usia tertentu (didefinisikan secara biologis). Kedua, memandang pemuda sebagai relasional (Alanen, 2001), yaitu tidak hanya melihat perbedaan antara pemuda dan orang dewasa, melainkan melihat pemuda bukan hanya sebagai katagori

deskriptif belaka tetapi dengan konsep teoritis dimensi relasional dan fenomena struktural seperti kelas sosial dan menjadikan pemuda sebagai katagori sosial yang memiliki relasi-relasi, perbedaan, dan ketimpangan dengan katagori sosial lainnya. Ketiga, memandang pemuda sebagai katagori sosial yang relevan dengan sejarah perjuangan Indonesia seperti melihat pemuda sebagai kelompok perjuangan antara lain kelompok pemuda angkatan 45, angkatan 65 dan sebagainya (Naafs dan White, 2008).

Sementara itu, di masyarakat pedesaan pertanian padi di Jawa Tengah memandang pemuda adalah anak muda yang telah memasuki usia sekolah menengah hingga mereka belum menikah. Meskipun telah melebihi usia 35 tahun namun belum menikah, masyarakat memandangnya sebagai pemuda. Sementara bagi pemuda yang telah menikah pada usia 25 tahun misalnya sudah dianggap bukan lagi sebagai pemuda.

Di tengah komprehensifnya konsep pemuda dalam berbagai studi sosial, organisasi-organisasi internasional menyederhanakan definisi pemuda. Sebagai contoh, PBB dan ILO mendefinisikan pemuda adalah penduduk berusia 15-24 tahun, batas usia 15 tahun sendiri tumpang tindih dengan definisi anak yang berusia 0-17 tahun. Begitu juga dengan perundang-undangan kepemudaan nomor 40 tahun 2009 pasal 1.1. yang mendefinisikan pemuda berusia 16 – 30 tahun, perbedaan definisi tersebut akan menghasilkan kerancuan jika digunakan dalam pengambilan kebijakan. Ketika menyatakan pengangguran usia muda menggunakan definisi ILO tentu akan berbeda dengan konsep pemuda dalam undang-undang kepemudaan, begitu juga dengan program-program pembangunan pemuda, perbedaan kepentingan bisa menimbulkan persepsi yang beda dalam target program tersebut. Berdasarkan diskursus studi kepemudaan tersebut, penentuan pemuda berdasarkan definisi murni demografis seperti hanya batas usia terlibat mengabaikan analisis kepemudaan dalam struktur sosial saat ini.

Daftar pustaka

    Ansori, M.H. (2009) Consumerism and the Emergence of a New Middle Class in Globalizing Indonesia. Volume 9, Spring 2009.

    Koning, J. (1997) Generation of Change: A Javanese Village in the 1990s, phD Thesisi, University of Masterdam

    Naafs, S. & White, B. (2012) Generasi Antara: Refleksi tentang Studi Pemuda Indonesia.

    Ningrum, dkk. (2014) Pola Pengeluaran dan gaya Hidup Penduduk Muda Kelas Menengah. Jurnal Kependudukan Indonesia Vol 9 No 2, 2014.

    White, B. (2016) Generation and Social Change: Indonesian Youth in Comparative Perspective dalam buku Youth Identities and Social Transformations in Modern Indonesia editor K. Robinson. KTLV: Leiden.

 

*) Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Terpopuler

PPK LIPI on Twitter

Go to top