#CatatanDariLapangan Sebuah ceruk pantai kecil di wilayah Timor Tengah Selatan (TTS) terlihat begitu indah, khususnya pasir putih dan air laut yang dari kejauhan jernih, biru muda hingga biru yang menandakan kedalaman. Tetapi hal yang menarik bagi mereka yang melewati ceruk tersebut adalah tumpukan batu-batu putih, pasir laut, rumah-rumah beratap rumbia, dan tentu saja orang-orang yang ada disitu. Aktivitas lelaki, perempuan dan anak-anak yang bekerja di tengah teriknya situasi pantai pada akhir Juni 2019, khususnya aktivitas mengumpukan berbagai ukuran batu warna putih dan pasir. Secara kasat mata, kesan kehidupan yang sulit dan keras dapat diamati dan dirasakan. Terlihat orang-orang yang bekerja keras.

Kampung kecil itu bernama Kampung Boe Sae, hanya ada beberapa perahu di pinggir pantai, rumah-rumah semi permanen. Tetapi ketika bertemu dengan beberapa orang yang ada di pantai itu, kita dapat menemukan sebuah perjuangan kehidupan yang keras, khususnya di kabupaten  TTS yang mempunyai tingkat kemiskinan yang tinggi. Dibalik kemiskinan yang tinggi itu, kita dapat bertemu dengan orangh-orang yang bekerja keras memperathankan hidupnya dengan cara mengusahakan apapun yang disediakan alam, maupun mata pencahrian lainnya.

Screenshot_2019-07-01_at_07.14.45.png

Seringkali kita melihat batu batu kecil yang menghiasi berbagai taman di kota-kota besar, termasuk di Bali dan Surabaya. Batu-batu dan pasir pantai ini juga dihasilkan dari kampung kecil Boe sae. Harga batu berkisar antara Rp 8.000 – Rp 12,000 per karungnya,  tentunya ukuran batu mempunyai harga yang berbeda. Dengan menjual batu batu seperti itulah mereka mempertahankan hidupnya, laki laki, perempuan dan anak-anak. Tetapi ketika mendalami kehidupan mata pencaharian hidupnya, memang ada yang mengambil ikan di laut, menanam cabai rawit dan tembakau, pemelihara ternak sapi dengan sistem bagi hasil. Tetapi, sesekali mereka juga mendapatkan penyu yang diambil daging dan kulitnya, tetapi sudah dilarang oleh polisi.

#LIPI #kependudukan #riset #observasi #ceritadarilapangan #antropologi

Herry Yogaswara, Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

powered by social2s
Go to top