“Poverty has many faces, changing from place to place and across time, and has been described in many ways” (World Bank, 1995). Pernyataan tersebut memberikan kita kesan bahwa kemiskinan memiliki makna yang beragam, dihitung dengan cara yang beragam, dan diselesaikan dengan cara yang beragam juga. Artikel ini akan mencoba memberikan penjelasan ringkas bagaimana kemiskinan dimaknai dalam berbagai perspektif, baik global, nasional, dan lokal.

Mowafi (2015) merumuskan empat konsep kemiskinan yang secara umum banyak digunakan dalam literatur akademik maupun institusi internasional, yaitu kemiskinan yang dilihat dari pendapatan (income poverty), kualitas sumber daya manusia (human poverty), kehilangan kemampuan (capabilities deprivation), dan konsep partisipatori dari orang miskin (voice of the poor).

Income poverty, melihat kemiskinan dalam dua pendekatan. Pertama, pendekatan absolut, yaitu menghitung kemiskinan berdasarkan minimum standar kebutuhan, misalnya pendapatan 1,9 dolar perhari. Mereka yang memiliki pendapatan kurang dari 1,9 dolat per hari per orang dikatakan masuk dalam katagori orang miskin. Di tahun 2015, World Bank mencatat terdapat 10% populasi di dunia masuk dalam katagori miskin karena memiliki pendapatan kurang dari 1,9 dolar per hari. Kedua, pendekatan relatif, yaitu melihat kemiskinan individua tau masyarakat tertentu relatif dengan seluruh masyarakat yang ada. Dari kadua pendekatan tersebut, pendekatan absolut dianggap metode yang paling mudah dan sering dijadikan sebagai indicator untuk mengurangi tingkat kemiskinan di dunia, sedangkan pendekatan relatif jarang dijadikan acuan dalam program pengentasan kemiskinan, karena sulit untuk dapat membuat setiap individu di dunia ini memiliki standar kehidupan yang sama (Sharpe, 2016).

Kritik terhadap konsep kemiskinan absolut yang menyatakan bahwa kemiskinan tidak hanya bisa dilihat dari pendapatan 1,9 dolar melainkan harus lebih memahami kemana uang tersebut dibelanjakan, karena banyak ditemukan orang mengalami gizi buruk, ketidakmampuan membaca, dan kematian di usia muda, dimana kondisi tersebut tidak serta merta dapat dilihat dari pendapatan absolut tersebut. Menanggapi kelemahan tersebut, UNDP menggunakan metode perhitungan kemiskinan dengan melihat kualitas manusia yang dilihat dari short life, kurangnya akses pendidikan, akses public, dan akses sumber daya lainnya (Mowafi, 2015). Pendekatan human poverty ini lebih melihat pada indicator-indikator kesejahteraan manusia dan memberikan wawasan untuk membuat kebijakan investasi yang menyasar pada peningkatan keseharan, Pendidikan, lapangan kerja, dan akses publik lainnya.

Kakwani (2006) memperkenalkan konsep baru untuk melihat kemiskinan dengan mengggunakan konsep kehilangan kemampuan (capabilities deprivation). Kehilangan kemampuan ini diartikan sebagai kehilangan kemampuannya yang memadai untuk menguasai sumber daya yang ada di pasar, publik, dan saluran lainnya. Contoh capabilities deprivation adalah orang kaya yang mengalami musibah kemudian berakibat cacat menyebabkan orang tersebut tidak mampu melakukan kegiatan ekonomi maupun sosial. Orang yang tidak mampu tersebut kemudian dianggap menjadi miskin karena pendapatannya berkurang. Konsep ini menarik sebagai tambahan informasi untuk mengetahui apa yang menyebabkan kemiskinan terjadi, sehingga kebijakan tidak hanya focus pada permasalahan structural, melainkan juga penting untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kemiskinan karena capabilities deprivation.

Laporan studi yang diungkapkan oleh Mowafi (2015) juga menjelaskan bahwa dalam debat akademik global terdapat dorongan kuat untuk memasukkan perspektif orang miskin dalam proses membentuk sebuah definisi kemiskinan yang praktis dan relevan. Voices of the Poor didasarkan pada premis bahwa "orang miskin adalah ahli kemiskinan sejati," studi ini secara sistematis menganalisis data kualitatif terbuka yang diperoleh dengan menggunakan metode partisipatif untuk mencari prioritas paling miskin dari orang miskin dalam menggambarkan realitas mereka. Studi ini kemudian dikembangkan oleh World Bank, meskipun hingga saat ini kebijakan untuk mengukur kemiskinan masih didominasi oleh perhitungan pendapatan absolut.

Berbagai pengertian kemiskinan dalam perspektif global tersebut tidak semuanya diadopsi oleh suatu negara. Setiap negara memiliki kepentingan sendiri untuk mendefinisikan kemiskinan sesuai dengan kondisi ekonomi, politik, dan sosial penduduknya. Sebagai contoh, Kanada, negara ini tidak memiliki metode perhitungan kemiskinan yang formal, mereka mendefinisikan penduduk low income adalah yang memiliki pendapatan kurang dari setengah dari median pendapatan penduduknya dan tercatat 14,9% penduduk kanada berada dalam hidup miskin (Sharpe, 2016). Persentase ini lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat penduduk miskin Indonesia sebesar 10%. Meskipun demikian, rata-rata pendapatan penduduk Kanada jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia, sehingga penduduk miskin di Kanada belum tentu tergolong miskin di Indonesia.

Di Indonesia, banyak pengertian tentang kemiskinan, namun data formal yang digunakan untuk menunjukkan angka kemiskinan adalah menggunakan metode kemiskinan yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS). kriteria keluarga miskin dengan metode BPS menggunakan pendekatan basic needs (dasar keinginan), hal ini dikarenakan kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar. Batas kecukupan pangan dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk makanan yang memenuhi kebutuhan minimum energi 2100 kalori perkapita perhari. Batas kecukupan non makanan dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk non makanan yang memenuhi kebutuhan minimum seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi, dll. BPS juga menentukan 14 kriteria rumah tangga miskin yang mencakup kriteria makanan dan non makanan.

Setiap program pengentasan kemiskinan di Indonesia pada dasarnya menggunakan data dasar kemiskinan BPS ini, namun dimodifikasi sesuai dengan tujuan dari program tersebut, sebagai contoh untuk memutus kemiskinan antar generasi, maka penghitungan penduduk miskin yang menerima bantuan langsung ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup generasi selanjutnya dari keluarga miskin, sebagai contoh bantuan Program Keluarga Harapan hanya dikhususnya untuk Pendidikan anak, kesehatan ibu hamil, kesehatan balita, meskipun juga tidak menutup kemungkinan untuk lansia miskin dan penderita disable.

Pengertian kemiskinan yang digunakan di tingkat nasional tersebut, tidak serta merta memperlihatkan kemiskinan di dalam perspektif lokal. Sebagai ilustrasi, masyarakat Suku Baduy jika dilihat dengan menggunakan kriteria BPS bisa dikatagorikan dalam penduduk miskin, karena jenis lantai tempat tinggal mereka terbuat dari tanah, dinding rumah dari bamboo, tidak memiliki fasilitas buang air besar, sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik, sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan, dll. Meskipun demikian, kemiskinan yang dialami Suku Baduy tidak sepenuhnya disebabkan karena ketidakmampuan secara ekonomi, karena mereka justru memiliki tanah adat untuk tempat tinggal dan kegiatan pertanian dimana hasilnya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Suku Badut, kemiskinan disini lebih disebabkan karena perilaku dalam memegang teguh adat. Dari kacamata penyebab kemiskinan, faktor kultural yang menyebabkan Suku Baduy menjadi miskin.

Perbedaan kemiskinan dalam perspektif global, nasional, dan lokal tersebut menggambarkan bahwa kebijakan penanggulangan kemiskinan di tingkat global tidak serta merta dapat diaplikasikan ke dalam suatu negara atau bahkan ke tingkat lokal. Meningkatkan partisipasi sekolah pada Suku Baduy tidak cocok diterapkan karena budaya Suku Baduy melarang anak-anak mereka terpapar modernisasi termasuk sekolah. Dibutuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kemiskinan untuk menerapkan program pengentasan kemiskinan, penggunaan data kuantitatif seperti yang digunakan oleh World Bank dan BPS perlu diperkaya juga dengan data kualitatif untuk mengetahui prioritas paling miskin dari orang miskin dalam menggambarkan realitas mereka seperti pada pendekatan voice of the poor.

Vanda Ningrum, Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

powered by social2s
Go to top