Pemilihan makanan suatu komunitas sangat erat kaitannya dengan hasil pertanian di wilayah setempat (Deller, dkk., 2017). Wilayah Asia bagian selatan yang cocok untuk pertanian padi sehingga beras menjadi makanan pokoknya. Sementara, Eropa dan Amerika dapat ditumbuhi gandum sehingga gandum menjadikan makanan pokoknya. Cara penyajian makanan hasil pertanian juga disesuaikan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam masyarakat tersebut. Di Jawa, beras terlebih dahulu dimasak dengan air sampai menjadi nasi setengah matang. Selanjutnya, nasi setengah matang dikukus sampai matang. Kegiatan tersebut merupakan proses memasak yang diperkenalkan pada masa praislami sebagai simbolis Baratayuda (Jákl, 2015). Meskipun pada masa modern saat ini, cara dan peralatan untuk memasak nasi tersebut telah digantikan dengan teknologi yang lebih modern, namun cita rasa dan hasil olahan tetap menyerupai kebiasaan dari nenek moyang sudah terinternalisasi pada generasi penerusnya.

Selain padi, sebelum masa revolusi hijau, petani Kabupaten Klaten juga menanam berbagai jenis pangan, seperti jagung, kedelai, tebu, dan holtikultura lainnya sehingga petani pada saat itu bersifat subsistence. Sejak kebijakan revolusi hijau, produksi padi ditargetkan untuk swasembada nasional sehingga mengubah seluruh areal pertanian di Klaten menjadi sawah dan sebagian kecil dijadikan kolam ikan. Saat ini, Klaten menjadi salah satu lumbung padi nasional untuk beras. Akses beras untuk konsumsi sehari-hari sudah dapat terpenuhi dari hasil pertanian lokal. Namun, kegagalan diversifikasi pertanian pangan lainnya membuat masyarakat Klaten sangat tergantung pada beras dan pemenuhan kebutuhan pangan lainnya harus dibeli dari luar wilayah. Pertanian subsistence juga sudah hampir menyusut karena para petani sudah menganggap pertanian sebagai usaha keluarga untuk mendapat penghasilan yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, termasuk untuk memperoleh pangan.

Di pedesaan Kabupaten Klaten, sebagian besar rumah tangga memperoleh pangan sehari-hari dengan membeli, baik untuk kebutuhan protein maupun karbohidrat. Kebutuhan protein nabati diperoleh dari konsumsi tahu dan tempe. Sementara, kebutuhan protein hewani dari konsumsi unggas, seperti ayam dan bebek. Ikan dan jenis pangan laut lainnya, termasuk jenis pangan yang sedikit dikonsumsi. Hal tersebut disebabkan sebagian besar responden yang diwawancarai di desa menyatakan bahwa pengolahan ikan (memasak) membutuhkan waktu yang lebih lama dan kemampuan memasak yang lebih untuk menghasilkan cita rasa yang enak, meskipun ketersediaan ikan segar di pasar sangat banyak. Nutrisi sayuran sebagian besar juga diperoleh dengan membeli di pasar karena pekarangan yang dimiliki tidak digunakan untuk menanam sayuran. Saat dikunjungi oleh tim peneliti di Desa Sumyang, beberapa rumah yang mempunyai balita stunting terlihat tidak mempunyai halaman yang cukup untuk bercocok tanam di tanah dan sebagian masyarakat belum terbiasa untuk menanam dengan menggunakan tanaman di pot atau jenis hidroponik lainnya. Hal yang berbeda terjadi pada pemenuhan kebutuhan karbohidrat. Sebagian besar pemenuhan kebutuhan karbohidrat diperoleh dari beras yang diproduksi sendiri di Klaten. Sebagai salah satu wilayah lumbung padi nasional, Klaten mampu menyediakan beras yang cukup untuk kebutuhan penduduknya, bahkan sebagian besar mampu dijual di luar kabupaten.

Hasil wawancara yang dilakukan kepada responden yang telah berusia 60 tahun keatas, menyatakan bahwa mereka menyajikan makanan untuk keluarga dengan cara memasak sendiri. Sebagian besar kebutuhan sayuran diperoleh dengan menanam di pekarangan atau pematang sawah, sementara kebutuhan beras diperoleh dari sawah sendiri. Pemenuhan kebutuhan protein hewani berasal dari unggasn dari ternak sendiri dan dikonsumsi pada hari-hari tertentu saja, seperti hari raya atau saat ada kegiatan keluarga besar ataupun kegiatan kemasyarakatan. Budaya wanita menyediakan makanan untuk keluarga dengan memasak sendiri masih sangat kental dan kemampuan memasak bagi wanita pada zaman dahulu sangat penting, khusunya bagi wanita yang akan menikah.

Kondisi tersebut berbeda dengan saat ini. Hasil wawancara kepada ibu-ibu yang berusia antara 20–40 tahun yang mempunyai anak balita penderita stunting menunjukkan bahwa tidak seluruh makanan sehari-hari diperoleh dengan memasak. Sebagian pangan diperoleh dengan cara membeli makanan siap untuk disaji. Pada awalnya, budaya membeli makanan yang siap saji ini disebabkan ibu-ibu di desa juga bekerja di luar rumah untuk mencari pendapatan tambahan sehingga waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan domestik rumah tangga menjadi berkurang.

Masuknya perempuan dalam dunia kerja di desa-desa klaten mempunyai dampak pada perubahan budaya dalam penyajian makanan keluarga. Perubahan ini dapat dilihat dari kacamata modernisasi yang terjadi di pedesaan, yaitu perubahan desa dari single activity, yaitu pertanian, menjadi multi activity yang mengandalkan kegiatan ekonomi dari kegiatan pertanian dan non-pertanian (Ningrum, 2017). Di era reformasi, proses modernisasi dapat dianalisis dari program pembangunan desa yang bergeser dari pendekatan top-down menjadi buttom-up melalui proyek pemberdayaan masyarakat desa (PMD). Selain pemberdayaan di sektor pertanian, program-program pemerintah juga mengarah pada sektor lainnya, seperti perdagangan, jasa, dan industri skala kecil dan menengah. Sampai dengan pemerintahan pascareformasi, pembangunan desa telah mengubah wajah desa yang sebelumnya tradisional, di mana masyarakat desa masih sangat tergantung hidupnya pada alam khususnya pertanian, menjadi desa yang swasembada, dimana interaksi desa dengan masyarakat di kota menjadi sangat lancar. Pada desa swasembada ini, mata pencaharian penduduk mulai beragam, tidak hanya pada pertanian, tetapi juga sektor lainnya, seperti industri manufaktur, perdagangan, dan jasa.

Rigg, dkk. (2001) menyebutkan bahwa keberagaman aktivitas dan diversifikasi pekerjaan di banyak pedesaan di Asia banyak dipengaruhi oleh kemajuan industrialisasi yang pesat yang membutuhkan tenaga kerja besar sehingga penduduk desa mulai beralih ke sektor industri. Selain itu, penghasilan pekerjaan non-pertanian lebih dapat diandalkan dan menjanjikan dibandingkan dengan penghasilan dari pertanian. Meskipun aktivitas di desa telah beragam, sektor pertanian tetap menjadi sumber penghidupan yang utama di desa. Sebagian besar masyarakat desa, khususnya di desa pertanian padi, termasuk dalam katagori petani kecil. Kategori pertanian kecil adalah petani dengan luas penguasaan lahan kurang dari satu hektare, meskipun tidak lagi sepenuhnya menggunakan tenaga kerja dari keluarga, seperti definisi Chayanov (1925), namun manajemen pengelolaan lahan tetap dilakukan pada level keluarga (Brookfield, 2008).

Perubahan struktur ekonomi dan sosial di desa, khususnya di Jawa, sudah tidak dapat lagi mengandalkan pertanian sebagai satusatunya mata pencaharian utama dan sumber pendapatan keluarga. Sebagian besar terdapat rumah tangga desa yang mempunyai kepala keluarga sebagai petani, namun juga tetap mempunyai pekerjaan sampingan, seperti buruh pabrik, pegawai bank, dan lain sebagainya. Desa tidak lagi didominasi kegiatan pertanian sebagai mata pencaharian utama penduduknya, namun lebih beragam sumber pendapatannya.

Sebelumnya, rumah tangga hanya mengandalkan kepala rumah tangga sebagai pencari nafkah keluarga, namun saat ini, istri juga terlibat dalam dunia kerja. Kesempatan kerja perempuan di desa semakin luas dengan masuknya pabrik-pabrik yang membutuhkan tenaga kerja perempuan. Letak geografis Klaten yang strategis dan ketersediaan pasokan tenaga kerja menjadi daya tarik bagi industri tekstil untuk mengoperasikan pabriknya di wilayah Klaten. Selain itu, terdapat pertumbuhan sektor perdagangan yang banyak melibatkan perempuan.

Vanda Ningrum, Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

*) Tulisan ini merupakan bagian dari Artikel Ilmiah dengan judul 'Akses Pangan dan Kejadian Balita Stunting : Kasus Pedesaan Pertanian di Klaten' yang dapat diakses pada http://www.jurnalpangan.com/index.php/pangan/article/view/424/353

powered by social2s
Go to top