Hari Laut Dunia (Ocean World Day) diperingati setiap tanggal 8 Juni mulai dari tahun 2008[1]. Tahun ini tema hari laut dunia adalah “Innovation for Sustainable Ocean”. Laut yang lestari sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) no 14 yaitu menjaga ekosistem laut.

Mengapa kita harus peduli akan kelestarian laut? Tentu saja karena laut banyak memberikan manfaat kepada manusia. Dari udara yang kita hirup setiap hari, 50 persennya diproduksi oleh laut; sebanyak 10 gigaton karbondioksida (CO2) dari atmosfer diserap oleh laut setiap tahunnya; dan laut juga dapat menyerap panas matahari dalam jumlah yang besar (membantu mengatur iklim global); laut memiliki kenanekaragaman hayati yang melimpah dan juga merupakan sumber pangan manusia, untuk protein hewani saja secara global mencapai 16 persen dari konsumsi total; selain itu, laut juga memberikan pekerjaan bagi banyak orang di dunia (perikanan, pariwista, transportasi; energi dll) dan juga sumber obat bagi manusia termasuk kanker, Alzheimer, jantung dan arthristis. [2][3]

Namun pada kenyataanya keberlanjutan sumber daya laut mengalami gangguan, berbagai permasalahan seperti perubahan iklim, pemanasan global di laut, banyaknya pencemaran laut, meningkatnya asidifikasi, turunnya kandungan oksigen, terjadinya overfishing, penangkapan ikan dengan alat yang merusak lingkungan, illegal fishing dan lain sebagainya[4]. Efek terdekat yang bisa diukur adalah, hampir separuh dari pasokan perikanan tangkap di Indonesia telah tereksploitasi, dan setidaknya tujuh dari 11 WPP (Wilayah Pengelolaan Perikanan) menunjukkan ekspansi produksi yang tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat(19). Artinya bahwa penangkapan ikan yang sah bahkan dapat menghabiskan sumber daya laut jika tidak dikelola dengan baik.Oleh karena itu menurut jaringan pakar World Economic Forum [4] kebijakan yang inovatif, kepemimpinan yang kuat, dan teknologi disruptif dapat membantu dalam mencapai tujuan dari SDGs,yaitu sumber daya laut yang lestari dan lebih baik di masa mendatang.

Upaya pelestarian laut bertujuan agar laut dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin tanpa mengurangi manfaatnya bagi generasi mendatang. Saat ini saja secara global terdapat 3 milyar orang yang penghidupannya bergantung pada laut diantaranya termasuk keluarga nelayan[3]. Laut yang lestari setidaknya dapat menopang kehidupan perekonomian masyarakat, khususnya keluarga nelayan yang menggantungkan hidupnya dari sumberdaya laut.  Sebagai negara kepulauan, di Indonesia diperkirakan ada sekitar 856 ribu yang dikelompokkan sebagai keluarga nelayan[5].

 

Kompleksitas Kemiskinan Keluarga Nelayan

Perikanan tangkap adalah suatu perkerjaan dengan ketidakpastian dan risiko yang tinggi dan juga merupakan pekerjaan yang tidak aman[6][7]. Ketidakpastian terkait keberadaaan sumber daya ikan yang merupakan fugitive resources / sumber daya yang bergerak terus[8] ditambah dengan deplesi sumber daya ikan akibat overfishing maupun degradasi lingkungan yang terjadi tentunya akan mempengaruhi penghidupan nelayan dan keluarganya.

Data Susenas 2017 menunjukkan nelayan merupakan kelompok masyarakat yang paling miskin[9]. Kondisi ini dapat terlihat dari kesehariannya yang mengandalkan hasil tangkapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Hampir sebagian besar nelayan tangkap miskin mengandalkan hidupnya pada laut, tanpa memiliki sumber penghidupan lainnya. Dalam kegiatannya mencari ikan, nelayan kecil juga mempunyai keterbatasan alat tangkap, modal yang terbatas hingga pengelolaan hasil tangkapan. Hasil yang didapat dari laut, selain untuk konsumsi keluarga, biasanya dijual langsung tanpa proses pengolahan yang menambah nilai jual. Selain itu, lebih dari 70 persen nelayan tangkap berpendidikan rendah[5], sehingga mempersulit mereka dalam menyerap teknologi modern. Segala keterbatasan inilah yang pada akhirnya memengaruhi pendapatan dan kesejahteraan keluarga nelayan tangkap[10].

Kemiskinan pada keluarga nelayan bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, namun terjadi akibat kebijakan masa lalu yang terlalu terkonsentrasi pada pembangunan wilayah darat sehingga menjadikan kelautan dan perikanan sebagai sektor pinggiran[11]. Keluarga nelayan tangkap skala kecil biasanya memiliki prolem dan ritme kehidupan yang khas, yaitu dihadapkan pada kondisi alam yang keras dan tidak terjangkau oleh program pemerintah[10]. Kondisi ini yang menyebabkan nelayan tidak bisa keluar dari lingkaran kemiskinan, bahkan menjadi semakin miskin hingga ke anak cucunya.

Sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan yang sangat terbatas di wilayah pulau-pulau kecil maupun pesisir mengakibatkan kualitas sumberdaya manusia di wilayah ini sangat terbatas. Keluarga nelayan belum memandang arti penting pendidikan bagi masa depan anak keturunannya. Mereka masih beranggapan bahwa untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan tidak perlu mempunyai latar belakang pendidikan formal yang tinggi. Dalam pikiran mereka, yang terpenting adalah bisa bekerja (menangkap ikan), mendapatkan penghasilan, dan bisa makan setiap hari [12] (Sudrajat, 2013).

Berbagai kajian membuktikan bahwa tekanan kemiskinan yang melanda kehidupan keluarga nelayan disebabkan oleh faktor-faktor yang kompleks. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berkaitan dengan fluktuasi musim ikan, keterbatasan sumber daya manusia, modal serta akses, jaringan perdagangan ikan yang eksploitatif terhadap nelayan sebagai produsen[13][14], tetapi juga disebabkan oleh dampak negatif modernisasi perikanan atau revolusi biru yang mendorong terjadinya pengurasan sumber daya laut secara berlebihan.

Proses demikian masih terus berlangsung hingga sekarang dan dampak lebih lanjut yang sangat terasakan oleh nelayan adalah semakin menurunnya tingkat pendapatan mereka dan sulitnya memperoleh hasil tangkapan. Hasil-hasil studi tentang tingkat kesejahteraan hidup di kalangan nelayan telah menunjukkan bahwa kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi atau ketimpangan pendapatan merupakan persoalan krusial yang dihadapi dan tidak mudah untuk diatasi[14, 15,16,17].

 

Kesejahteraan Keluarga Nelayan dan Kelestarian Sumberdaya Laut

Kelestarian sumber daya laut  dalam hal ini sumber daya ikan tidak terlepas dengan pengelolaan yang bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan baik untuk generasi sekarang  maupun generasi di masa mendatang[18]. Pengelolaan sumber daya laut yang baik menurut Anna[18] perlu memperhatikan prinsip kehati-hatian (Precautionary Principles), mensyaratkan konservasi sumber daya ikan dan membatasi laju penangkapan ke tingkat yang berkelanjutan. Menghitung jumlah ketersediaan sumber daya (stok) dan jumlah tangkapan lestari penting dilakukan.

Indonesia telah menerapkan rejim maximum sutainable yield (MSY) sebagai referensi point[18]. Namun banyak kelemahan dari MSY sehingga perlu dikembangkan instrumen yang mengimplementasikan kelestarian sumber daya laut yaitu instrumen resource accounting yang membantu menyediakan alat ukur yang tepat mengenai nilai total dari sumber daya perikanan itu baik secara fisik (ton) maupun monter (rupiah), sehingga pemerintah dapat menentukan alokasi yang tepat baik dari skala spasial dan waktu[18].

Selain itu perlu, juga solusi alternatif untuk meningkatkan sumber daya manusia di wiayah pesisir dalam jangka pendek,  yaitu pendidikan untuk anak nelayan tidak bisa diseragamkan, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi aktual masyarakat setempat. Model pembelajaran yang dikembangkan adalah pembelajaran yang berorientasi pada life skill (kecakapan hidup) yang memberikan bekal dasar dan latihan tentang nilai – nilai untuk bisa menanggulangi permasalahan dalam kehidupan Salah satu contohnya adalah bagaimana anak nelayan dibekali kecakapan hidup untuk mengelola keuangan sehingga dapat mengurangi kebiasaan hidup yang cenderung konsumtif. Dalam jangka panjang, upaya untuk meningkatkan pendidikan formal masyarakat pesisir tetap dilakukan dengan membedah faktor – faktor yang mempengaruhi rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang arti penting pendidikan.

Instrumen yang tepat setidaknya akan menjamin keberlanjutan sumber daya laut yang akan membantu dalam kesejahteraan keluarga nelayan. Menjamin akses yang adil bagi keluarga nelayan khususnya nelayan skala kecil terhadap pasar, informasi, pendidikan, dan bantuan finansial akan membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan khususnya nelayan kecil. Selain itu, untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, selain pelestarian sumber daya laut, hal lain perlu diperhatikan adalah kebijakan yang memperhatikan karakteristik dan kebutuhan keluarga nelayan secara spesifik. Dengan demikian diharapkan keluarga nelayan dapat keluar dari kemiskinan yang sudah turun temurun.

 

Ditulis oleh Intan Adhi Perdana Putri, Inayah Hidayati, Augustina Situmorang, Widayatun & M. Wahyu Ghani - Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

 

Referensi:

[1] SDGS knowledge hub https://sdg.iisd.org/events/world-oceans-day-2020/

[2] NOAA. Why should we care about ocean  https://oceanservice.noaa.gov/facts/why-care-about-ocean.html#:~:text=The%20air%20we%20breathe%3A%20The,our%20climate%20and%20weather%20patterns.

[3] Fleming, S. (2019, 29 Agustus). Here are 5 reasons why the ocean is so important. https://www.weforum.org/agenda/2019/08/here-are-5-reasons-why-the-ocean-is-so-important/

[4] The Ocean, Curation: University of California, Santa Barbara  https://intelligence.weforum.org/topics/a1Gb0000000LGk6EAG?tab=publications

[5] BPS.(2014). Analisis Rumah Tangga Perikanan di Indonesia. BPS

[6] Mederer. H.J., & Barker, C.(2000). Reconstructing Identities, Families, Communities, and Futures in a Wake of Fisheries Regulation. dalam Hanna, S., & Hall-Arber, M (Eds). Change and Resilience in Fishing. Oregon; Oregon State University

[7] Anna, A., Yusuf, A. A., Alisjahbana, A.S., Ghina, A.A., & Rahma. (2019). Are fisherman happier? Evidence from a large-scale subjective well being survey in a lower-middle income country. Marine Policy 106, 103559. doi: 10.1016/j.marpol.2019.103559

[8] Fauzi, A. (2005). Kebijakan perikanan dan kelautan: isu, sintesis dan gagasan. Jakarta:  Gramedia Pustaka Utama.

[9] BPS. (2017). Susenas. Jakarta: Badan Pusat Statistik

[10] Supriharyono. (2000.) Pelestarian dan pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

[11] Kusnadi. (2003). Akar Kemiskinan Nelayan Kondisi Sosial Ekonomi Nelayan di Indonesia. Pelangi Aksara, Yokyakarta.

[12] Sudrajat, J.(2013). Potensi dan Problematika Pembangunan Wilayah Pesisir di Kalimantan Barat. Jurnal Social Economic of Agriculture, Vol 2(1), 29-41.

[13] Anwar, Z., & Wahyuni, W. (2019). Miskin Di Laut Yang Kaya: Nelayan Indonesia Dan Kemiskinan. SOSIORELIGIUS5(1).

[14] Retnowati, E. (2011). Nelayan indonesia dalam pusaran kemiskinan struktural (perspektif sosial, ekonomi dan hukum). Perspektif16(3), 149-159.

[15] La Sara, Hamid,A & Safulu.(2011). Empowering Coastal Community By Implementing Natural Resources management (Case Study in South Sulawesi, Indonesia). Journal of Coastal Development, Vol 14 (3), 202 -213.

[16] Widodo.(2011). Strategi Nafkah Berkelanjutan Bagi Rumah Tangga Miskin di Daerah Pesisir. Makara Sosial Humaniora, Vol 15 (1), 10-20.

[17] Coulthard, S., Johnson, D., McGregorc, J.A.(2011). Poverty, sustainability and human wellbeing: A social wellbeing approach to the global fisheries crisis. Global Environmental Change 21 (2), 453 - 463.

[18] Anna, Z.(2019).  Neraca Ekonomi Sumber daya Ikan. Unpad Press. 178 hal

(19) David and Lucile Packard Foundation . (2018) “Tren Sumber Daya Kelautan dan Pengelolaan Perikanan di Indonesia: Ulasan Tahun 2018”. California Environmental Associates (CEA). 21 hal.

powered by social2s
Go to top