#MencatatCovid19

 

Komitmen membangunan ketahanan penduduk untuk mengurangi risiko bencana

Pada tahun 2015 hampir seluruh dunia menyatakan sepakat untuk lebih serius dalam mengurangi risiko bencana. Kesepakatan tersebut tertuang di dalam dokumen Kerangka Kerja Sendai Untuk Pengurangan Risiko Bencana/ PRB (Sendai Framework for Action) 2015-2030. Bencana yang harus dikurangi risikonya meliputi bencana akibat iklim, geologi hingga bencana akibat penyakit yang menjadi epidemi dan pandemi. Terdapat empat prioritas utama yaitu memahami risiko secara terintegrasi, meningkatkan upaya tata kelola yang baik, membangun kesiapsiagaan melalui investasi dalam PRB, dan mengupayakan pemulihan yang lebih baik pascabencana (UNDRR, 2015).

Membangun ketahanan adalah hal yang mendasar yang harus dilakukan oleh seluruh negara untuk memastikan bahwa setiap penduduk dapat mengatasi, mengantisipasi dan juga dapat pulih kembali setelah bencana. Berbagai arahan untuk berbagai negara juga disebutkan diantaranya pentingnya memiliki dan menerapan tata kelola kebencanaan yang adaptif dengan mengutamakan saling kerjasama dan kolaborasi antar berbagai negara dan berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan upaya pengurangan risiko bencana di berbagai level. Sendai Framework juga mengamanatkan untuk mempertimbangkan pendekatan yang bersifat pro-lingkungan atau mengutamakan solusi yang bersifat alam sehingga berbagai bencana termasuk bencana akibat penyakit dapat dihindari.

Setelah hampir lima tahun upaya mengimplementasikan Kerangka Kerja Sendai dilakukan, saat ini dunia mengalami ancaman yang sama yaitu virus COVID-19. Virus COVID-19 yang diumumkan pada bulan Januari dengan pusat penyebaran pertama ada di Provinsi Wuhan, dengan cepat telah menyebar ke berbagai negara termasuk negara Indonesia yang pertama kali mengumumkan adanya pasien positif COVID-19 pada tanggal 2 Maret 2020. Bahkan saat ini penyebaran virus di luar China lebih cepat dengan korban jiwa yang terus meningkat (WHO, 2020) .

Berbagai negara berupaya untuk melakukan kebijakan masing-masing untuk mengatasi penyebaran. Strategi mendasar yang harus dilakukan sebagian besar mengacu pada panduan yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO. Diantaranya penetapan status pandemi dan bencana akibat virus hingga kebiasaan sehari hari seperti selalu menggunakan masker, mencuci tangan secara konsisten, menjaga jarak atau social dan physical distancing, mengurangi aktifitas di keramaian dan menyarankan untuk bekerja dan belajar dari rumah. Berbagai arahan tersebut kemudian menjadi dasar dan panduan bagi setiap negara yang terdampak langsung termasuk Indonesia. Karakteristik masing-masing daerah akan memberikan gambaran tingkat keterpaparan yang berbeda-beda.

Penyebaran yang sangat cepat menunjukkan adanya persoalan dalam komunikasi risiko dan kesiapsiagaan menghadapi bencana termasuk COVID-19 (Zhang dkk, 2020). Sebagaimana halnya dengan bencana alam atau akibat dari perubahan iklim, kesiapsiagaan merupakan hal yang menjadi dasar untuk mengurangi terjadinya kerugian materi dan korban jiwa. Jika melihat pola kejadian bencana COVID-19, terlihat dengan jelas bahwa kesiapsiagaan di berbagai negara termasuk Indonesia khususnya masih sangat minim. Hal ini terlihat dari minimnya kesiapan dalam peralatan medis serta skenario untuk menghadapi dampak ikutan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 yaitu dampak terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya penduduk. Saat ini, berbagai kerugian telah di alami baik langsung maupun tidak langsung oleh penduduk. Beberapa diantaranya adalah penduduk yang bekerja di sektor pariwisata, transportasi, jasa, dan khususnya penduduk dengan pekerjaan di sektor informal yang penuh dengan ketidakpastian. Walaupun tidak terinfeksi oleh virus namun, penduduk rentan akan selalu menjadi kelompok yang  terdampak paling parah.

 

Kelompok rentan: Mengalami dampak berlipat

Berbagai pembahasan tentang penduduk rentan terhadap COVID-19, penduduk yang tergolong sebagai kelompok ekonomi rendah, pekerjaan yang tidak tetap, penduduk di permukiman kumuh dan padat penduduk yang sangat rentan terhadap COVID-19. Tingkat keterpaparan menjadi semakin tinggi mengingat mereka harus menghadapi dua risiko dalam waktu yang bersamaan. Risiko terhadap bencana alam dan kemudian risiko menjadi korban dari COVID-19. Penduduk miskin di perkotaan, saat ini menghadapi kenyataan adanya keterbatasan kemampuan layanan kesehatan yang berkelindan dengan ketiadaan akses terhadap layanan terhadap fasilitas kesehatan tersebut. Kerentanan penduduk di permukiman kumuh dan padat kemudian di perparah oleh ketidakmampuan untuk melakukan anjuran menjaga jarak dan juga menggunakan masker serta selalu mencuci tangan untuk kebersihan.

Keniscayaan untuk selalu mencuci tangan setiap saat akan menjadi semakin membebani karena keterbatasan akan akses terhadap air bersih. Hampir seluruh penduduk di permukiman kumuh padat penduduk di Jakarta Utara dan sekitarnya harus membeli air dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan harga air yang disalurkan oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PAMD). Jika selama ini air yang dibeli dengan harga yang mahal tentunya akan menjadi semakin berat saat ini ketika mereka juga harus kehilangan pekerjaan akibat terhentinya sebagian besar kegiatan ekonomi secara regional. Kelompok rentan lainnya adalah mereka yang masih harus tinggal di pengungsian akibat bencana alam. Anjuran menjaga jarak akan menjadi sangat sulit dilakukan.

Penanganan bencana COVID-19 memperlihatkan berbagai kontradiksi terkait dengan protokol penanganan bencana alam dan protocol penanganan bencana COVID-19. Misalnya, kesiapan yang dilakukan oleh suatu daerah dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana berupa penyiapan lokasi pengungsian akan bertentangan dengan anjuran untuk berdiam di rumah dan menjaga jarak fisik untuk mencegah penularan. Salah satu contohnya adalah di Phillipina, Palang Merah setempat sedang mempersiapkan diri menghadapi ancaman Thypoon yang biasanya akan tiba pada bulan Mei. Namun, menghadapi penyebaran virus COVID-19, penyediaan jarak yang ideal bagi lokasi pengungsian menjadi masalah tersendiri (UNDRR, 2020). Kelompok penduduk ini juga menjadi semakin rentan akibat risiko yang bersifat sistemik.

 

Mengapa membangun ketahanan terhadap bencana alam tidak mampu menahan terhadap bencana akibat penyakit?

Membangun ketahanan terhadap beragam tekanan atau bencana dalam satu waktu periode waktu yang sama masih menjadi tantangan di berbagai belahan dunia. Selama ini, membangun ketahanan masih dipisahkan berdasarkan jenis aktor, level, dan bahkan jenis bencana. Misalnya, ketahanan penduduk menghadapi bencana banjir, ketahanan pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi bencana kekeringan. Bencana COVID-19 ini mengingatkan kembali kita untuk melihat risiko bencana benar-benar sebagai hal yang kompleks dan sistemik. Selama ini berbagai literature sudah menyebutkan tentang pentingnya melihat risiko secara terintegrasi namun dalam implementasi masih sangat sulit dilakukan.

Memahami risiko terhadap ancaman yang lebih dari satu akan memberikan keleluasaan dalam memahami seberap rentan dan kuatnya ketahanan masyarakat menghadapi bencana (Pardoe, 2016). Kebutuhan akan kapasitas atau sumber daya akan berbeda dan juga lama waktu untuk dapat pulih kembali pascabencana akan berbeda dalam konteks risiko yang bersifat sistemik dan ganda. Masyarakat yang mengalami risiko lebih dari satu bencana akan mengalami keterlambatan dalam melakukan pemulihan dalam menghadapi bencana lainnya atau bencana lain yang muncul setelah menghadapi bencana saat ini (lihat gambar).

Screen_Shot_2020-04-22_at_10.12.34.png

(Sumber: Pardoe, 2016)

 

Selanjutnya, hal yang juga penting adalah memahami risiko dengan lebih terintegrasi sudah dikemukakan di dalam Kerangka Kerja Sendai 2015-2030, dalam prioritas pertama yaitu memahami risiko lebih dari sekedar memahami bahaya. Perlu adanya keterkaitan antara bahaya yang bersifat ganda (multi hazards)  dengan keterpaparan dan kerentanan (UNDRR, 2020). Risiko bencana adalah bersifat dinamik dan multidimensi yang akan selalu berubah sepanjang waktu. Bencana COVID-19 menunjukkan bahwa risiko yang dihadapi adalah multidimensi yaitu sosial, ekonomi, lingkungan, dan budaya. Munculnya bencana penyakit tidak  terlepas dari adanya kerusakan lingkungan yang sudah meluas di berbagai wilayah (Amstrong dkk, 2020). Adanya trasmisi penyakit dari hewan ke manusia melalui perantara makanan yang bersumber dari hewan menunjukkan telah terjadi ketidakseimbangan antara alam dan manusia.

Bencana COVID-19 ini memberikan peringatan untuk memahami risiko dengan lebih luas yaitu meliputi penyebab dari risiko lain yang diakibatkan oleh sebuah risiko (cascading risk) pada berbagai level dan jangkauan waktu yang berbeda (UNDRR, 2020).  Oleh karena itu, upaya sungguh-sungguh untuk mempertimbangkan kompleksitas dari risiko sudah menjadi sangat perlu dan harus segera dilakukan. Hal tersebut dapat dilakukan jika kerjasama antar pihak di berbagai level dapat diwujudkan.

 

Ditulis oleh Gusti Ayu Ketut Surtiari

Peneliti Penduduk dan Lingkungan, Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

 

Referensi

Amstrong, F., Capon, A., McFarlane, R. 2020. Coronavirus is a wake-up call: our war with the environment is leading to pandemics. https://theconversation.com/coronavirus-is-a-wake-up-call-our-war-with-the-environment-is-leading-to-pandemics-135023

Pardoe, J. (2016). Multiple and more frequent natural hazards - The vulnerability implications for rural West African communities.

UNISDR. (2015). Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015 - 2030 1. Third World Conference on Disaster Risk Reduction, Sendai, Japan, 14-18 March 2015. https://doi.org/A/CONF.224/CRP.1

UNDRR. 2020. Why does understanding the systemic nature of risk matter in the midst of COVID-19?. https://www.preventionweb.net/news/view/71228

WHO. 2020. Coronavirus disease (COVID-2019) situation reports. https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports/

Zhang, L.; Li, H.; Chen, K. Effective Risk Communication for Public Health Emergency: Reflection on the COVID-19 (2019-nCoV) Outbreak in Wuhan, China. Healthcare 2020, 8, 64.

powered by social2s
Go to top