Intoleransi telah menjadi salah satu topik yang paling sering dibicarakan di Indonesia. Hal ini terlihat dari meningkatnya konflik yang disebabkan tidak adanya sikap toleran dalam masyarakat.

Berbagai survei telah dilakukan baik oleh para peneliti maupun organisasi masyarakat untuk membaca fenomena intoleransi yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia yang beragam. Namun, sebagian besar survei ini) hanya menunjukkan persentase jumlah orang yang tidak menunjukkan sikap toleran.

Studi deskriptif tersebut ini memang relatif mudah dipahami. Namun, mereka hanya memberikan pola umum intoleransi di Indonesia dan tidak mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan orang menjadi tidak toleran.

Kita membutuhkan studi terkait intoleransi yang tidak hanya sekadar menunjukkan angka. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui mengapa dan bagaimana orang menjadi intoleran demi mendapatkan solusi yang tepat untuk menjawab persoalan ini.

Dengan menggunakan sebuah metode analisis statistik yakni Structural Equation Modelling (SEM), saya bersama tim mengidentifikasi sikap intoleransi seseorang dilihat dari identitas agama dan etnis.

Metode analisis statistik alternatif

Peneliti yang fokus pada kajian intoleransi, khususnya yang melakukan kajian kuantitatif jarang menggunakan SEM sebagai metode analisis statistik. SEM merupakan sebuah metode yang dapat menunjukkan hubungan sebab akibat antara beberapa variabel dependen dan variabel independen.

Metode analisis statistik ini biasanya digunakan pada penelitian pasar dan untuk mengukur tingkat kepuasan dan motivasi. Peneliti-peneliti sosial menggunakan metode ini untuk mengukur suatu konsep abstrak yang sering ditemui di ilmu sosial.

Penggunaan metode analisis ini (SEM) dalam persoalan intoleransi sangatlah membantu. Metode ini dapat mengisi kekurangan yang ada pada studi-studi deskriptif. Dengan menggunakan SEM, kami dapat mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor apa saja yang menyebabkan seseorang menjadi tidak toleran dan sejauh mana faktor-faktor tersebut memengaruhi tingkat intoleransi seseorang.

Metode ini tepat karena dapat digunakan untuk mengukur suatu konsep yang abstrak, seperti halnya toleransi, dengan menjabarkannya ke dalam indikator-indikator untuk mewakili konsep tersebut.

Untuk penelitian kami, indikator-indikator yang kami pilih untuk menunjukkan sikap intoleran antara lain seperti penolakan terhadap pemimpin yang berbeda agama dan etnis serta penolakan terhadap tetangga yang berbeda agama dan etnis. Setelah mengidentifikasi indikator-indikator tersebut, kami dapat mengukur variabel dan melihat hubungannya.

Temuan

Pada tahun 2018, kami melakukan survei pada 1.800 responden di sembilan provinsi di Indonesia. Kami memilih responden yang sudah menikah atau berusia di atas 17 tahun karena salah satu elemen yang ditanyakan adalah pandangan mereka terhadap kandidat yang beda agama dan etnis dalam pemilihan umum (pemilu) untuk mengetahui tingkat toleransi mereka. Dalam hal ini, kami menggunakan multistage random sampling dengan responden yang merupakan seseorang berusia 17-64 tahun atau sudah menikah, yang mana menurut hukum di Indonesia berhak untuk memilih.

Dari hasil analisis, kami menemukan beberapa faktor yang berpengaruh langsung terhadap perilaku intoleran: fanatisme agama, ketidakpercayaan terhadap agama dan etnis lain, sekularisme, perasaan terancam, dan media sosial.

Responden yang merasa terancam dan mencurigai penganut agama lain dan orang dari etnis berbeda memiliki kecenderungan untuk menjadi intoleran. Kecenderungan yang sama juga ditemui pada mereka yang memiliki tingkat fanatisme agama yang tinggi dan mereka yang menggunakan sosial media secara aktif.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kecurigaan terhadap pihak yang berbeda keyakinan berkontribusi terhadap tumbuhnya sikap intoleran. Responden kami mengatakan bahwa orang dengan keyakinan atau agamanya berbeda tidak dapat dipercaya dan cenderung mengeksploitasi pihak lain ketika mereka berkuasa. Data kami juga menunjukkan bahwa responden merasa terancam ketika pemeluk agama yang berbeda menjadi seorang pejabat penting dan memiliki kekuasaan di sektor ekonomi maupun politik.

Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa semakin sekuler seseorang, semakin tinggi tingkat toleransi orang tersebut. Dalam hal ini, identifikasi tingkat sekuler seseorang tidak hanya diukur berdasarkan nilai-nilai keyakinan atau agama yang dianut tetapi juga berdasar pada pandangan mereka tentang peran negara (pemerintah) untuk melindungi hak-hak setiap warga negara yang berbeda agama.

Data kami menunjukkan bahwa sebesar 56,6% dari total responden dapat menerima kandidat pemimpin yang berbeda agama. Sebagian besar dari responden kami juga tidak memperhatikan latar belakang agama dan etnis calon presiden atau pemimpin daerah dalam pemilu.

Screenshot_2019-06-19_at_16.57.18.png

Penelitian-sebagai dasar pembuatan kebijakan

Penelitian kami menunjukkan bahwa SEM dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengeksplorasi dan memahami permasalahan intoleransi.

Temuan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk pembuat kebijakan dalam mengatasi persoalan intoleransi di Indonesia.

Dengan demikian, mengetahui seberapa besar masyarakat yang tidak toleran menggunakan kajian kuantitatif memang penting, tetapi menggali pemahaman yang lebih mendalam mengapa seseorang menjadi intoleran jauh lebih penting.

Sari Seftiani, Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

powered by social2s
Go to top