Bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan terbesar di Indonesia tahun 2015 di Jambi memberikan dampak yang cukup besar terutama terhadap masyarakat adat atau Orang Rimba. Pola kehidupan yang beragam, karena ruang geografis, ekosistem, serta kontak-kontak dengan masyarakat luar yang berbeda-beda menyebabkan adanya komunitas adat yang mempunyai strategi adaptasi yang berbeda pula. Salah satunya adalah Orang Rimba di Sungai Dahan, Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo.

Salah satu komunitas adat di desa tersebut adalah yang dipimpin oleh Tumenggung Apung. Sekitar tahun 2010, kelompok ini menempati lokasi perumahan Suku Anak Dalam yang dibangun oleh Departemen Sosial RI di dusun Inoman, Desa Muara Kilis. Lokasi perumahan yang dibangun oleh Kementerian Sosial ternyata dianggap terlalu jauh dengan lokasi mencari penghidupan, akhirnya mereka pindah ke daerah Sungai Bungin. Perpindahan ke Sungai Bungin sebagai suatu konsekuensi telah terjadinya perubahan penghidupan dan tradisi yang tadinya fokus pada “berburu dan meramu” menuju penghidupan yang lebih menetap, karena penghidupannya dari pertanian tanaman pangan padi lahan kering dan mulai melakukan penanaman kelapa sawit maupun karet. Walaupun sebagian besar anggota kelompok Tumenggung Bujang Apung sudah menetap, tetapi beberapa warganya masih melakukan melakukan perburuan hewan dan memungut hasil hutan untuk kebutuhan makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Termasuk beberapa warganya masih melakukan tradisi melangun.

WhatsApp_Image_2018-08-09_at_13.01.04.jpeg

Infografis: Ari Purwanto Sarwo Prasojo

Orang-orang Rimba di Muara Kilis terancam oleh tiga hal, yaitu kebakaran hutan dan lahan yang berasal dari luar wilayah kebunnya, tetapi apinya merembet atau terbawa angina menuju ladang mereka. Kedua, kabut asap yang ditimbulkan akan menyerang permukiman Orang Rimba, baik mereka yang sudah tinggal di rumah dengan sistem penapisan udara yang buruk maupun yang hidup di gubuk sementara. Ketiga, pada saat pemeliharaan kebun sawit oleh perusahaan dengan menggunakan pestisida, apabila terbawa angin akan mengenai orang-orang yang ada disekitarnya. Kapasitas Orang Rimba muara kilis dalam menghadapi bencana asap berkaitan dengan kesiapsiagaan, peningkatan kapasitas, dan adaptasi-mitigasi ada dalam kondisi yang mengkhawatirkan yaitu situasi keterancaman tanpa ada upaya yang serius dari pihak pemerintah dan organisasi non pemerintah yang selama ini bekerja untuk kepentingan orang Rimba. Karena tidak adanya informasi yang berasal dari pemerintah daerah maupun organisasi non pemerintah, orang-orang Rimba yang ada di Muara Kilis tidak mempunyai daya apapun ketika terjangan asap menimpa kampungnya dan hanya mengeluh sesak napas. Teknologi “sekat bakar” yang merupakan pengetahuan lokal ketika melakukan pembersihan hutan tidak berkutik menghadapi serbuan api yang berasal dari wilayah lain. Pola adaptasi orang Rimba terhadap resiko bencana kebakaran hutan dan asap sangat minimal, bahkan hampir tidak ada. Mereka seakan pasrah dengan situasi yang terjadi. Tidak ada upaya yang serius dari pemerintah maupun organisasi non pemerintah untuk memperkuat adaptasi orang Rimba dengan pengetahuan-pengetahuan baru maupun kelembagaan baru untuk menghadapinya.

Masyarakat adat, khususnya Orang Rimba di Muara Kilis adalah sebuah contoh dari kelompok paling rentan dalam menghadapi situasi kebencanaan, termasuk bencana kebakaran hutan dan lahan. Proses menjadi masyarakat menetap mengharuskan mereka mempunyai pola-pola baru dalam menghadapi lingkungan baru. Namun, pemerintah maupun ornop tidak memberikan ruang maupun perhatian yang mencukupi terhadap cara Orang Rimba menghadapi kebencanaan.

(Oleh Herry Yogaswara, Peneliti Ekologi Manusia di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)

Go to top