Dunia semakin mengkota, begitu juga dengan Indonesia. Sejak tahun 2007 jumlah penduduk kota di dunia lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk desa, serta di tahun 2014, 54 persen penduduk dunia tinggal kota. Untuk Indonesia, hasil sensus penduduk terakhir pada tahun 2010 menunjukkan bahwa proporsi jumlah penduduk kota sebesar 49,7%, mengalami peningkatan sebesar 27,3% dibandingkan dengan hasil sensus penduduk tiga puluh tahun sebelumnya (tahun 1980). Secara berurutan proporsi penduduk kota di Indonesia pada tahun 1980, 1990 dan 2000 adalah 22,4%, 31,10% dan 41,9%.

Pada tahun 1950, hanya Kota Jakarta yang memiliki jumlah penduduk di atas satu juta jiwa. Tiga puluh tahun kemudian, pada tahun 1980 terdapat tiga kota baru yang memiliki jumlah penduduk di atas satu juta jiwa, yaitu Surabaya, Bandung, dan Medan. Selanjutnya pada tahun 1990, Semarang, Palembang dan Ujung Pandang (Makassar) memiliki jumlah penduduk di atas satu juta jiwa. Dan pada tahun 2010, jumlah kota dengan populasi lebih dari satu juta jiwa menjadi sebelas dengan penambahan Kota Bekasi, Tangerang, Depok, dan Tangerang Selatan. Kota-kota yang disebut terakhir merupakan kota yang berkembang karena proses megaurbanisasi dari Kota Jakarta, membentuk megacities Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) karena aktivitas perkotaan Jakarta sudah melimpah ke wilayah pinggirannya.

Indonesia memiliki 93 kota otonom dan satu Daerah Khusus Ibukota, Jakarta dengan jumlah penduduk yang berbeda-beda, mulai dari 30.647 jiwa (Kota Sabang) hingga 9.567.127 jiwa (DKI Jakarta) pada tahun 2010. Tulisan ini hanya menyertakan kota otonom, yaitu kota yang secara administrasi memiliki pemerintahan sendiri, tidak termasuk kawasan perkotaan lainnya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26  Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Pasal 16), kota-kota di Indonesia diklasifikasi menjadi 5 kelompok, yakni (1) Kota Megapolitan ( ≥ 10 juta jiwa, umumnya terdiri dari dua atau lebih metropolitan), (2) Kota Metropolitan (≥ 1 juta jiwa), (3) Kota Besar (500.001 – 999.999 jiwa), (4) Kota Sedang (100.001 – 500.000 jiwa) dan (5) Kota kecil (50.001 – 100.000 jiwa). Mengacu pada hasil Sensus Penduduk tahun 2010, proporsi terbesar kota di Indonesia adalah kota sedang sebanyak 56 kota, kota lainnya, satu kota megapolitan yakni DKI Jakarta yang beraglomerasi dengan kawasan perkotaan di sekelilingnya, sepuluh kota metropolitan, 16 kota besar, 9 kota kecil serta dua kota otonom yang jumlah penduduknya belum mencapai 50 ribu yaitu Kota Padang Panjang dan Kota Sabang (lihat tabel).

Di sisi lain, jika mengacu pada studi UN (2014), klasifikasi kota-kota adalah sebagai berikut: (1) megacity (> 10 juta jiwa), (2) kota besar atau large cities (5-10 juta jiwa), (3) kota menengah atau medium-sized cities (1—5 juta jiwa), (4) kota atau cities (500-000- 1 juta jiwa) dan (5) kota kecil atau urban area (< 500.000 jiwa). Jika mengacu pada standar tersebut, Indonesia hanya memiliki satu megacity yang sekaligus juga kota besar, sepuluh kota menengah, 16 kota dan 67 kota kecil, sehingga proporsi terbesar kota di Indonesia adalah kota kecil. Perbedaan klasifikasi yang terjadi terkadang menimbulkan kesulitan ketika melakukan studi perbandingan dengan kota-kota di negara lain.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Kota Otonom di Indonesia tahun 2010

Screen_Shot_2018-07-20_at_20.58.12.png

Sumber: Hasil Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010

Jika dibandingkan dengan Hasil Sensus Penduduk tahun 1990 (periode dua puluh tahun sebelumnya), terdapat beberapa kota yang sudah berubah status, baik dari kota kecil menjadi kota sedang maupun dari kota sedang ke kota besar. Kota yang berubah status dari kota kecil ke sedang adalah Kota Bukit Tinggi, Payakumbuh, Salatiga dan Mojokerto. Tujuh dari delapan kota yang berubah status dari kota sedang menjadi kota besar terletak di luar pulau Jawa, yaitu Kota Pekanbaru, Jambi, Batam, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan dan Samarinda, sementara satu kota lainnya adalah Kota Bogor.

Screen_Shot_2018-07-20_at_20.58.22.png

Pertambahan jumlah penduduk yang paling pesat terjadi di Kota Batam, dari 105.820 jiwa pada tahun 1990 menjadi 949.775 jiwa pada tahun 2010. Hampir semua kota di Pulau Kalimantan bergeser dari kota sedang menjadi kota besar. Pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi terjadi pada periode tahun 1990-2000. Pada periode tersebut, beberapa kota memiliki laju pertumbuhan penduduk (LPP) yang sangat tinggi, seperti Kota Batam (31,33%), Sawahlunto (23,29%), serta Bogor (17,67%). Pada periode 2000-2010, LPP tertinggi masih Kota Batam meskipun tidak setinggi periode sebelumnya (11,72%), disusul Kota Ambon (7,67%), Tarakan (6,50%), Banjarbaru (6,08%), Depok (5,21%) dan CIlegon (5,15%).

Sensus Penduduk tahun 2020 sebentar lagi akan berlangsung, tentunya akan terjadi lagi dinamika pergeseran klasifikasi kota. Klasifikasi kota sangat berpengaruh dalam pengambilan kebijakan, terutama kebijakan nasional yang bersifat top down.  Kota-kota dengan klasifikasi yang berbeda memiliki karakteristik fisik, ekonomi, dan penduduk yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan dan kebijakan pembangunan yang berbeda pula.

Referensi:

  • BPS. 1990. Penduduk Indonesia Menurut Provinsi dan Kabupaten/Kota Sensus Penduduk 1990. Jakarta.
  • BPS. 2000. Penduduk Indonesia Menurut Provinsi dan Kabupaten/Kota Sensus Penduduk 2000. Jakarta.
  • BPS. 2010. Penduduk Indonesia Menurut Provinsi dan Kabupaten/Kota Sensus Penduduk 2010. Jakarta.
  • United Nation. 2014. World Urbanization Prospect: The 2014 Revision. New York: United Nation.

(Oleh Luh Kitty Katherina, Peneliti Ekologi Manusia Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)

Go to top