Kajian Kependudukan

Narasi Pendek Tentang Kota dan Sakaratul Maut di Negara Industri Maju

Saiful Hakam*

 

Rumah duka adalah salah satu bagian penting dari wajah perkotaan dan kehidupan urban. Rumah adalah suatu bisnis berupa tempat bagi jenazah dipersiapkan sebelum dikremasi atau dikuburkan (Sanders 2010, 472). Rumah duka juga berfungsi sebagai tempat berkumpul bagi teman  dan keluarga dari almarhum guna melaksanakan upacara pemakaman. Upacara pemakaman dirancang oleh keluarga almarhum. Secara umum bangunan dari rumah  duka meliputi sebuah kapel untuk berdoa, ruang untuk melihat jenazah, ruang perawatan dan pengawetan jenazah, ruang pajangan untuk produk-produk sepertipeti mati dan buku tamu mewah, ruang tamu, dan ruang bisnis (Kearl 1989, 273).

Ketika mengalami sakaratul maut, warga kota menjadikonsumen, pasien, klien, bahkan subjek penelitian.Realitas empiris ini terjadi karena itu bagi warga kota, urusan kematian menjadi milik kaum profesional, seperti dokter, pengacara, dan bahkan ulama (Kellehear, 2007: 149). Mereka menata kematian melalui tindakan medis, pengurusan wasiat tentangpembagian warisan, dan dorongan spiritual dan memberikan dukungan psikologis untuk orang sakit, bahkan jasa perawatan untuk manusia lanjut usia. Warga kota membuat upaya yang besar untuk menjinakkan ketidakpastian dalam kematian yang akan terhadi dan yang disebut sebagai kematian yangdipersiapkan. Kisah kematian terjadi sangat berbeda pada golongan menengah dan atas di kota-kota. Ivan Illich, dalam pandangan Allan Kellehear, mendeskripsikan dengan tepat tentang kematian pada kaum borjuis. Adanya kedatangan dan kepergian  cepat pekerja profesional: dokter dan pendeta, pada sisi ranjang tidur seseorang merupakan indikasi sosial serius bahwa seseorang sedang mendekati ajal (Allan Kellehear, 2007).

Kematian akan terjadi dan inilah tata kematian yang baik. MichaelC. Kearl (1989: 58) menegaskan bahwa kematian pada masyarakat kota di Amerika Serikat tidak lagi terkait dengan kosmos karena kematian makin mengalami privatisasi,dan ruang sosial kematian dan duka cita terperangkap dalam prinsip bisnis. Orang-orang kota Amerika telah menyembunyikan kematian dari kehidupan masyarakat.

Kaum profesional adalah pekerja-pekerja spesialis yang perlu membeli layanan jasa karena mereka sendiri tidak cakap untuk mengerjakan atau tidak punya motivasi untuk mengerjakannya (Kellehear, 2007: 149). Dengankeahlian tertentu namun mendalam pada satu bidang kehidupan ekonomi dan politik, kaum elite kota berusaha untuk memenuhi beragam kebutuhan dengan menentukan para ahli yang dilatih untuk mengantisipasi malapetaka dalam kesenjangan yang disebabkan oleh makin rumitnya spesialisasi dalam urbanisasi (Kellehear: 2007, 149). Karena laju pesat perkembangan kota, warga kota kian melihat kematian sebagai situs jasa (Kellehear, 2007: 150).

Di kota, relasi sosial terjadi dalam konteks jumlahpenduduk yang besar. Relasi sering terjadi dengan orang-orang tak dikenal. Cirikhas kehidupan kota adalah ada perkembangan pesat peran dari spesialisasi pekerjaan. Ini kadang disebut anomi kehidupan kota. Kehidupan kota dalam banyak hal sangat berbeda karena bersifat anonim, berskala besar, fragmentaris, beragam, dan  cepat berubah. Kellehear menjelaskan kembali pandangan Ferdinand Tonnies tentang perbedaan antara gemeinschaft(komunitas) dan  gesellschaft(asosiasi). Menurut Kellehear, Tonnies berusaha menangkap spirit sosial atau relasi budaya, dengan menekankan pada kualitas dari relasi yang melekat pada dua tipe masyarakat (Kellehear, 2007). Masyarakat urban adalah masyarakat  gesellschaft. Masyarakat ini berpandanganinstrumentalis satu sama lain, sedangkan masyarakatdesa berskala kecil sebagai masyarakat riil karena memiliki sikap penuh perhatian dalam dasar rasa intim satu sama lain (Kellehear, 2007). Kellehear juga mengutip pandangan Emile Durkheim, tentang solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Menurut Kellehear,Emile Durkheim menteorikan bahwa masyarakat kecil bekerja secara mekanis karena penduduk bersifat seragam sedangkan masyarakat urban bekerja secara organis seperti tubuh manusia, tiap-tiap bagian bekerja secara khusus, namun tergantung dengan bagian-bagian lain dalam menjalankan fungsi tersebut (Kellehear, 2007). Anonimitas adalah salah satu ciri khas budaya di kota. Diversifikasi pekerjaan dan migrasimassal dari desa ke kota, antar kota, dan antar negara, menempatkan titik berat pada kemampuan personal untuk menegosiasikan makna dalam kehidupan sehari-hari, dalam asosiasi, dan dalam relasi sosial dan ekonomi. Kota menjalankan urusan-urusan yang sama dengan desa, karena persyaratan mendasar untuk hidup masih sama. Namun,cara-cara yang ditempuh di kota tidak sama dengan cara-cara yang dilakukan di  desa. Kematian dalam konteks relasi-relasi sosial di kota tidak sama seperti yang terjadi dalam kehidupan desa.

 

Referensi

Allan Kellehea. A Social History of Dying. Cambridge: Cambridge University Press. 2007

Michael C Kearl.  Endings A Sociology of Death and Dying. Oxford: Oxford University Press. 1989

George Sanders. “Funeral Home”, dalam Clifton D. Bryant and Dennis L. Peck (Eds.)  Encyclopedia of Death & the Human Experience. Singapore: Sage  Publication. 2009

 

*Peneliti di Pusat Penelitian Sumber Daya Regional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

PPK LIPI on Twitter

Go to top