Banjir sebagai Respon terhadap Urbanisasi dan Perubahan Guna Lahan

Luh Kitty Katherina*

 

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang memberikan dampak paling besar pada kehidupan manusia. World Bank melaporkan pada tahun 2010, 178 juta manusia terkena dampak banjir dengan jumlah kerugian melebihi $49 milyar. Korban jiwa akibat banjir rata-rata memang lebih rendah dibandingkan dengan bencana alam lainnya seperti gempa bumi atau tanah longsor, namun kerugian materiil dan non-materiil yang ditimbulkan jauh lebih besar.

Kejadian banjir tidak bisa dilepaskan dari tren dari pembangunan perkotaan, khususnya di negara berkembang yang terus meningkat. Seiring dengan perkembangan kota, jumlah penduduk meningkat tajam, yang mengarah pada kebutuhan lahan yang terus meningkat. Ekspansi dari kebutuhan permukiman dan aktivitas penunjangnya mempunyai peranan penting dalam perubahan guna lahan yang menyebabkan perubahan pada proses-proses ekologi baik skala lokal maupun global. Lahan yang seharusnya tidak boleh terbangun semakin berkurang. Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk yang cepat juga menyebabkan peningkatan konsentrasi penduduk pada wilayah yang rawan dan berisiko bencana. Potensi terbesar terjadi bencana adalah pada daerah yang paling padat penduduk (Gencer, 2013).

Di sisi lain, sebagian besar kota-kota di Indonesia secara geografis terletak di daerah pesisir serta dilalui sungai-sungai besar, yang membuat peluang terjadinya banjir semakin tinggi. Sebagai daerah hilir, tidak hanya aktivitas di dalam kota sendiri yang berpengaruh terhadap kondisi lingkungan kota, tetapi aktivitas di daerah hulu juga memegang peranan penting. Seperti kita ketahui bersama, kondisi lingkungan di Bogor berpengaruh terhadap aliran air hujan ke Kota Jakarta, kondisi lingkungan di Berastagi dan sekitarnya memiliki andil terhadap bencana banjir di Kota Medan.

Pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya sudah diakui secara luas sebagai penggerak dari meningkatnya kerentanan terhadap bencana dan merupakan elemen penting dalam perlakuan dan analisis risiko bencana. Perubahan guna lahan karena urbanisasi yang cepat memberikan dampak negatif pada proses hidrologi, dimana daerah resapan semakin berkurang. Peningkatan pembangunan kawasan hunian, kawasan industri dan pembangunan infrastruktur di daerah rawan banjir telah mempersempit aliran air pada saat hujan turun.

Dalam beberapa minggu terakhir berita di media massa diramaikan dengan sejumlah kejadian banjir di beberapa tempat di Indonesia, terutama di kawasan perkotaan. Kejadian terakhir yang cukup menghebohkan adalah banjir di Kota Bandung, yang diakui sebagai banjir paling parah di Kota Bandung sejak 10-20 tahun terakhir. Alih fungsi guna lahan yang tinggi di bagian utara Kota Bandung dalam beberapa dekade terakhir sebagai dampak dari pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadi pemicu utama terjadinya banjir besar di Kota Bandung. Ditambah aspek teknis seperti saluran drainase yang belum berfungsi optimal.

Dalam kurun waktu tiga puluh tahun (1980-2010), berdasarkan hasil Sensus Penduduk Nasional jumlah penduduk Kota Bandung bertambah sekitar 933.466 jiwa, yakni menjadi 2.394.873 jiwa pada tahun 2010 sementara dalam perencanaan awal, Kota Bandung hanya di desain untuk ratusan ribu orang. Pertambahan penduduk yang besar ini diikuti dengan pertambahan bangunan perumahan dan fasilitas pendukungnya yang tidak kalah pesatnya, yang dapat kita lihat langsung pada hampir seluruh lokasi Kota Bandung, utamanya daerah utara dan selatan. Kota Bandung semakin padat, bahkan tidak jarang pembangunan dilakukan pada daerah yang secara alami merupakan daerah dataran banjir.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di Kota Bandung, sebagian besar kota-kota besar di Indonesia juga mengalami hal serupa. Kota Surabaya misalnya, pertumbuhan penduduk yang pesat dalam kurun waktu beberapa puluh tahun dibarengi dengan perubahan penggunaan lahan yang sangat signifikan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun. Sebuah studi mengungkapkan bahwa, sebesar 9000 hektar lahan yang berasal dari lahan tambak, sawah dan rawa berubah fungsi menjadi permukiman dalam kurun waktu 18 tahun (1994-2012). Seiring dengan perubahan tersebut, intensitas dan volume kejadian banjir di Kota Surabaya semakin meningkat, tidak sedikit kawasan yang sebelumnya tidak pernah disinggahi banjir terkena banjir dan berulang pada tahun berikutnya.

Pertumbuhan penduduk yang besar pada satu sisi merupakan penanda perputaran perekonomian yang tinggi namun di sisi lain memberikan tantangan tersendiri dalam menghadapi ancaman bencana yang mungkin terjadi. Berbagai bencana kerap terjadi bersamaan dengan pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Tingkat urbanisasi yang semakin tinggi menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan, wilayah-wilayah yang rawan bencana menjadi pilihan tempat tinggal bagi sebagian masyarakat, sehingga risiko bencana semakin besar. Kejadian bencana juga semakin sering terjadi dengan jumlah korban yang relatif lebih banyak. Hal ini terjadi karena adanya penurunan daya dukung dan daya tampung kawasan perkotaan.

Namun demikian, urbanisasi juga bukan sesuatu yang harus dihindari, karena jumlah penduduk yang besar merupakan pengerak perekonomian yang tinggi. Urbanisasi yang terjadi harus dapat dikelola dengan baik sehingga urbanisasi dapat berkelanjutan, tetap menjaga keseimbangan dengan berbagai aspek kehidupan kota, diantaranya lingkungan, social demografi, ekonomi dan budaya kota.

 

*Peneliti Ekologi Manusia pada Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

PPK LIPI on Twitter

Go to top