Berbagai tekanan yang diakibatkan perubahan sosial dan ekologi mengancam keberlanjutan penghidupan masyarakat (lihat Carney, 1998; Chambers dan Conway, 1991; DFID, 1999, 2004;  Ellis, 2000; Scoones 1998, 2009; dan juga Sajogyo, 2006; Dharmawan, 2009; Binder et al., 2013, & Abdurrahim, 2014). Kondisi ini juga terjadi pada masyarakat adat Samin yang tinggal di Kabupaten Pati, Blora, dan Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Setiap rumah tangga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat dituntut untuk bisa menghadapi (coping) dan menyesuaikan (adaptasi) dengan berbagai tekanan (stressors) dan goncangan (shocks).  Strategi yang tepat dapat memelihara kapabilitas dan kapasitas aset yang dimilikinya untuk menjamin keberlanjutan dan resiliensi penghidupannya.

 

Kerangka strategi penghidupan rumah tangga dalam konteks sistem sosial-ekologi masyarkat adat

Chambers dan Conway (1991) mengemukakan bahwa  setiap rumah tangga harus melakukan strategi menghadapi dan beradaptasi agar dapatmempertahankan keberlanjutan dan resiliensi penghidupannya. Strategi dapat dilakukan dengan cara mengkombinasikan berbagai aset (sumber daya) penghidupan yang tersedia. Carney (1998), Ellis (2000), dan Scoones (1998, 2009) mengelompokkan berbagai aset penghidupan ke dalam lima bentuk modal (capital) yaitu sosial (social capital),alami (natural), fisik (physical), daninsani (human). Berbagai aset penghidupan yang dimiliki dan dapat diakses kemudian dikombinasikan ke dalam berbagai strategi penghidupan. Scoones (1998, 2009) mengelompokkan strategi penghidupan yang dijalankan rumah tangga pedesan ke dalam tiga kelompok, yaitu (1) pertanian, (2) diversifikasi penghidupan non-pertanian, dan (3) migrasi. Masing-masing strategi penghidupan dijalankan melalui berbagai aktivitas penghidupan oleh setiap anggota rumah tangga yang sudah mampu bekerja. Oleh karena itu, sebagian besar rumah tangga menjalankan lebih dari satu strategi penghidupan.

Lebih lanjut, Carney (1996), Scoones (1998, 2009), DFID (1999), Ellis (2000), & Dharmawan (2007) menyebutkan wujud terbentuknya resiliensi penghidupan di tingkat rumah tangga dapat dilihat dari adanya kesempatan bekerja dan berusaha; pencapaian well-being [kesejahteraan]; adaptasi dan resiliensi penghidupan; pemenuhan pangan; serta keberlanjutan sumber daya alam.. Kerangka strategi penghidupan rumah tangga dalam konteks sistem sosial-ekologi dapat dilihat pada Gambar 1.

 

Gambar 1. Kerangka strategi penghidupan rumah tangga dalam konteks sistem sosial-ekologi masyarkat adat

Screen_Shot_2020-07-28_at_02.05.53.png

 

Kerangka tersebut menjadi salah satu kerangka yang digunakan dalam penelitian yang berjudul Adaptasi dan Resistensi Masyarakat Adat terhadap Modernisasi dan Industrialisasi yang dilakukan oleh LIPI pada tahun 2015. Pengumpulan data primer melalui survei rumah tangga dilakukan secara purposive terhadap 198 rumah tangga di  masyararakat adat Samin yang tersebar di Blora (111 rumah tangga), Pati (60 rumah tangga), dan Kudus (27 rumah tangga) dengan dibantu oleh mitra peneliti lokal. Pembahasan hasil dan diskusi dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu (1) tingkat pendididikan formal, (2) pemilikan dan penguasan lahan, dan (3) ragam strategi penghidupan masyarakat Samin.

 

Tingkat pendidikan formal

Berbeda dengan persepsi yang banyak muncul mengenai pandangan hidup masyarakat Samin yang tidak bersekolah formal, hasil survei menunjukkan sebaliknya. Masyarakat Samin di Pati semuanya (100 persen) tidak sekolah di pendidikan formal. Masyarakat Samin di Kudus lebih dari dua pertiganya menempuh pendidikan formal, bahkan hampir setengahnya berpendidikan SMP dan sudah 14,81 persen yang menempuh SMA. Sementara itu, di Blora jumlah yang sekolah dan tidak sekolah jumlahnya hampir berimbang. Bahkan, jika dilihat lebih detail, kecenderungan anak-anak yang sekolah formal meningkat sehingga diperkirakan jumlah dan tingkat pendidikan formal yang dicapai akan meningkat. Namun, kondisi untuk Masyarakat Samin di Pati memang harus diakui sama seperti pendapat masyarakat umum yang ada selama ini. Hasil survei menunjukkan, keseluruhan responden pada masyarakat Samin di Pati tidak bersekolah (Gambar 2).

 

Gambar 2. Tingkat Pendidikan Formal Masyarakat Samin

Screen_Shot_2020-07-28_at_02.06.45.png

Sumber: Analisis Data Primer Hasil Survey, 2015

 

Pemilikan dan penguasan lahan

Masyarakat Samin memiliki pandangan hidup dan belief system (suprastruktur sosial)  yang kuat terhadap pertanian. Pertanian merupakan aktivitas penghidupan utama yang wajib dijalankan oleh setiap orang Samin. Bahkan, sejak kelahirannya, masyarakat Samin sangat erat kaitannya dengan aktivitas pertanian. Pertanian adalah jalan hidup masyarakat Samin. Oleh karena itu, menggarap lahan pertanian, baik di lahan sendiri maupun di lahan orang lain/negara menjadi hal yang harus dilakukan. Terkait dengan hal ini, Gambar 3 menunjukkan bahwa secara umum sebagian hampir dua pertiga masyarakat Samin memiliki lahan sendiri, bahkan sebanyak 14,65 persennya selain memiliki lahan sendiri juga menguasai lahan negara/orang lain. Bagi yang tidak memiliki lahan, sebanyak 13,64 persen rumah tangga tetap menggarap lahan dengan cara menguasai lahan negara atau orang lain. Hanya sedikit (6,06 persen) saja yang tidak memiliki maupun menguasai lahan.

 

Gambar 3. Pemilikan dan Penguasan Lahan Masyarakat Samin

Screen_Shot_2020-07-28_at_02.07.16.png

Sumber: Analisis Data Primer  Hasil Survey, 2015

 

Masyarakat Samin di Pati merupakan masyarakat yang paling banyak memiliki lahan  sendiri, kemudian diikuti oleh masyarakat Samin yang ada di Blora. Di Blora, tidak ada satu pun rumah tangga yang tidak memiliki atau menguasai lahan. Luasnya areal tumpangsari yang diberikan negara (Perhutani) melalui skema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) di Blora membuat rumah tangga yang tidak memiliki lahan tetap dapat menggarap lahan. Skema ini juga tetap berlaku bagi rumah tangga yang sudah memiliki lahan sendiri, namun tetap ingin memperluas usaha taninya.

Kondisi yang memprihatinkan terjadi pada masyarakat Samin di Kudus. Letaknya yang berada di dekat kawasan industri pantura Kudus membuat alih fungsi lahan-lahan pertanian berjalan dengan masif, termasuk lahan milik mereka dan lahan milik orang lain yang biasa mereka garap. Desakan kebutuhan ekonomi dan  jumlah masyarakat Samin yang lebih sedikit dibanding dengan dua wilayah lainnya menjadi faktor yang mendukung penjualan lahan-lahan mereka. Selain itu, tidak adanya lahan Perhutani yang bisa mereka garap membuat mereka yang tidak punya lahan menjadi tidak bisa menguasai lahan negara. Hasilnya, hampir setengah masyarakat Samin di Kudus tidak memiliki maupun menguasai lahan.

 

Ragam strategi penghidupan

Meskipun ada masyarakat Samin yang tidak memiliki/menguasai lahan, mereka semuanya masih menjadikan aktivitas pertanian di lahan sawah sebagai strategi penghidupan utamanya (lihat Gambar 4). Mereka yang tidak punya lahan milik/lahan garapan tetap bekerja di lahan sawah sebagai buruh tani atau operator mesin traktor. Selain menjalankan aktivitas utamanya di lahan sawah, sebagian masyarakat Samin juga menjalankan strategi nafkah ganda/diversifikasi penghidupan dengan beragam tergantung sumber daya dan kapasitas yang dimilikinya.

Masyarakat Samin di Blora merupakan yang paling banyak melakukan strategi nafkah ganda di sektor peternakan, terutama ternak sapi, kambing, dan ayam. Adanya lahan dan lokasinya yang tidak terlalu jauh dengan hutan Perhutani memudahkan mereka mendirikan kandang, mengembalakan ternak, dan mencari rumput. Selain itu, dari informasi yang diperoleh, beberapa rumah tangga yang beternak adalah anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang mendapatkan bantuan ternak dan bimbingan dari Perhutani melalui skema Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).

Screen_Shot_2020-07-28_at_02.07.47.png

Sumber: Analisis Data Primer  Hasil Survey, 2015

 

Kondisi berbeda terjadi di Kudus, terbatasnya lahan dan kesempatan untuk melakukan aktivitas pertanian dan peternakan membuat mereka harus beradaptasi dengan melakukan strategi nafkah ganda non-pertanian dan non-peternakan. Meskipun menurut berbagai literatur dan penuturan tokoh-tokoh di Pati, masyarakat Samin seharusnya tidak diperbolehkan berdagang, namun masyarakat Samin di Pati banyak yang memilih aktivitas dagang warungan sebagai aktivitas penghidupan tambahan. Selain itu, masyarakat Samin di Kudus banyak yang memilih untuk merantau sebagai strategi nafkah gandanya. Setengah dari mereka merantau ke luar Jawa, seperti ke Pulau Kalimantan dan Sumatera. Beberapa dari mereka, bahkan ada yang merantau sampai ke Malaysia. Biasanya yang merantau adalah kepala keluarga dan/atau anggota rumah tangga laki-laki yang sudah mencapai usia kerja. Mereka secara rutin mengirimkan pendapatannya di luar negeri kepada keluarganya yang ada di Kudus.

Meskipun persentasenya sedikit, strategi merantau juga dlilakukan oleh sebagian kecil masyarakat Samin di Pati dengan tujuan utamanya masih kota-kota di Pulau Jawa. Hanya sedikit saja yang ke luar Jawa dan tidak ada satu pun yang ke luar negeri. Untuk Blora, dengan tersedianya lahan yang cukup sehingga membuka kesempatan kerja di sektor pertanian dan peternakan telah membuat masyarakat Samin di Blora tidak ada satu pun yang merantau. Mereka mengatakan jika di kampung saja sudah cukup, buat apa harus merantau jauh-jauh.

 

Konseptualisasi gagasan "Membangun Resiliensi Rumah Tangga"

Agar dapat mempertahankan keberlanjutan penghidupannya, masyarakat Samin melakukan berbagai penyesuaian (adaptasi) strategi penghidupan sesuai dengan sumber daya dan kapasitas yang dimiliki dan tentunya dapat diakses. Suprastruktur sosial (sistem nilai, cara pandang, dan religi) yang ada dan berlaku di masyarakat tetap menjadi pedoman dalam melakukan pilihan strategi. Meskipun beberapa aturan ada yang tidak dijalankan atau disesuaikan, hal itu dilakukan semata-mata untuk mempertahankan hidup keluarga dan masyarakat itu sendiri. Selain itu, penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan telah disepakati oleh komunitas-komunitas yang lebih kecil sesuai dengan kondisi ekologisnya.

Masyarakat Samin di Kudus, selain tetap menjalankan strategi pertanian, banyak yang memilih untuk melakukan aktivitas nafkah non pertanian dan merantau, bahkan sampai ke luar negeri. Hal ini dilakukan karena keterbatasan lahan yang dimiliki dan yang dapat diaksesnya. Dalam hal ini, bersekolah di sekolah formal juga menjadi pilihan yang diambil untuk meningkatkan kapasitas insani agar memperbesar peluang diterima bekerja di sektor pertanian. Masyarakat Samin di Pati lebih banyak memilih untuk melakukan strategi pertanian dan tidak bersekolah formal. Sekolah formal dianggap akan membuat masyarakat Samin semakin melunturkan nilai-nilai Kesaminan. Namun demikian, masyarakat Samin di Pati menerima modernisasi alat-alat pertanian dan komunikasi. Merantau hanya dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat dan hanya berpindah di Pulau Jawa saja. Sementara itu, masyarakat Samin di Blora dengan kepemilikan lahan yang relatif cukup dan akses yang cukup terhadap lahan-lahan Perhutani melalui PHBM membuat mereka total menjalankan strategi pertanian saja dan ditambah dengan beternak Sapi dan Kambing. Sebagian ternak mereka juga diperoleh dari bantuan PHBM Perhutani. Dengan kondisi seperti ini, masyarakat Samin di Blora tidak ada yang merantau. Adapun pilihan untuk bersekolah formal dilakukan untuk meningkatkan kapasitas agar bisa mengakses lahan-lahan negara yang menjadi konsesi Perhutani melalui PHBM dan juga program-program pemerintah yang menjadi hak mereka sebagai warga negara.

Strategi penghidupan yang dilakukan rumah tangga di masyarakat Samin dalam membangun resiliensi penghidupan rumah tangganya dapat dikonseptualisasikan dalam Gambar  5.

 

Gambar 5. Konseptualisasi Gagasan "Membangun Resiliensi Penghidupan Rumah Tangga"

Screen_Shot_2020-07-28_at_02.08.27.png

 

 

Ditulis oleh Ali Yansyah Abdurrahim, Peneliti Ekologi Manusia di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

powered by social2s
Go to top