Ditulis dalam rangka memperingati Hari Lansia Dunia – 8 Agustus

 

Orang-orang lanjut usia atau yang lebih sering disebut lansia adalah mereka yang berusia di atas 60 tahun sesuai dengan kategori Badan Pusat Statistik (BPS). Usia 60 tahun ditentukan sebagai rata-rata orang Indonesia usia lanjut meskipun usia produktif Indonesia berada pada rentang 14- 64 tahun. Walaupun usia 60 tahun merupakan dianggap sebagai usia lanjut, tetapi tidak memungkinkan di usia tersebut lansia malah masih sanggup melakukan kegiatan yang berhubungan dengan produktivitas.

Pada tahun 2035, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Bonus demografi merupakan keadaan bersifat dua sisi mata uang dimana negara ini akan memiliki surplus masyarakat pada kategori usia produktif. Di sisi lain, pemerintah perlu juga memikirkan surplus tenaga kerja agar bisa diserap secara maksimal demi kemajuan bangsa. Para pemangku kebijakan pun mulai bersiap-siap agar bisa memanfaatkan momen ini dengan baik. Hal yang menjadi menarik kemudian, setelah mengalami bonus demografi apa yang akan negara ini hadapi? Tentunya kita harus bersiap dengan peningkatan jumlah lansia.

Mengapa mempersiapkan lansia menjadi penting?

Merujuk pada publikasi BPS pada Statistik Penduduk Usia Lanjut 2017, dinyatakan bahwa terjadi kenaikan presentase jumlah lansia sebesar dua kali lipat dalam kurun waktu 1971-2017 sebanyak 8,97%. Jumlah lansia perempuan memiliki presentase yang lebih banyak dari lansia laki-laki yaitu 9,47% banding 8,48%. Melalui publikasi ini kita bisa melihat hal positif yaitu kenaikan jumlah lansia berarti kenaikan pada angka harapan hidup di Indonesia, hal ini berarti pemerintah dianggap telah berhasil dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Pada tahun 2013, angka harapan hidup orang Indonesia saat ini adalah 70,9 tahun (BPS, 2017).

Kenaikan jumlah lansia dan angka harapan hidup ini tentunya menorehkan prestasi bagi pemerintah, di sisi lain ada pekerjaan rumah yang harus dipersiapkan juga terkait dengan angka ini. Pertama adalah mempersiapkan lansia yang sehat. Kedua, mempersiapkan tempat yang layak bagi para lansia. Terakhir adalah menyusun strategi agar lansia menjadi produktif.

Mempersiapkan lansia sehat menjadi hal yang sama penting dengan mempersiapkan balita sehat. Apabila terdapat banyak lansia yang sakit hal ini berarti ada beban baru yang harus ditanggung oleh pemerintah dan angkatan usia produktif. Beban pembiayaan kesehatan dan pengobatan lansia perlu menjadi perhatian khusus pemerintah.

Kemudian hal kedua yang perlu diperhatikan adalah perlunya persiapan tempat yang layak bagi lansia. Hal ini menjadi penting karena sejatinya lansia masih merupakan masyarakat Indonesia yang memerlukan perhatian. Sebagai contoh, tercatat sebanyak 1.392 lansia terlantar Jakarta dirawat di Panti Sosial Tresna Werdha yang dikelola oleh Dinas Sosial DKI Jakarta. Para lansia ini menjadi tanggungan pemerintah karena sudah tidak bisa bekerja dan tidak memiliki keluarga di Jakarta. Keberadaan lansia Jakarta di panti sosial ini merupakan contoh betapa pentingnya mempersiapkan tempat yang layak bagi lansia. Tempat yang layak akan menjadikan lansia menjadi sehat dan tidak diperlukan biaya yang besar untuk merawat kesehatan mereka. Di sisi lain, kehadiran keluarga sebagai pendamping hidup lansia juga penting untuk menjaga kesehatan lansia. Apabila banyak lansia yang dititipkan ke dinas sosial tentunya akan menjadi beban tambahan bagi pemerintah.

Hal terakhir yang penting untuk menjadi perhatian adalah mempersiapkan lansia yang produktif. Naiknya jumlah lansia Indonesia berimplikasi pada naiknya beban tanggungan kelompok usia produktif yang disebut sebagai sandwich generation yang mencerminkan kondisi terjepitnya usia kelompok produktif berbanding pada usia non-produktif muda dan lansia. Secara tidak langsung keadaan ini juga akan membebani PDRB (Produk Domestik Regional Bruto).  Secara statistik, keberadaan lansia membebani PDRB. Hal ini ditunjukkan dengan hasil empiris estimasi model regresi seperti yang disajikan pada Tabel 1 (Prasojo, 2018).

Tabel  Regresi berganda PDRB vs kelompok penduduk (kondisi 2016)

Koefisien

Salah baku

Statistik t

Nilai p

Konstanta

112447,2121

68694,05567

1,63692784

0,112453389

Penduduk 0-14 tahun

-664,7338508

205,8135522

-3,229786589

0,003074941

Penduduk 15-59 tahun

434,9371593

109,920261

3,956842492

0,000449751

Penduduk 60+ tahun

-735,5814446

247,4051171

-2,973186057

0,005879044

R2 = 73,99%

Variabel dependen PDRB

Sumber: Data BPS diolah oleh Ari Purwanto Prasojo, Peneliti Ekologi Manusia - LIPI

Melalui hasil estimasi model pada menunjukkan bahwa lansia berpengaruh signifikan terhadap PDRB, dengan koefisien negatif yang berarti bahwa peningkatan jumlah lansia akan mengurangi rata-rata PDRB. Demikian halnya untuk usia anak-anak yang juga membebani pembiayaan. Tetapi, lansia memberikan dampak beban pembiayaan yang lebih besar. Hal ini dilihat melalui koefisien model. Sedangkan kelompok usia produktif memberikan nilai koefisien positif terhadap PDRB. Hal ini membuktikan bahwa kelompok usia produktif terjepit diantara kelompok usia non-produktif 0-14 tahun dan 60+ tahun. Apabila pemerintah bisa mulai mempersiapkan lansia produktif, tentunya beban yang harus ditanggung kelompok usia produktif tidak akan terlalu berat.

Mempersiapkan Lansia berkaca pada program SHRC Jepang

Dimulai pada tahun 1990-an, Jepang masuk ke dalam kategori ageing country. Hal ini berarti Jepang memiliki populasi penduduk usia yang banyak dibandingkan dengan usia mudanya. Menjadi ageing country membuat Jepang mendirikan lembaga yang mengatur lansia dalam mencari pekerjaan dengan mudah, lembaga ini dimanakan dengan Silver Human Resource Center (SHRC). SHRC memiliki program-program untuk mendukung para lansia untuk tetap produktif di usia tua. Kemudian SHRC juga membantu para lansia untuk mencari pekerjaan paruh waktu secara fleksibel.

Menurut Weiss, dkk. (2005) tradisi Jepang membagi pekerjaan laki-laki dan perempuan terhadap dua domain, laki-laki berada pada domain pekerjaan dan perempuan dalam domain rumah tangga. Kebanyakan laki-laki pada usia produktif hanya menghabiskan waktu di rumah untuk tidur setelah bekerja seharian. Memasuki masa pensiun, berarti laki-laki harus lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tetap produktif di usia lanjut menjadi salah satu solusi mengatasi kecanggungan atas kebiasaan domain ini. Di sisi lain, upah yang diberikan kepada perempuan di Jepang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki, untuk itulah lansia perempuan masih membutuhkan pekerjaan di usia senjanya. Pemerintah membuat program SHRC untuk menjembatani permasalahan domain tradisi dan gender pada masyarakat Jepang.

Program yang dilakukan oleh SHRC pada dasarnya bertujuan agar para lansia tetap memiliki kesibukan di usia senja. Dengan melakukan aktivitas di luar rumah, para lansia ini bisa lebih sehat sekaligus dapat memiliki relasi yang baik dengan masyarakat. Program-program yang diberikan SHRC diantaranya adalah program untuk menjadi relawan dan pekerja paruh waktu. Kegiatan-kegiatan ini disinyalir memberikan efek yang positif tidak hanya bagi para lansia tetapi juga kepada komunitas.

Lansia Indonesia dan Tantangan Masa Depan

Pemerintah diharapkan bisa merancang program yang serius untuk mempersiapkan lansia di masa depan. Proporsi jumlah lansia yang meningkat memerlukan penanganan khusus agar tidak membebani usia produktif. Kemudian, penting juga bagi pemerintah untuk menjaga keberadaan lansia tetap sehat dan produktif. Langkah Jepang dalam membentuk SHRC dapat menjadi teladan yang baik bagaimana penanganan lansia akhirnya memberikan efek positif di dalam masyarakat. Kerjasama antara pemerintah dan pemilik usaha juga diperlukan agar para lansia yang masih memiliki keinginan untuk bekerja dapat diberikan kesempatan untuk bekerja paruh waktu. Jika hal ini dapat dilaksanakan, niscaya Indonesia akan siap dalam menghadapi peningkatan jumlah lansia di masa depan. Selamat Hari Lansia Dunia!

(Ditulis oleh Irin Oktafiani, Kandidat Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)

Referensi

BPS. 2017. Statistik Penduduk Lanjut Usia. Badan Pusat Statistik

Weiss, Robert S., Bass, Scott A., Heimovitz, Harley K., Oka, Masato. 2005. Japan’s Silver Human Resource Centers and Participant Well Being, in Journal of Cross Cultural Gerontology, 20, p. 47-66

Go to top