Program Keluarga Berencana yang bertajuk dua anak cukup berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia dari 2,31% menjadi 1,49% pada periode 1971-1980 ke periode 2000-2010 (BPS, 2011d). Tren komposisi umur penduduk mengalami transisi demografi sejak tahun 1971-2010 terlihat dari piramida penduduk Indonesia yang menunjukkan pola ekspansif menjadi konstruktif. Saat ini, piramida penduduk Indonesia berbentuk konstruktif yang mana kelompok usia muda non produktif mendominasi sehingga pada proyeksi penduduk tahun 2030 akan terjadi bonus demografi karena penduduk usia muda saat ini akan menjadi penduduk usia produktif pada tahun 2030 yang mengubah piramida penduduk di Indonesia menjadi stasioner serta secara matematis akan mencapai Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS). Lonjakan penduduk pada tahun 2030 dikatakan bonus demografi karena diharapkan mendominasinya usia produktif mampu menurunkan rasio ketergantungan dan meningkatkan produktivitas sektor-sektor lain yang terkait pembangunan nasional. Diperkirakan bonus demografi akan berakhir di tahun 2035, diharapkan Indonesia mampu memanfaatkan bonus demografi dalam jangka waktu 5 tahun tersebut.

Keberhasilan KB memyebabkan penurunan fertilitas dan mortalitas dalam jangka waktu panjang yang membuka jendala kesempatan bagi pembangunan kependudukan untuk memanfaatkan kondisi ini untuk memperbaiki kualitas SDM dari aspek pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Berbicara tentang keluarga berencana atau family planning tentu erat kaitannya dengan usia subur. Banyaknya jumlah penduduk wanita usia subur (15-49 th) akan mempengaruhi tingkat fertilitas di tahun-tahun berikutnya tercatat pada tahun 2015 jumlah wanita usia subur sebanyak 69,2 juta dan diperkirakan pada tahun 2035 akan bertambah menjadi 76,1 juta. Meskipun saat ini mayoritas perempuan telah mengerti program keluarga berencana namun tetap harus diimbangi dengan pembangunan fasilitas kesehatan yang memberi kemudahan akses dalam mendukung perawatan kesehatan reproduksi agar ibu memiliki pengetahuan yang tepat dan anak yang dilahirkan mampu menjadi bibit yang berkualitas di masa depan.

Sejak tahun 1994 tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Berencana Nasional. Sejarah Hari Keluarga Berencana Nasional ditetapkan sebagai pengingat agar tiap keluarga mampu mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera dengan perencanaan yang baik. Gerakan Keluarga Berencana pertama kali diusung oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada tahun 1957 yang dilakukan secara silent operation, hal ini dikarenakan pada tahun 1950 pasca kemerdekaan pola perkawinan penduduk tidak terarah dan minimnya pengetahuan tentang pertumbuhan penduduk namun isu kependudukan masih tabu sehingga gerakan tersebut dilakukan secara diam-diam. Meningkatnya jumlah penduduk saat itu tidak sebanding dengan ketersediaan pangan untuk kebutuhan penduduk yang semakin hari semakin melonjak. Ditambah stigma “banyak anak, banyak rezeki” menjadi pedoman dalam membangun keluarga di masa itu padahal banyaknya penduduk yang berusia non-produktif dapat meningkatkan angka beban ketergantungan bagi usia produktif. Perhatian terhadap laju pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol akhirnya mulai menjadi perhatian pemerintah pada masa Orde Baru tahun 1970-an sehingga dibentuklah badan pemerintahan yang khusus menangani penekanan laju fertilitas penduduk dengan Program Keluarga Berencana yang terkenal slogannya “dua anak, lebih baik”.

Pentingnya merencanakan dengan baik pola perkawinan dan jumlah anak dengan program keluarga berencana menjadi salah satu upaya kita dalam memanfaatkan jendela kesempatan untuk meraih bonus demografi. Jumlah anak yang tidak terencana dan tren menikah muda yang tidak dikontrol dengan baik dapat mempengaruhi perubahan struktur umur penduduk di masa depan dan kita akan kehilangan jendela kesempatan untuk memanfaatkan bonus demografi. Apabila masih banyak penduduk menikah di bawah usia menikah dan memiliki anak maka di awal usia produktifnya ia akan sibuk mengurus anak ditambahnya minimnya kemampuan dan pengetahuan mengurus anak secara psikologis bagi pasangan di bawah usia menikah dapat menyebabkan anaknya tumbuh tidak sehat dan cerdas. Kita tidak tahu kapan lagi Indonesia memiliki kesempatan mendapatkan bonus deomgrafi, oleh karena itu kita tidak boleh hanya mengandalkan program pemerintah saja tetapi juga harus peduli terhadap kondisi kependudukan saat ini. Pengetahuan tentang kondisi kependudukan dan target mendapatkan bonus demografi di tahun 2030-2035 dapat dipenetrasi kepada lingkungan sekitar dengan obrolan ringan dan diharapkan masyarakat luas memiliki wawasan terkait bonus demografi.

(Tria Anggita Hafsari, Kandidat Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)

PPK LIPI on Twitter

Go to top