Belakangan ini wacana tentang milenial dan rumah cukup banyak dijumpai. Ancaman kaum milenial akan kesulitan mendapatkan rumah karena kaum milenial dianggap cukup konsumtif dan kurang suka menabung, sementara itu harga rumah terus meningkat. Tapi benarkah hal tersebut yang sebenarnya terjadi?  Apakah dengan membangun unit rumah bersubsidi, memberikan subsidi bunga pinjaman yang rendah dan stabil serta menyadarkan kaum milenial untuk meredam pola konsumtif dan belajar menabung merupakan solusi yang cukup?

Saat ini banyak pembangunan tower apartemen dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan  bagi milenial.  Tapi benarkah dengan menciptakan paradigma kehidupan modern dengan rumah vertikal dapat menyelesaikan permasalahan backlog di kota-kota besar seperti Jakarta?  Beberapa penelitian menyebutkan bahwa hanya 10% penduduk Jabodetabek menjadikan apartmen sebagai rumah pertama mereka.  Selebihnya pembeli unit apartmen adalah para spekulan dan investor kecil yang mencoba peruntungan dengan menyewakan unit-unit yang mereka miliki. Sebagian besar penyewanya adalah kaum milenial yang belum memiliki rumah dan baru saja membangun rumah tangga.

Kelas Menengah di Indonesia

Dalam tulisan ini, penulis berusaha untuk mencoba menjabarkan sebagian dari hasil penelitian program doktoralnya yang bersinggungan dengan keluarga milenial kelas menengah. Keluarga milenial adalah keluarga yang terbangun dengan suami dan istri dalam rentang usia 20-40 tahun, termasuk kelompok usia muda serta kelompok ekonomi produktif.

Di Indonesia kelas menengah terbagi menjadi tiga sub-golongan, yaitu kelas menengah bawah yang memiliki penghasilan antara 3 juta rupiah hingga 7 juta rupiah perbulannya; kelas menengah tengah yang memiliki penghasilan  perbulannya antara 7,5 juta rupiah hingga 25 juta rupiah dan kelas menengah atas dengan penghasilan 26 juta rupiah hingga 100 juta rupiah perbulannya (formula klasifikasi ini berdasarkan ADB, 2010; Upah Minimum Regional; dan batas atas subsidi yang diberikan untuk mendapatkan apartemen bersubsidi).

Hasil penelitian yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa 70% keluarga milenial merupakan keluarga dengan double income group, yang artinya tidak hanya suami yang bekerja, istri pun bekerja membantu roda ekonomi keluarga. Kemudian dependency atau ketergantungan keluarga milenial pada extended family cukup tinggi.  Kondisi ini mengakibatkan banyak keluarga milenial di mana suami dan istri bekerja sehingga mereka membutuhkan orang tua mereka untuk mengasuh anak-anaknya.

Dua temuan tersebut menjadi pertimbangan keputusan keluarga milenial untuk menunda membeli rumah. Kondisi suami dan istri yang bekerja mengakibatkan pilihan tinggal di rumah orang tua adalah keputusan yang terbaik. Hasil penelitian menunjukkan 90 persen dari keluarga milenial tinggal di rumah orang tua istri dan menitipkan anak-anak mereka pada kakek neneknya. Pola ini membuat  sebagian besar pendapatan keluarga milenial dialokasikan untuk membayar asisten rumah tangga (ART) yang membantu keseharian orang tua dan anak-anaknya daripada mengalokasikan pendapatannya untuk membeli rumah.

Keputusan keluarga milenial untuk menunda memiliki rumah biasanya menunggu hingga usia anak-anak mereka cukup besar.  Akan tetapi sering kali keputusan menunda memiliki rumah juga menjadi bumerang bagi mereka karena harga rumah semakin hari semakin melambung.  Banyak kasus pada akhirnya keluarga milenial tidak lagi mampu membeli rumah.

Hunian Vertikal untuk Keluarga Milenial

Melompat pada permasalahan rumah vertikal yang banyak dibangun namun belum menyelesaikan permasalahan backlog di kota-kota besar, hal ini erat kaitannya dengan permasalah budaya. Masyarakat Indonesia memiliki konsep bahwa kepemilikan rumah (bangunan) artinya memiliki tanahnya juga, sehingga konsep rumah vertikal dimana hak kepemilikannya hanya unit (bangunannya) saja masih asing bagi sebagian orang.  Hal inilah menyebabkan apartemen identik dengan rumah sewa.  Hasil penelitian menunjukkan hanya 10 persen penduduk Jabodetabek yang membeli unit apartemen sebagai rumah pertama mereka.

Sebenarnya, kaum milenial sebagai golongan muda, akan lebih mudah untuk menerima perubahan.  Begitu juga dengan menjadikan rumah vertikal (apartemen) sebagai rumah pertama yang mereka beli.  Akan tetapi membeli sebuah rumah merupakan komitmen jangka panjang.  Untuk itu sebaiknya pembangunan rumah vertikal juga mampu memfasilitasi kebutuhan kebutuhan keluarga milenial sebagai berikut:

Pertama adalah ketersediaan fasilitas ramah anak dan lansia. Seperti telah disampaikan sebelumnya,  keluarga mienial didominasi dengan suami dan istri yang bekerja dan anak-anak mereka diasuh oleh kakek neneknya. Apabila negara peduli untuk melepas ketergantungan keluarga milenial terhadap orang tua maka bantuan negara tidak hanya sebatas membangun apartemen bersubsidi.  Namun juga dilengkapi dengan tempat penitipan anak yang layak, aman dan juga murah.  Fasilitas sekolah, terutama jenjang pra sekolah hingga sekolah menengah pertama, perlu disediakan oleh pemerintah terutama pada apartemen bertipe Kawasan superblock. Fasilitas pendidikan terjangkau diperlukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga milenial yang memiliki anak usia sekolah. Saat ini, sebagian besar fasilitas ramah anak yang disediakan pengelola apartemen hanya sebatas taman bermain  dan kolam renang.

Kemudian, fasilitas penunjang ramah lansia juga perlu menjadi perhatian pemerintah karena keterikatan keluarga milenial dengan orang tuanya yang sudah memasuki kelompok usia lanjut. Suatu hal yang menjadi lumrah dalam budaya Indonesia orang tua mengunjungi anak mereka yang sudah berkeluarga.  Atau malah sebaliknya, banyak orang tua di usia lanjut memilih hidup bersama anak-anak mereka agar dekat dengan cucunya. Oleh sebab itu, fasilitas ramah lansia sangat dibutuhkan.

Kedua, adalah ukuran unit itu sendiri.  Keluhan keluarga milenial tidak menginginkan tinggal di rumah vertikal karena kekhawatiran bahwa unit apartment tidak bisa di upgrade. Sering kali sebuah keluarga membeli rumah ketika mereka belum memiliki anak, kemudian mereka membutuhkan ruang-ruang tambahan saat anak-anaknya lahir dan bertambah usia. Keterbatasan konstruksi bangunan unit apartemen tentu saja tidak bisa menfasilitasi kebutuhan penambahan ruang. Hal ini membuat banyak keluarga milenial pada akhirnya memilih rumah tapak  walaupun kecil sekalipun dibandingkan rumah vertikal, karena rumah tapak suatu saat bisa direnovasi untuk menambahkan kebutuhan ruangnya.

Pembangunan apartment bersubsidi atau pun low-cost apartment terkesan hanya diperuntukan keluarga muda tanpa anak mengingat luasannya sangat terbatas.  Untuk itu dibutuhkan trade-off bagi pengembang dan pemerintah dengan membangun luasan yang memadai bagi sebuah keluarga.  Negosiasi ini dimungkinkan agar pembangunan low-cost apartment yang begitu menjamur menjadi tepat sasaran dan tidak hanya dibeli oleh spekulan dan investor kecil.

  

Ditulis oleh Temi Indriati Miranda, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan-LIPI

Saait ini sedang menyelesaikan Pendidikan S3 nya di University of Queensland dengan tema: Decision-making process used by middle-middle class families to access homeownership in Greater Jakarta, Indonesia

*) Tulisan ini merupakan versi awal dari https://theconversation.com/riset-beri-jawaban-agar-apartemen-menarik-bagi-keluarga-milenial-di-kota-134785

powered by social2s
Go to top