Proses pemulihan setelah bencana dapat menjadi salah satu penyebab penduduk menghadapi risiko baru. Salah satu risiko yang mungkin dihadapi adalah permukiman kembali para penyintas bencana ke lokasi baru yang tidak mendukung keberlanjutan sistem kehidupan mereka. Dampak yang tidak diinginkan dapat terjadi ketika pendekatan yang digunakan cenderung top-down atau bersifat instruksi dari pusat ke daerah. Penduduk yang terkena bencana sering kali dianggap tidak berdaya sehingga memerlukan bantuan sepenuhnya dari pihak luar. Namun, beberapa kajian menunjukkan bahwa penduduk memiliki potensi untuk mandiri dalam melakukan pemulihan pascabencana.

Build back better pascabencana dapat tercapai jika terdapat peranan partisipasi dari penduduk dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Kerja sama berbagai pihak menjadi penting karena kondisi pascabencana identik dengan berbagai keterbatasan, seperti akses terhadap sumber daya dan finansial. Salah satu contohnya adalah penyediaan hunian sementara bagi para penyintas bencana. Hunian sementara (huntara) adalah hunian transisi dari tempat pengungsian sementara menuju pada tempat hunian tetap atau kembali ke rumah masing-masing setelah perbaikan. Penyediaan huntara selama ini banyak dilakukan secara swadaya, selain huntara yang disediakan oleh pemerintah. Sayangnya, Indonesia belum memiliki standar huntara yang berlaku nasional sehingga berpotensi menimbulkan tidak seragamnya kualitas huntara yang ada. Beragamnya kualitas huntara dapat menimbulkan kesenjangan sosial di antara penduduk yang berhak mendapatkan huntara. Berdasarkan pendekatan yang fokus pada penduduk, penyediaan huntara dapat diwujudkan tanpa menimbulkan permasalahan sosial. Keterlibatan penduduk akan membuka peluang adanya partisipasi dan pertimbangkan sistem sosial budaya setempat.

Berdasarkan pendekatan people-centered, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penanganan pascabencana, khususnya penyediaan huntara, yang dapat menjadi transisi menuju pemulihan lebih baik (build back better). Analisis difokuskan pada peluang dan tantangan dalam mewujudkan huntara yang ideal bagi penyintas bencana. Untuk mencapai tujuan tersebut, bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di Palu, Sigi, dan Donggala menjadi lokus kajian. Analisis dalam tulisan ini berdasarkan pada data yang dikumpulkan dalam kaji cepat penanganan pascabencana di Palu, Sigi, dan Donggala bulan Desember 2018. Kaji cepat tersebut merupakan bagian dari kegiatan Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Lebih lanjut tulisan ini dapat diunduh pada link berikut ini: https://ejurnal.kependudukan.lipi.go.id/index.php/jki/article/view/443

Gusti Ayu Ketut Surtiari - Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

powered by social2s
Go to top