#CatatanPeneliti Tanggal 13 Oktober diperingati sebagai International Day for  Disaster Risk Reduction, di saat yang sama bagian timur Jepang nampak langit biru cerah setelah topan Hagibis. Langit biru setelah topan diistilahkan dengan 台風一過 (taifuu ikka). Topan Hagibis yang menerjang Jepang 2 hari terakhir adalah topan terbesar (level 5 menurut JMA) dan masuk dalam kategori mematikan dalam periode 6 dekade belakangan. Dengan luasan hampir 1400 km topan ini menguji kekuatan Dam di sepanjang Jepang timur sejak Jumat malam. Selain topan, wilayah Chiba yang paling terdampak terpaan topan juga mengalami gempa magnitude 5.7 pada Sabtu malam (12/10).

Lebih dari 800.000 penduduk disiplin mengikuti perintah untuk segera  evakuasi di sebelas prefektur sejak Jumat malam(11/10). Jika dibandingkan dengan skala bencananya, sejauh ini jumlah korban jiwa terhitung sangat kecil. Kantor berita NHK melaporkan hingga Minggu pukul 20.58 JST 28 orang dikabarkan meninggal dan 19 hilang setelah Hagibis merusak bangunan di Kanagawa, Tochigi, Gunma, Miyagi, Saitama, Fukushima, Iwate, Chiba, Shizuoka dan Ibaraki. Topan dengan kategori yang hampir sama terjadi tahun 1958 ( Isewan Typhoon/Vera) dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sebanyak 1200 orang. Enam dekade kemudian jumlah korban jauh berkurang.

Screenshot_2019-10-13_at_20.23.21.png

Semua langkah mitigasi dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dengan bergandengan tangan, moda transportasi umum menuju wilayah bencana berhenti untuk mengurangi risiko, termasuk Shinkansen yang melayani jalur Tokyo-Shin Osaka berhenti sejak Jumat sore.  Warga dilengkapi kabar terakhir situasi cuaca  lengkap dalam rentang waktu perdetik melalui semua saluran informasi. Sejak Kamis (10/10) masyarakat juga sudah mempersiapkan diri dengan membeli persiapan makanan dan kebutuhan dasar selama situasi bencana.

Di wilayah dengan risiko rendah, warga juga secara mandiri mempersiapkan rumah menghadapi badai dengan memplester kaca atau menutup atap rumah dengan terpal. Ruang gymnasium sekolah dipersiapkan jauh-jauh hari sebagai shelter sementara bagi warga. Sementara petugas menyisir rumah warga memastikan semua sudah ada di lokasi aman. 

Pasca bencana tenaga medis dan sukarelawan memastikan semua memperoleh perawatan kesehatan, termasuk menyediakan tenaga medis multi bahasa asing bagi korban bencana yang tidak berbahasa Jepang.

Pada H+1 pasca bencana, Jepang melihat adanya kegagalan infrastruktur pengendali banjir dalam menghadapi bencana tahun ini. Terutama melihat potensi bencana di wilayah dengan permukiman padat penduduk. Kerusakan kecil pada Dam maupun infrastruktur pengendali banjir bisa berdampak terhadap bertambahnya jumlah korban pada bencana berikutnya.

Namun demikian, Indonesia punya kesempatan belajar dari Jepang. Jika warga dan pemerintah mau bekerja sama, maka dalam dua hari ini Jepang sudah menunjukkan bahwa komitmen global  dari PBB sejak setahun lalu dalam pengurangan risiko bencana inklusif yaitu "leaving no one behind" bisa diwujudkan. Rasio korban saat ini masuk dalam skenario 1/200. Jika dibandingkan saat terjadinya Isewan Typhoon 60 tahun lalu, teknologi dan pengetahuan kebencanaan terus mampu menekan jumlah korban.

Screenshot_2019-10-13_at_20.23.38.png

#DRRday #BuildToLast

Syarifah Aini Dalimunthe

*)Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan - LIPI

**) Mahasiswa Doktoral, Graduate School of Environmental Studies - Nagoya University, Jepang

powered by social2s
Go to top