Kamis pagi, 26 September 2019 BMKG melaporkan telah terjadi gempa dengan magnitude 6.8 disebelah Timur Laut Kota Ambon, Maluku pukul 08.46 WIB. Merujuk pada analisis real-time portal InaSAFE gempa tersebut berada pada skala MMI V dengan kedalaman 10 Kilometer di wilayah Ambon. BMKG mempertegas bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Beberapa menit kemudian BMKG meralat magnitude gempa tersebut menjadi 6.5. Laporan terakhir dari BNPB terdapat satu jembatan retak di Ambon, satu bangunan Universitas Pattimura mengalami kerusakan dan tiga orang meninggal tertimpa reruntuhan bangunan .

Meskipun peringatan resmi sudah menyampaikan tidak adanya potensi tsunami, beberapa koran lokal dan media online mengabarkan bahwa warga Kota Ambon dan sekitarnya panik dan berlarian ke dataran tinggi. Hingga 27 September 2019 pagi, 245 kali gempa susulan dirasakan warga meskipun dengan magnitudo yang lebih kecil.

Gempa Besar di Dunia

Selain menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan hancurnya struktur bangunan, dampak sekunder yang mengikuti gempa bumi adalah kebakaran, tanah longsor, bahkan likuifaksi dan tsunami seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi tengah September 2018 lalu. Gempa bumi juga membawa peluang hilang hingga hancurnya kegiatan ekonomi masyarakat di area tersebut. Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat 20 gempa bumi paling besar didunia (Tabel 1). Gempa-gempa tersebut memiliki magnitudo lebih besar dari 8.

Tabel 1. Dua Puluh Gempa Paling Besar di Dunia

Waktu Kejadian Kedalaman Episentrum (Km) Magnitude Lokasi
5/22/1960 25 9.5 1960 Great Chilean Earthquake (Valdivia Earthquake)
3/28/1964 25 9.2 1964 Prince William Sound Earthquake, Alaska
3/11/2011 29 9.1 2011 Great Tohoku Earthquake, Japan
12/26/2004 30 9.1 2004 Sumatra - Andaman Islands Earthquake
11/4/1952 21.6 9 off the east coast of the Kamchatka Peninsula, Russia
1/31/1906 20 8.8 1906 Ecuador-Colombia Earthquake
2/27/2010 22.9 8.8 offshore Bio-Bio, Chile
2/4/1965 30.3 8.7 Rat Islands, Aleutian Islands, Alaska
4/11/2012 20 8.6 off the west coast of northern Sumatra
4/1/1946 15 8.6 1946 Aleutian Islands (Unimak Island) Earthquake, Alaska
8/15/1950 15 8.6 1950 Assam-Tibet Earthquake
3/9/1957 25 8.6 Andrean of Islands, Aleutian Islands, Alaska
3/28/2005 30 8.6 Northern Sumatra, Indonesia
11/11/1922 70 8.5 Atacama, Chile
2/1/1938 25 8.5 Banda Sea
10/13/1963 35 8.5 Kuril Islands
6/23/2001 33 8.4 near the coast of southern Peru
2/3/1923 15 8.4 near the east coast of the Kamchatka Peninsula, Russia
3/2/1933 15 8.4 1933 Sanriku (Sanriku-oki) Earthquake, Japan
9/12/2007 34 8.4 Southern Sumatra, Indonesia

Sumber : USGS 20 Largest Earthquake in the World

Di dalam daftar dua puluh gempa tersebut lima gempa terbesar berlokasi di Indonesia. Bahkan gempa dengan magnitude 9.1 tahun 2004 di Aceh - Andaman masuk dalam urutan lima besar setelah Gempa Chile, Alaska dan Tohoku. Tidak hanya di Indonesia bagian barat, di bagian timur Indonesia tercatat pula gempa dengan magnitude 8.5 (Okal & Reymond, 2003). Gempa tersebut terjadi di Laut Banda pada 1 Februari 1938 yang memicu terjadinya tsunami setinggi 1,5 meter. Menurut catatan sejarah gempa tersebut tidak menyebabkan jatuhnya korban.

Di dunia, terdapat lima belas lempeng utama dan lempeng yang lebih kecil (microplates) yang aktif mengalami subduksi. Bagian paling aktif yang menjadi perbatasan antar lempeng dikenal sebagai cincin api (ring of fire). Sebesar sembilan puluh persen gempa di dunia terjadi pada wilayah ini, dan delapan puluh persen gempa besar tepat berada di atas cincin api.

Jika ditelaah dari jumlahnya, gempa di dunia sebenarnya mengalami penurunan selama setengah abad terakhir (Wisner,dkk., 2012). Namun demikian, pada paruh abad berikutnya tingkat kerusakan dan jatuhnya korban meningkat. Perusahaan asuransi Swiss Re tahun 2018 memberi gambaran bahwa bencana seperti gempa bumi dan bencana hidrometeorologi mencapai titik tertinggi penyebab kerugian dari sisi ekonomi. Sebesar US$155 miliar kerusakan disebabkan oleh bencana, secara global. Negara Asia mengalami kerugian PDB terbesar kedua setelah Amerika Utara.

Bersiap Menghadapi Guncangan Gempa Berikutnya

Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan definisi bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat dan mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, lingkungan, harta benda dan dampak psikologis. Jatuhnya korban terutama penduduk menjadi faktor penting bencana seperti gempa bumi menjadi sebuah ancaman serius yang memerlukan perhatian dalam sebuah negara.

Bank Dunia menyampaikan bahwa dengan laju pertumbuhan perkotaan di Indonesia rata-rata 5.1% per tahun, maka pada tahun 2025 sekitar 68% penduduk akan tinggal di kota. Kota-kota baru tersebut diperkirakan berjumlah 300 dengan mengikuti model pertumbuhan seperti kota Jakarta (World Bank, 2019). Di tanah air, perkembangan kota-kota baru terpusat di atas cincin api dan berada di pesisir. Pada saat itu pula konsentrasi penduduk yang tinggi akan menambah jumlah penduduk berisiko (population at risk) baik oleh gempa bumi maupun tsunami.

tenda.png

Gambar 1. Tenda pengungsian korban gempa dan tsunami Palu-Donggala

Ahli Geologi dan Seismologi menyatakan jumlah gempa besar di dunia secara frekuensi tidak meningkat. Namun demikian potensi risiko pada most seismically hazardous areas (MSHAs) terutama perkotaan ditemukan pada zona terbangun dengan penambahan gedung bertingkat dan kerapatan bangunan yang tinggi (Holzer dan Savage 2013; NGDC 2017) . Saat ini terdapat 283 juta penduduk dunia tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta yang memiliki peluang risiko mengalami luka atau terperangkap di dalam reruntuhan bangunan.

Mencapai pertengahan tahun 2019, sejumlah 445 jiwa terenggut nyawanya karena terjebak reruntuhan bangunan saat terjadi gempa bumi di Indonesia. Lebih dari satu juta penduduk terpaksa mengungsi meninggalkan tempat tinggalnya. Bahkan setahun setelah gempa dan tsunami Palu, penduduk masih tinggal di tenda darurat karena pembangunan rumah dan infrastruktur yang masih tersendat (Detik.com,2019).

Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat-pusat ekonomi, peluang untuk memperoleh informasi yang tepat dan peringatan dini saat terjadi bencana menjadi sangat kecil. Pusat Pusat Penelitian Kependudukan LIPI terlibat dalam kajian yang dilakukan oleh UNDRR, UNESCO-IOC, BNPB dan BMKG di Palu - Donggala pasca bencana September 2018.

buk.png

Gambar 2. Laporan Kajian Limitations and Challenges of Warning Systems in Saving Lives UNDRR and UNESCO-IOC, 2019

Kajian ini menemukan bahwa korban berjatuhan akibat kehilangan golden time. Golden time merupakan rentang waktu singkat antara peringatan dini dan saat bencana mencapai wilayah berisiko. Akan tetapi yang ditemukan dari wilayah kajian peringatan dini untuk wilayah paling berisiko datang terlambat, tidak sampai bahkan di beberapa lokasi tidak ada sama sekali sehingga banyak korban berjatuhan (UNDRR and UNESCO-IOC 2019).

Selain permasalahan kegagalan peringatan dini, dari hasil studi ditemukan bahwa timbulnya korban berjatuhan karena mereka tidak langsung menyelamatkan diri dari guncangan gempa yang pertama. Beberapa narasumber bahkan memutuskan kembali ke dalam rumah untuk menyelamatkan anggota keluarga atau menyelamatkan barang berharga. Informan lain menyebutkan memilih kembali ke rumah karena merasa guncangan gempa bumi tidak membahayakan jiwa. Belajar dari gempa Tohoku 2011, korban gempa dan tsunami berjatuhan karena penduduk memilih diam di tempat (34%) menunggu gempa reda, hanya 20% penduduk yang memutuskan langsung menyelamatkan diri pada guncangan gempa yang pertama (Lindell dkk,2013 dan Jon dkk, 2016).

Tanpa menihilkan adanya kontribusi teknik dalam pengurangan risiko seperti misalnya penerapan building code dan pemutakhiran sistem peringatan dini; dari sudut pandang kesiapan masyarakat langkah yang saat ini yang dapat dilakukan untuk bersiap menghadapi guncangan gempa berikutnya adalah :

Masyarakat perlu diyakinkan bahwa ketika merasakan guncangan gempa harus langsung menyelamatkan diri terutama bagi komunitas yang tinggal di pesisir. Sistem peringatan dini memang membantu pengurangan risiko, akan tetapi dengan sistem yang belum berjalan masih ditemukan korban di Palu dan Donggala yang merupakan peserta rutin pelatihan evakuasi. Korban kehilangan golden time karena menunggu informasi peringatan dini yang gagal sampai ke tingkat individu akibat jaringan seluler yang terputus dan sirine yang tidak berfungsi.

Selain itu, mereproduksi kembali pengetahuan mengenai kejadian gempa dan tsunami terdahulu. Gempa sebagai bencana tunggal maupun yang kemudian diikuti dengan bencana sekunder seperti tsunami masing-masing memiliki karakteristik yang unik. Misalnya di Aceh masyarakat memiliki waktu lebih kurang 15 menit setelah guncangan pertama untuk menyelamatkan diri. Sedangkan di Palu dan sebagian timur Indonesia, golden time yang tersedia kurang dari 5 menit. Sehingga penting untuk menempatkan pengetahuan dan sejarah gempa terdahulu untuk peningkatan kesiapan yang lebih efektif sesuai.

Berikutnya menghidupkan kembali pengetahuan dalam mengamati tanda-tanda alam. Sebagai contoh, penduduk Desa Loli Saluran di pesisir barat Kabupaten Donggala selamat dari gempa dan tsunami setelah mengamati tingkah laku hewan yang tadinya merumput perlahan bergerak menjauhi pesisir.

Terakhir adalah menggaungkan kembali proses evakuasi mandiri. Proses evakuasi mandiri bukan berarti nir dukungan infrastruktur. Jalur evakuasi terdekat dengan permukiman harus terbebas dari halangan menuju penampungan sementara. Selain itu jalur evakuasi perlu disiapkan agar dapat dilalui juga oleh penyandang disabilitas dan lansia.

 

Syarifah Aini Dalimunthe

*)Peneliti -Pusat Penelitian Kependudukan - LIPI

**) Mahasiswa Doktoral, Graduate School of Environmental Studies - Nagoya University, Jepang

___________________________

Daftar Pustaka

Detik.com. 5 September 2019. Hampir Setahun Bencana Palu, Pengungsi Masih Tinggal di Tenda Darurat. Diakses pada 26 September 2019, dari https://news.detik.com/foto-news/d-4694235/hampir-setahun-bencana-palu-pengungsi-masih-tinggal-di-tenda-darurat

earthquake.usgs.gov. 20 Largest Earthquakes in the World. Diakses pada 26 September 2019, dari https://earthquake.usgs.gov/earthquakes/browse/largest-world.php

Holzer, T.L., and J.C. Savage. 2013. Global earthquake fatalities and population. Earthquake Spectra 29(1): 155–175.

Jon, I., Lindell, M. K., Prater, C. S., Huang, S. K., Wu, H. C., Johnston, D. M., … Lambie, E. (2016). Behavioural Response in the Immediate Aftermath of Shaking: Earthquakes in Christchurch and Wellington, New Zealand, and Hitachi, Japan. International journal of environmental research and public health, 13(11), 1137. doi:10.3390/ijerph13111137

Lindell M.K., Prater C.S., Wu H.C., Huang S.K., Johnston D.M., Becker J.S., Shiroshita H. Immediate behavioral responses to earthquakes in Christchurch New Zealand and Hitachi Japan. Disasters. 2016;40:85–111. doi: 10.1111/disa.12133

NGDC-WDS (National Geophysical Data Center-World Data Service). 2017. Significant earthquake database. Boulder, CO: NOAA National Centers for Environmental Information (NCEI).

Okal, E. A., & Reymond, D. (2003). The mechanism of great Banda Sea earthquake of 1 February 1938: applying the method of preliminary determination of focal mechanism to a historical event. earth and planetary science letters, 216(1), 1-15.

Prati G., Saccinto E., Pietrantoni L., Pérez-Testor C. The 2012 Northern Italy earthquakes: Modeling human behavior. Natural Hazards. 2013;69:99–113. doi: 10.1007/s11069-013-0688-9

Swiss Re. (2019). Natural catastrophes and man-made disasters in 2018: “secondary” perils on the frontline, Sigma 2/2019. Diakses pada 26 September 2019, dari https://www.swissre.com/dam/jcr:c37eb0e4-c0b9-4a9f-9954-3d0bb4339bfd/sigma2_2019_en.pdf

UNDRR and UNESCO-IOC (2019), Limitations and Challenges of Early Warning Systems: A Case Study from the 2018 Palu-Donggala Tsunami. United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR), Regional Office for Asia and the Pacific, and the Intergovernmental Oceanographic Commission of United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (IOC Technical Series N° 150)

Wisner, B., Guillard, J. C., Kelman, I. (Eds) (2012) The Routledge Handbook of Hazards and Disaster Risk Reduction. London: Routledge.

World Bank.(2019). Indonesia: Integrated Development to Improve Lives of Growing Urban Population. Diakses pada 26 September 2019, dari https://www.worldbank.org/en/news/press-release/2019/06/11/indonesia-integrated-development-to-improve-lives-of-growing-urban-population

powered by social2s
Go to top