Pada tanggal 23-24 Juni, Gusti Ayu Ketut Surtiari, peneliti Ekologi Manusia di Pusat Penelitian Kependudukan, diundang untuk mengikuti workshop penulisan paper terkait dengan Tranformative Adaptation dengan studi kasus Jakarta di Bonn-Jerman. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara United Nations Research Institute for Social Development (UNRISD) dengan Rosa Luxemburg Stiftung (RLS). Tranformative Adaptation dalam kegiatan ini adalah mengacu pada definisi yang dikembangkan oleh UNRISD sebagai salah satu lembaga PBB yang mengedepankan pentingnya keadialan sosial dalam pembangunan. Tranformative Adaptation adalah sebuah terminologi yang saat ini banyak didengungkan dalam konteks adaptasi perubahan iklim disebabkan karena adaptasi untuk menghadapi perubahan iklim dengan menggunakan bussiness usual tidak lagi mampu mengurangi akar masalah dari kerentanan dan risiko masyarakat dari dampak perubahan iklim yang semakin nyata terjadi dan berdampak sangat buruk di kalangan masyarakat yang tergolong rentan.

Dalam konteks adaptasi terhadap perubahan iklim, konteks keadilan dalam melakukan adaptasi perlu  diimplementasikan dengan mempertimbangan keadilan bagi penduduk yang tergolong rentan di perkotaan yaitu penduduk miskin yang tinggal di permukiman kumuh dan permukiman yang illegal. Selanjutnya, melalui workshop ini diharapkan digali lebih dalam bagaimana keadilan bagi penduduk rentan atau kelompok rentan dapat diwujudkan dalam konteks adaptasi perubahan iklim. Peserta dari kegiatan ini adalah peneliti dari dua negara yang dijadikan lokasi studi kasus yaitu dari Ho Chi Minh City, Vietnam dan Jakarta, Indonesia. Pendukung dari kegiatan ini adalah Rosa Luxemburg Stiftung, sebuah institusi di Jerman dengan beberapa cabang di berbagai negara yang memiliki visi untuk mengedepankan isu sosial dan aspek penduduk dalam berbagai dimensi pembangunan termasuk dalam kegiatan adaptasi perubahan iklim.

Kegiatan ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah melakukan diskusi terbatas yang intensif dengan peneliti dari dua negata, yaitu Indonesia yang membahas studi kasus Jakarta dan Vietnam yang membahas studi kasus di Ho Chi Minh City. Kedua studi kasus ini diangkat dengan mempertimbangkan adanya kesamaan karakteristik fenomena banjir yang diyakini terjadi secara alami dan juga akibat dari dampak urbanisasi yang tidak terkendali namun diperparah oleh adanya perubahan dari siklus curah hujan sebagai bagian dari dampak perubahan iklim. Banjir yang ekstrim terjadi lebih sering dengan pola yang tidak menentu sehingga meningkatkan ketidakpastian bagi penduduk yang rentan dan juga pemerintah secara umum. Tujuan dari workshop secara umum adalah adalah menajamkan konsep Transformative Adaptation dari konsep ke dalam praktek khususnya dalam proses pengambil keputusan bagi kelompok pemangku kepentingan. Gusti Ayu bekerjasama dengan peneliti senior dari UI, Hendricus Andy Simarmata membawa hasil kajian kami terkait dengan Jakarta pada workshop ini. Andy SImarmata mengungkapkan konsep adaptasi dari eprspektif perencanaan kota, dan Gusti Ayu mengangkat isu dari persepektif kependudukan yaitu sistem individu dan masyarakat sebagai kelompok rentan yang terdampak dan juga merupakan pelaku dari adaptasi.

Screenshot_2019-06-27_at_17.27.25.png

Tahap kedua adalah mendiskusikan konsep yang sama pada lingkup yang lebih luas dan terbuka yaitu melalui seminar terbuka yang dilaksanakan di Center for Development Research, University of Bonn. Dalam seminar terbuka ini, Gusti Ayu mempresentasi studi kasus Jakarta yang kemudian dibahas bersamaan dengan pemaparan studi kasus di Afrika Selatan dan diikuti dengan pembahasan konseptual terkait dengan Transformative Adaptation oleh peneliti dari UNRISD. Dalam diskusinya, isu terkait dengan bagaimana membedakan antara adaptasi dan transformative adaptation adalah yang pertama yang menjadi perhatian penting. Hal ini disebabkan, ada berbagai definisi terkait dengan adaptasi yang sangat mendekati definisi yang digunakan dalam konteks transformative adaptation. Dalam konteks kajian kali ini, transformative adaptation digunakan dengan menekankan tidak adanya dampak negatif dari adaptasi yang dilakukan oleh satu aktor atau kelompok terhadap aktor atau kelompok lain khususnya dari level yang berbeda. Misalnya, ketika pemerintah menerapkan strategi adaptasi, tidak seharusnya mengorbankan kelompok miskin atau kelompok rentan yang ada di kawasan tersebut tetapi justru benar benar membantu mereka menjadi tidak rentan.  Adaptasi yang ideal adalah jika satu adaptasi oleh satu kelompok atau organisasi dapat  mendukung adaptasi yang akan dilakukan oleh kelompok atau organisasi yang lainnya.

Secara keseluruhan, isu wilayah yang dipilih sebagai fokus kajian adalah wilayah kota yang berlokasi di kawasan pesisir. Latar belakang pemilihan kota-kota pesisir adalah karena adanya kenyataan bahwa kota di pesisir mengalami dampak perubahan iklim yang signifikan. Kenyataan yang sudah dapat dilihat dan dirasakan adalah semakin seringnya banjir dengan dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat dan juga pemerintah.  Demikian juga dengan dampak dari kenaikan  muka air laut, dengan menyadari adanya dampak dari penurunan muka tanah (land subsidence). Tingginya tingkat kerentanan kota pesisir diantaranya disebabkan karena jumlah penduduk dan infrastruktur penting yang terpapar cukup besar dan juga sudah terjadi penurunan kualitas lingkungan. Walaupun dampak perubahan iklim di kota tidak langsung mempengaruhi penghidupan penduduk, sebagaimana yang dialami oleh kelompok petani dan nelayan yang memiliki sumber penghidupan yang tergantung langsung pada cuaca, tetapi dampak kerugian yang dialami penduduk rentan di perkotaan atas kerusakan dan kehilangan aset cukup besar. Sementara itu, adaptasi yang diimplementasikan oleh pemerintah dalam beberapa hal menunjukkan bahwa penekanannya masih pada pentingnya pembangunan infrastruktur fisik yang seringkali mengabaikan aspek sosial dari adaptasi. Akibatnya, muncul beberapa kecenderungan munculnya risiko baru di masa mendatang dan atau menambah tingkat kerentanan penduduk penduduk atau kelompok yang sudah rentan terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, disadari pentingnya untuk mentransformasi adaptasi menjadi lebih transformatif atau lebih progresif untuk mempertimbangkan kelompok rentan dalam perencanaan adaptasi dan juga dalam implementasinya.

Gusti Ayu Ketut Surtiari, Peneliti Ekologi Manusia di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

powered by social2s