“Belum ke Sorong kalau tidak ke Pulau Doom”

Ucapan itu berulang kali diucapkan oleh penduduk Kota Sorong Papua Barat kepada kami. Mungkin tidak salah, perkembangan Kota Sorong memang dimulai dari Pulau Doom.

Sejarah Kota Sorong dimulai dari tahun 1935 pada masa Hindia Belanda dimana Belanda menjadikan Sorong sebagai kota minyak dengan adanya perusahaan Bataasfse Petroleum Maatschappij (BPM) dan membangun Pulau Doom sebagai pusat pemerintahannya. Hal inilah yang menyebabkan banyak ditemukan bangunan dengan arsitektur Belanda yang sudah disesuaikan dengen iklim tropis. Hingga saat ini bangunan khas kolonial yang masih bisa ditemui adalah gedung penjara yang sudah beralih fungsi menjadi sekolah, gereja, hingga rumah-rumah dengan arsitektur khas. Hingga saat ini pengaruh Belanda masih sangat terasa di pulau ini, di salah satu sudut pulau ditemukan rumah dengan mural bergambar Zwarte Piet atau Black Pete, yaitu salah satu pembantu Santa yang berkulit hitam dan hanya ada dalam dongeng Natal di Belanda dan beberapa negara Eropa.

Pembangunan infrstruktur di Pulau Doom tidak main-main, Pemerintah Belanda bahkan sudah membangun pembangkit listrik tenaga diesel untuk penerangannya. Pada masa itu Pulau Doom sering disebut sebagai pulau bintang karena terang benderang dibandingkan dengan wilayah Papua pada umumnya. Untuk ketersediaan air minum, penduduk pulau ini sudah mengkonsumsi air laut yang diolah menjadi layak minum.

Perkembangan suatu kota pasti tidak dapat dilepaskan dari penduduknya, terutama mobilitas penduduknya. Keberadaan Sorong dan Pulau Doom yang sudah menjadi pusat kegiatan dari masa Hindia Belanda menyebabkan banyaknya migrasi masuk ke wilayah ini. Penduduk yang datang berasal dari wilayah Papua lainnya, Sulawesi, Maluku, hingga Jawa untuk bekerja di perusahaan minyak BPM. Hal ini menjadikan Sorong menjadi kota yang majemuk dan kata orang lokal “semua suku Indonesia ada di Sorong! Kami bhineka tunggal ika”.

Daya tarik Sorong sebagai kota tujuan migran dengan motif pekerjaan terjadi hingga saat ini. Penelitian tim Mobilitas Penduduk LIPI tahun 2018 mengadakan penelitian di Sorong dengan judul Migrasi Tenaga Kerja Berpendidikan Tinggi: Kontribusi terhadap Pembangunan Sumber Daya Manusia. Penelitian menunjukkan bahwa penduduk migran risen terbesar di Papua Barat berada di Kota Sorong. Motivasi utama masuknya penduduk pendatang ke kota ini terkait dengan pekerjaan. Jika dulu Sorong berkembang arena sektor migas, saat ini berkembang sektor jasa karena Sorong merupakan pintu gerbang Papua. Jenis pekerjaan yang diincar migran utamanya adalah bidang perhotelan, perbankan dan perdagangan.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa Sorong memberikan harapan peningkatan pendapatan dibanding wilayah lain di Indonesia Timur. Salah satu responden kami mengatakan, "Daripada di kampung (Luwu Timur-red) lebih baik saya merantau ke Sorong, bisa bekerja di hotel dan menabung." Selain itu pekerja migran pendatang pada umumnya mempunyai latar belakang pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan penduduk lokal sehingga dengan bekerja di Sorong mereka mendapatkan posisi pekerjaan yang lebih baik dibandingkan di daerah asalnya.

30815897 2047235942181508 7588984058700032093 o

(Inayah Hidayati - Peneliti Mobilitas Penduduk)

PPK LIPI on Twitter

Go to top