Jakarta, Humas LIPI. Pandemi COVID-19 tercatat sebagai kejadian yang sangat penting di hampir seluruh bagian dunia, dan masih menjadi ancaman bagi kesehatan secara global. Terkait dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi pandemi ini, diperlukan data dan informasi dasar untuk menentukan kebijakan, program, strategi, bahkan taktik dilapangan. “Survei sosial demografi dampak COVID-19, yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi satu langkah penting untuk mengetahui dampak pandemi berdasarkan variable-variabel demografi”, sebut Kepala Pusat Penelitian dan Kependudukan  LIPI,  Herry Yogaswara saat membuka webinar dengan judul “Membedah Hasil Survei Dampak Covid-19: Pengaruhnya pada Perilaku dan Produktivitas Penduduk”, pada Sabtu (13/6). Dia menambahkan, Hasil survei ini mempunyai kredibilitas yang tinggi, bukan hanya karena BPS yang melakukan, tetapi karena menggunakan metodologi yang sangat kuat dengan jumlah responden 87.329 orang.

Survei ini menginformasikan bahwa sebagian besar responden telah melaksanakan protokol kesehatan, menjaga jarak, sering mencuci tangan, memakai masker dan hand sanitiser, serta mengetahui secara detail kebijakan physical distancing dan menyatakan bahwa isolasi mandiri cukup dan sangat efektif.

“Hasil survei ini ‘sangat menjanjikan’ tetapi data dari situs resmi pemerintah menginformasikan bahwa peningkatan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia masih terus meningkat, pada 21 Mei sebanyak 973 orang dan 10 Juni mencapai 1.241 orang”, ungkap Deny Hidayati Peneliti Utama Bidang Ekologi Manusia LIPI.

Deny menyoroti tiga aspek penting yang terkait dengan dampak COVID-19 yaitu: (1) Sosial demografi; (2) Perilaku penduduk; (3). Produktivitas penduduk. Bahasan terkait pada aspek sosial demografi, menurut Deny yang dominan disajikan dalam buku adalah variabel jenis kelamin dengan membandingkan antara laki-laki dan perempuan, baik terkait dengan perilaku maupun produktivitas penduduk. Sedangkan variable sosial demografi yang lain, terutama kelompok umur dan pendidikan penjelasannya sangat terbatas.

“Padahal, kelompok umur sangat penting ketika membahas dampak COVID-19, karena berdasarkan data situs resmi pemerintah (covid19.go.id) kelompok usia 60 tahun ke atas merupakan kelompok umur yang paling rentan dengan presentase kematian  paling tinggi. Sedangkan kelompok umur 31-44 dan 45-59 merupakan dua kelompok umur yang terkonfirmasi positif COVID-19 dengan presentasenya tinggi”, ungkap Deny.

Dirinya menyebutkan, ada ‘gap’ antara hasil survei dan fakta di lapangan. “Idealnya ketika sebagian besar penduduk/responden telah melaksanakan protokol kesehatan, jumlah kasus positif terinfeksi virus corona dapat ditekan. Gap ini mungkin dapat dijelaskan melalui metode kualitatif dengan wawancara”, sebutnya.

Bahasan terakhir, studi terhadap produktivitas penduduk, diindikasikan dari terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 2,52 persen responden dan sebagian besar responden 60,74 persen sementara dirumahkan. Persentase responden yang terkena PHK dari hasil survei ini cukup kecil, jika dibandingkan dengan hasil survei lain. Contoh,  hasil survei dampak darurat virus corona yang dilakukan oleh konsorsium LIPI, Kemnaker dan UI sebesar 15,6 persen dan hasil survei ke empat yang dilakukan oleh tim Panel Ilmu Sosial untuk Kebencanaan sebesar 17,3 persen”, urai Deny. Sedangkan pemilihan sampel untuk kondisi pekerja yang di ambil hanya di sektor jasa transportasi dan pergudangan, sementara sektor lain, seperti pertanian, perkebunan dan perikanan tidak disajikan data nya. “ Padahal sektor pertanian sangat penting dalam menopang ketersediaan pangan nasional. Selain itu jumlah petani yang terdampak COVID-19 juga sangat besar”, tutup Deny. (swa/ed.mtr)

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait