Jakarta,Humas LIPI. Pandemi COVID-19 mengakibatkan terjadinya perubahan kebijakan secara mendasar dalam dunia pendidikan. Atas dasar regulasi Kemdikbud No.4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan pendidikan diantaranya pembelajaran daring/jarak jauh, dan regulasi No.15, 2020 tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah imbas dari penutupan sementara sekolah.” Penutupan sementara  sekolah sangat penting agar keselamatan dan kesehatan lahir batin peserta didik, pendidik, kepala satuan pendidikan dan seluruh warga satuan pendidikan tetap terjaga dan terhindar dari penularan virus ”, terang peneliti Sosiologi Pendidikan pada Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Anggi Afriansyah, dalam acara “Aktualisasi Pancasila dalam Pendidikan Menghadapi Era New Normal yang diselenggarakan secara daring oleh BPIP RI pada Selasa (9/6).

Anggi menyebutkan, sejumlah negara memberlakukan penutupan sekolah untuk mencegah penyebaran virus. Berdasarkan data  25 Mei 2020, lebih dari 1,1 miliar peserta didik dipengaruhi oleh penutupan sekolah, lembaga pelatihan dan universitas, dengan penutupan nasional yang efektif di 146 negara. “Berbagai bentuk pembelajaran online dan kolaborasi telah menjadi fokus perhatian dalam upaya untuk memastikan kelangsungan pembelajaran”, sebutnya.

Lalu, penerapan pembelajaran online  di Rumah  tidak semudah yang dibayangkan. “Guru memberikan tugas kepada siswa-nya lewat pesan di media sosial. Namun, ada sejumlah masalah yang perlu diatasi bersama. Belajar di Rumah ini memerlukan sejumlah perangkat kerja, seperti gawai/telepon seluler, laptop dan tentunya pulsa internet”, ungkap Anggi. Dirinya menyebutkan tidak semua siswa mampu mengakses semua itu, seperti keberadaan sinyal internet ini pun belum merata di semua wilayah. Jangankan membandingkan antara Pulau Jawa dan Luar Jawa, di Pulau Jawa saja masih ada perbedaan kualitas sinyal internet.

“Belajar di Rumah menyebabkan meningkatnya peran orang tua dalam proses belajar-mengajar. Materi atau tugas yang diberikan guru sedikit-banyak bisa dibantu diajarkan para orang tua di rumah,” kata Anggi.  Oleh karena itu, dukungan keluarga merupakan kunci keberhasilan siswa Belajar di Rumah.

“Di sinilah makna pendidikan yang utama bisa kita terapkan, yaitu keseimbangan antara pendidikan lahir dan batin serta akal dan budi-pekerti”, sebutnya. Anggi juga mengatakan, tidak hanya cerdas secara teknologi, namun cerdas juga secara emosi, sosial, dan spiritual.

“Sifat perduli, belas-kasih, bekerjasama, bergotong-royong tanpa membedakan latar belakang etnik dan keyakinan, menjadi kata kunci pendidikan yang perlu terus dipupuk dan dijaga dalam karakter anak didik Bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila”, katanya. Anggi juga mengingatkan agar hal ini bisa di mulai dari diri sendiri dan keluarga di rumah, seperti yang di canangkan Ki Hajar Dewantara bahwa pilar pendidikan ada di keluarga dan masyarakat dan tidak hanya dari sekolah.“ Atas dasar itu, pendidikan tidak hanya kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan namun juga membentuk karakter”, pungkas Anggi. (brl/ed.mtr)

powered by social2s