Jakarta, Humas LIPI. Peran masyarakat untuk bersama-sama negara menghadapi pandemi Covid-19 sangat penting dalam memutus rantai penyebaran virus.“Ujung tombak dalam  menghadapi pandemi Covid-19 adalah masyarakat dalam hal bagaimana masyarakat berpartisipasi,” sebut Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI,  Rusli Cahyadi pada saat mengisi acara Webinar bertajuk “ Resiliensi dan Tantangan Multidimensional  dalam Penanganan Pandemi COVID-19 di Indonesia”, pada Rabu (29/4) lalu. Berdasarkan survei yng dilakukan secara daring, ada sejumlah studi sosial yang  membawa harapan baru untuk strategi kebijakan dalam penangan Covid-19. “ Studi sosial ini dibentuk secara konsorsium atas inisiatif Kemenristek/ BRIN untuk mendukung percepatan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.,” ujar Rusli.

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Politeknik Statistika- Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, serta Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia, telah membentuk tim kajian Studi Sosial Covid-19 sebagai salah satu upaya penanganan Covid-19 di Indonesia. Studi Sosial terbagi dalam lima tim yaitu Tim Studi Resiliensi dan Pelaku, Tim Perbandingan Kebijakan penanggulangan negara-negara lain, Tim Studi Ekonomi, Tim Media Sosial serta Tim Kesehatan Masyarakat.

Dua judul tim studi, Resiliensi & Pelaku dan Perbandingan kebijakan penanggulangan negara-negara lain adalah kekuatan kerja sama riset untuk menciptakan resiliensi dan tantangan multidimensional dalam penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Berkaca dari banyak negara dalam hal kebijakan penanggulangan pandemi Covid-19, pemerintah  Indonesia dapat mencontoh apa yang dilakukan oleh  negara lain. Menurut Rusli, bagaimana negara-negara lain di dunia ini merespon pandemi Covid-19 ?

Secara umum kebijakan-kebijakan yang dilakukan di semua negara hampir sama. Regulasi himbauan Social distancing, Stay at Home’ telah diterapkan di semua negara. “Perbedaannya,  di level bagaimana tingkat ketegasan dari penerapan peraturan itu, serta sikap masyarakat dalam merespon berbagai kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah,” jelas Rusli

Secara umum ada tiga kelompok besar negara yang berkaitan dengan cara merespon pamdemi Covid-19 ini: (1) negara yang berhasil menekan perkembangan virus corona ke level manageable ( Cina, Korea Selatan, Vietnam, Jepang) menerapkan  budaya pengawasan dan pemantauan yang di dukung oleh masyarakat serta kepatuhan masyarakat terhadap aturan dari pemerintah ; (2) negara-negara yang dianggap tidak berhasil ( India, Italia) respon masyarakat berbeda, ada aspek kultural yang berperan bagaimana masyarakat merespon aturan pemerintah ; (3) negara-negara yang sedang berupaya dan tidak bisa dikategorikan seperti apa. Dari tiga hal tersebut, ” Respon masyarakat dalam upaya menanggulangi Covid-19 ini tidak bisa dilepaskan dari peran masyarakat itu sendiri,” Ungkap Rusli.

Kemudian apa yang bisa kita hubungkan diantara berbagai kasus negara tersebut. Rusli menegaskan, salah satu titik kuncinya adalah partisipasi masyarakat yaitu ‘trust’ masyarakat terhadap pemerintah. Lalu bagaimana penerapan partisipasi masyarakat di Indonesia?. Rusli mencontohkan penerapan yang sudah berjalan di Indonesia seperti: Pengaktifan peran serta di tingkat RT/RW, kampung, komplek, desa atau satuan komunitas; juga dukungan keterbukaan informasi perjalanan (wilayah/tempat dan waktu) sehingga dapat dipergunakan oleh masyarakat secara mandiri.

Faktor penting keberhasilan penanganan virus corona, (1) Pemerintah yang assertive atau tegas; (2) Otoritas kesehatan yang kuat; (3) Partisipasi masyarakat.  “ Akhirnya yang paling penting sebagai ujung tombak pencegahan pandemi Covid-19 adalah masyarakat turut serta berpartisipasi,” pungkas Rusli. ( mtr/swa)

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait