Pada tanggal 28 Mei 2019 telah dilaksanakan diskusi publik dengan judul “Tantangan Pemindahan Ibukota: Aspek Mitigasi Bencana, Ekologi, dan Sosial Budaya” di Media Center LIPI. Diskusi ini berusaha mengupas secara holistik mengenai tantangan pemindahan Ibukota yang sedang hangat dibicarakan dalam beberapa bulan terakhir. Secara garis besar tantangan pemindahan Ibukota dilihat melalui 3 aspek besar yaitu kebencanaan, lingkungan dan masyarakat. Diskusi ini menghadirkan 4 peneliti dari LIPI sebagai pembicara dalam bidangnya masing-masing.

Paparan pertama diberikan oleh Galuh Syahbana Indraprahasta dari Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen IPTEK mengenai sentralitas Jakarta dan urgensi pemidahan ibukota. Di dalam presentasinya Galuh menyatakan pemindahan ibukota tidak bisa menjadi jawaban dari permasalahan kepadatan dan kompleksitas Jakarta. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana permasalahan dapat diurai agar pemindahan ibukota jangan malah menjadi pemindahan masalah di daerah baru. Ditambah lagi pemindahan ibukota juga perlu memperhatikan pemindahan para aparatur sipil negara yang selama ini berlokasi di wilayah yang berdekatan satu dengan yang lainnya. Sehingga dapat dipastikan selain besarnya biaya pemindahan, juga ada pemindahan masyarakat dengan tipologi yang berbeda ke daerah yang baru.

Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Herry Jogaswara dari Pusat Penelitian Kependudukan. Bagi Herry, hal yang seringkali terlupa dalam pembahasan pemindahan ibukota adalah permasalahan konflik. Herry memaparkan bahwa ada beberapa wilayah yang diisukan menjadi calon ibukota baru. Beberapa lokasi tersebut diantaranya Palangkaraya dan Gunung Mas di Kalimantan. Daerah-daerah yang diisukan menjadi calon ibukota baru memiliki jejak histori konflik, salah satunya konflik Sampit. Meskipun sebenarnya konflik Sampit bukan serta-merta disebabkan oleh perbedaan etnis tetapi potensi konflik perlu diantisipasi agar pemindahan dapat dilaksanakan dengan lancar, diantaranya kepemilikan lahan adat. Di samping itu, penting bagi pemerintah untuk melibatkan para akademisi lokal untuk memberikan rekomendasi maupun masukan terkait lokasi calon ibukota. Pemerintah harus bisa melihat potensi daerah calon ibukota melalui kacamata akademisi lokal yang lebih mengerti dengan kondisi daerahnya.

Pemapar ketiga adalah Eko Yulianto dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI. Eko menjelaskan mengenai potensi bencana alam yang kemungkinan terjadi di seluruh Indonesia. Secara umum wilayah Indonesia berpotensi mengalami gempa akibat lempengan tektonik dan aktivitas vulkanik yang tersebar dari Sumatera sampai Papua. Potensi gempa tidak ditemukan di Kalimantan tetapi ada potensi bencana lain yaitu kebakaran lahan dan banjir. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi pemindahan ibukota karena jangan sampai aktivitas pemerintahan lumpuh karena adanya banjir.

Presentasi kemudian dilanjutkan oleh Joeni Setijo Rahajoe mengenai aspek ekologi di Kalimantan. Kalimantan memiliki lahan gambut yang besar dan keadaan ini perlu dijaga karena berkontribusi besar pada kawasan konservasi hijau dunia. Dalam kesempatan ini Joeni menjelaskan mengenai karakter, fungsi, dan fakta lahan gambut.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab mengenai permasalahan pemindahan ibukota, bagi keempat pembicara sebenarnya pemindahan ibukota tidak ada salahnya, hanya saja semua aspek perlu diperhatikan dan dipersiapkan dengan matang. Pemerintah juga jangan menganggap pemindahan sebagai jalan keluar permasalahan yang selama ini ada di Jakarta sebagai kota metropolitan tetapi juga sebagai sarana pendistribusian pusat kekuatan negara agar pembangunan juga dapat tercipta dengan merata. Semoga apabila wacana ini direalisasikan pemindahan ibukota dapat menjadi solusi yang baik bagi permasalahan yang ada selama ini dan tidak menimbulkan permasalahan baru di daerah tujuan.

Screenshot_2019-05-28_at_15.19.58.png

 

Diliput Oleh: Irin Oktafiani - Pusat Penelitian Kependudukan


powered by social2s
Go to top

Artikel terkait