Berbagai media beberapa hari terakhir ramai membicarakan kasus perundungan pelajar. Hampir semua seakan tidak percaya bahwa peristiwa ini dapat terjadi. Pendapat bermunculan dan mempertanyakan apa yang terjadi dengan dunia remaja saat ini.

Diskusi bermunculan melihat permasalahan ini dari berbagai perspektif, mulai dari analisis faktor-faktor yang melatarbelakangi peristiwa ini, sistem pendidikan, sistem hukum dan kebijakan perlindungan anak, bagaimana remaja dan lingkungan terdekat (orang tua dan keluarga) melihat permasalahan ini. Tagar dan petisi terkait kasus juga bermunculan menuntut pengusutan tuntas kasus ini.

Kasus ini menyadarkan kita semua betapa isu terkait remaja memerlukan perhatian dan prioritas, terlebih di era digital saat ini. Menilik ke belakang, sebenarnya berbagai permasalahan remaja sudah sering muncul dan berulang, tapi pemberitaannya seakan berhenti dengan sendirinya tanpa menghasilkan solusi kebijakan yang lebih baik.

Hari ini, 15 April 2019, kelompok Penelitian Keluarga dan Kesehatan P2 Kependudukan LIPI mengadakan dialog dengan tema “Ada Apa Dengan Remaja? Berkaca dari Kasus Perundungan di Era Digital”.

Hadir dalam dialog ini adalah Augustina Situmorang peneliti keluarga dan kesehatan P2 Kependudukan LIPI, Rita Pranawati dari KPAI, Ade Novita Juniano senior advisor Justika.com , Fellya Zumarnis duta GenRe 2018 dan Anggi Afriansyah peneliti bidang pendidikan P2 Kependudukan LIPI. Kegiatan dialog ini dipandu oleh Deshinta Vibriyanti, kepala kelompok penelitian keluarga dan kesehatan LIPI.

Augustina Situmorang memaparkan penelitian terkait perundungan dan kekerasan yang pernah dialami remaja melalui metode survei yang sudah dilakukan di Kota Medan. Kemudian, Rita Pranawari, komisioner KPAI menjelaskan mengenai landasan hukum, UU, dan prinsip terhadap perlindungan anak di Indonesia. Pembahasan cyber bullying yang sedang marak akhir-akhir ini disajikan oleh Anggi Afriansyah. Kasus cyber bullying perlu menjadi perhatian lebih lanjut karena orangtua sulit mengawasi sosial media anak.

Selanjutnya Ade Novita Juliano menekankan bahwa memperkenalkan manfaat dan risiko dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak penting diberikan oleh orang tua. Misalnya anak diberikan pemahaman mengenai konten yang bisa diupload di media sosial beserta risiko dari perbuatannya. Sesi terakhir hadir dari perwakilan remaja yaitu Fellya Zumarnis yang mengangkat perspektif remaja bagaimana menjadi netizen yang cerdas di era digital.

Screenshot_2019-04-15_at_16.10.28.png

#LIPI #kependudukan #keluarga #kesehatan #remaja #bullying #perundungan #cyberbullying @lipiindonesia

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait