Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian (PDHP), Pusat Penelitian Kependudukan LIPI pada hari Selasa tanggal 14 Agustus 2018 menggelar diskusi bulanan dengan mengusung konsep #Ph.DSeries1. Konsep #Ph.DSeries ini merupakan ruang agar para peneliti yang sedang atau telah menempuh studi doctor (S3) dapat berbagi ilmu dan pemahaman seputar disertasi penelitiannya serta memantik diskusi terhadap isu-isu kependudukan kepada sesama peneliti. Acara ini terbuka untuk umum dan dilaksanakan di ruang seminar lantai 7 Pusat Peneleitian Kependudukan LIPI.

Penyaji untuk diskusi #Ph.DSeries kali ini adalah Gusti Ayu Ketut Surtiari, beliau merupakan Ph.D Candidate di Institute for Environment and Human Security, United Nations University (UNU-EHS), Bonn, Jerman. Sesuai dengan bidang kepakaran beliau maka topik diskusi yang diangkat terkait dengan bencana alam yang diberi tajuk “Memahami Kontradiksi antara Kerentanan dan Resiliensi Menggunakan Indikator Demografi”. Isu bencana alam hingga saat ini masih menjadi masalah yang pelik, belum lama Indonesia kembali berduka dengan bencana gempa yang menimpa saudara-saudara di Lombok. Oleh karena itu, tema diskusi terkait dengan kebencanaan sangat penting terutama bagi para peneliti agar dapat menghasilkan buah pikiran yang solutif dalam merespon bencana alam khususnya di Indonesia. Gusti Ayu mengawali paparannya dengan melempar sebuah pertanyaan apabila terjadi bencana Siapa yang ‘”rentan”? Bagaimana bisa “rentan”? serta Siapa yang “tangguh”? Bagaimana bisa “tangguh”? Kata rentan mungkin sudah tidak asing kita dengar ketika terjadi bencana, korban bencana kerap kali dibubuhi dengan istilah rentan terhadap bencana. Sedangkan kata tangguh mungkin masih cukup asing karena kata resiliensi lebih familiar bila dikaitkan dengan kejadian bencana. Meskipun tidak begitu asing dan kerap digunakan beberapa media berita, tak jarang masih banyak yang misintrepretasi terhadap makna dari rentan dan tangguh. Kesalahan tafsir pada pemaknaan kata rentan dan tangguh terkait dengan kajian bencana memiliki pengaruh yang cukup penting. Oleh karena itu, Gusti Ayu mengajak peserta diskusi untuk lebih memahami makna kata rentan dan tangguh secara epistimologis.

Gusti Ayu menjelaskan, terminologi rentan (vulnerable) pada kejadian bencana seringkali diidentikan dengan masyarakat ekonomi rendah sebagai kelompok masyarakat yang rentan ketika bencana terjadi. Apakah memang benar masyarakat ekonomi rendah tepat dikatakan rentan terhadap bencana alam berdasarkan pemahaman semantik dari kata rentan? Sedangkan kecenderungan bencana alam yang terjadi di Indonesia terjadi secara berkelanjutan dan terus mencetak korban jiwa atau kerugian ekonomi. Sebagai contoh, bencana banjir di DKI Jakarta yang selama lima tahun ke belakang telah menjadi “agenda rutin.” Sedangkan terminologi tangguh memiliki makna sebaliknya yakni kelompok masyarakat yang dikatakan tangguh dalam merespon bencana adalah masyarakat ekonomi menengah hingga tinggi. Pola pikir tersebut muncul karena kecenderungan masyarakat ekonomi rendah ketika tertimpa bencana membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan kondisi sosial dan ekonominya. Akan tetapi muncul pertanyaan kembali, untuk masyarakat yang sering terkena bencana tetapi tetap bertahan tinggal di daerah rawan tersebut hingga berpuluh-puluh tahun? Apakah dia masuk dalam kategori tangguh? Karena tetap bertahan meski secara ruitn tertimpa musibah?

Screen_Shot_2018-08-31_at_09.58.27.png

Sumber: Redaksi Website dan Medsos P2 Kependudukan LIPI

Pentingnya pemahaman makna kerentanan dan ketangguhan dapat beimplikasi pada penyusunan kebijakan dan program terkait penanggulangan bencana yang efektif dan efisien. Sehingga ketika bencana alam datang kemampuan masyarakat dalam merespon bencana tersebut jauh lebih baik dari sebelumnya dan seseorang tidak mengalami kerugian yang besar dibanding kerugian yang telah dialami sebelumnya. Maka dari itu, penelusuran makna rentan dan tangguh dalam diskusi ini perlu dilakukan agar para peserta lebih memahami tindakan atau program apa yang tepat dilakukan agar penanggulangan bencana optimal. Gusti Ayu memberikan persamaan dan perbedaaan yang mendasar mengenai Kerentanan dan Ketangguhan, karena penting untuk diketahui secara cermat pemahaman makna dari rentan dan tangguh untuk membuat policy yang efektif dalam iklim tidak ada dampak yang tidak diinginkan.

Kajian kerentanaan sudah hampir lebih dari tiga dekade, banyak peneliti yang telah menelaah makna dari kerentanan dan ketangguhan. Beberapa peneliti menemukan bahwa pengertian kerentanan secara harfiah adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan ketidakberdayaan dalam diri seseorang atau sistem dalam menghadapi sesuatu yang di luar kebiasaan mereka. Kerentanan juga seringkali digunakan untuk menjelaskan risiko bencana karena risiko merupakan kombinasi dari bahaya, keterpaparan dan kerentanan. Risiko bencana sendiri memiliki pengertian yakni peluang untuk terkena dampak atau mengalami kerugian seperti kematian, luka, kehilangan aset rumah tangga, dan sebagainya.

Berdasarkan penjelasan tersebut banyak yang mengaitkan kerentanan dengan keterpaparan dan sensitivitas. Suatu sistem internal atau sistem individu yang menjadi rentan karena intensitas terpapar bencana dan sensitivitas dalam merespon bencana, sehingga apabila terkena dampak dari bencana sistem tersebut “down.” Namun, Turner et al (2003) menjelaskan bahwasanya definisi kerentanan erat kaitannya dengan kurangnya ketangguhan (lack of resilience) karena interaksi manusia dan lingkungan itu bersifat dinamis sehingga sifatnya fluktuaktif, seseorang masuk dalam kategori rentan apabila sering terpapar bencana akan sangat mungkin menjadi tangguh karena mendapat banyak pelajaran dari pengalaman, begitu juga sebaliknya seseorang yang tidak tangguh meskipun ia tidak masuk dalam kategori kelompok rentan lama kelamaan akan menjadi rentan. Pemahaman ini sangat penting sekali karena program atau kebijakan sebaiknya disusun secara komprehensif dan mendetail agar tidak terjadi pergeseran dari tidak rentan menjadi rentan. 

Terminologi ketangguhan menurut Walker & Salt (2006) memiliki pengertian kemampuan suatu sistem untuk menyerap gangguan dan masih mempertahankan fungsi dan struktur dasarnya. Maksudnya adalah suatu sistem memiliki kemampuan untuk mengembalikan keadaan atau struktur yang berubah menjadi sama seperti sebelumnya atau bahkan lebih baik. Dalam sebuah sistem, ketangguhan memiliki peranan dalam membentuk karakter individu agar tidak rentan apabila terjadi bencana alam. Sehingga, kerentanan dan ketangguhan merupakan terminologi yang saling berkaitan dan tidak dikotomis. Maka pemahaman akan makna dari terminologi tersebut menjadi penting karena apabila terdapat pergeseran pemahaman maka akan berdampak pada program dan kebijakan yang akan diterapkan.

 Penduduk adalah subjek dan objek dalam pembangunan, dengan kata lain program dan kebijakan yang diterapkan bermuara pada kesejahteraan penduduk. Indikator demografi mampu menjelaskan penduduk atau individu seperti apa yang masuk dalam kategori rentan dan tangguh. Seperti yang kita ketahui bahwa indicator demografi terdiri dari struktur umur, distribusi, dan komposisi penduduk, indikator ini dapat digunakan untuk menganalisis kecenderungan karakteristik individu yang rentan dan tidak rentan. Sehingga kita dapat pula mengetahui komunitas atau sistem yang optimal itu seperti apa berdasarkan analisis dengan menggunakan indikator demografi. Cara ini dapat mengukur kerentanan individu atau sistem secara sosial.

 SoVI atau Social Vulnerability Index adalah indeks yang dikembangkan oleh Susan Cutter untuk mengukur kerentanan sosial di USA terhadap bencana alam. Meskipun belum diterapkan di Indonesia, namun dapat menjadi gambaran atau catatan teknis bagaimanan mengukur kerentanan sosial akibat dari bencana alam. Peubah yang digunakan dalam SoVI terdiri dari peubah-peubah kependudukan seperti status sosial ekonomi, lansia dan anak-anak, pertanian, kepadatan rumah, gender, pekerjaan, dan sebagainya. Indicator demografi membantu memahami dinamika perubahan sosial di masyarakat.

Kesimpulan dari diskusi ini adalah bahwa kerentanan dan ketangguhan adalah dua terminologi yang saling berkaitan dan indikator demografi membantu memberi ketepatan dalam analisa dan pemanfaatannya bagi pengambil kebijakan. Baik kerentanan dan ketangguhan memberikan penekanan pada bagaimana sebuah sistem merespons perubahan. Namun, masing-masing dengan cara yang berbeda. Terakhir, kerentanan dapat kita simpulkan lebih mengarah pada actor-oriented sedangkan ketangguhan lebih mengarah pada system-oriented.

Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian (PDHP), Pusat Penelitian Kependudukan LIPI pada hari Selasa tanggal 14 Agustus 2018 menggelar diskusi bulanan dengan mengusung konsep #Ph.DSeries1. Konsep #Ph.DSeries ini merupakan ruang agar para peneliti yang sedang atau telah menempuh studi doctor (S3) dapat berbagi ilmu dan pemahaman seputar disertasi penelitiannya serta memantik diskusi terhadap isu-isu kependudukan kepada sesama peneliti. Acara ini terbuka untuk umum dan dilaksanakan di ruang seminar lantai 7 Pusat Peneleitian Kependudukan LIPI.

Penyaji untuk diskusi #Ph.DSeries kali ini adalah Gusti Ayu Ketut Surtiari, beliau merupakan Ph.DCandidate di Institute for Environment and Human Security, United Nations University (UNU-EHS), Bonn, Jerman. Sesuai dengan bidang kepakaran beliau maka topik diskusi yang diangkat terkait dengan bencana alam yang diberi tajuk “Memahami Kontradiksi antara Kerentanan dan Resiliensi Menggunakan Indikator Demografi”. Isu bencana alam hingga saat ini masih menjadi masalah yang pelik, belum lama Indonesia kembali berduka dengan bencana gempa yang menimpa saudara-saudara di Lombok. Oleh karena itu, tema diskusi terkait dengan kebencanaan sangat penting terutama bagi para peneliti agar dapat menghasilkan buah pikiran yang solutif dalam merespon bencana alam khususnya di Indonesia. Gusti Ayu mengawali paparannya dengan melempar sebuah pertanyaan apabila terjadi bencana Siapa yang ‘”rentan”? Bagaimana bisa “rentan”? serta Siapa yang “tangguh”? Bagaimana bisa “tangguh”? Kata rentan mungkin sudah tidak asing kita dengar ketika terjadi bencana, korban bencana kerap kali dibubuhi dengan istilah rentan terhadap bencana. Sedangkan kata tangguh mungkin masih cukup asing karena kata resiliensi lebih familiar bila dikaitkan dengan kejadian bencana. Meskipun tidak begitu asing dan kerap digunakan beberapa media berita, tak jarang masih banyak yang misintrepretasi terhadap makna dari rentan dan tangguh. Kesalahan tafsir pada pemaknaan kata rentan dan tangguh terkait dengan kajian bencana memiliki pengaruh yang cukup penting. Oleh karena itu, Gusti Ayu mengajak peserta diskusi untuk lebih memahami makna kata rentan dan tangguh secara epistimologis.

Gusti Ayu menjelaskan, terminologi rentan (vulnerable) pada kejadian bencana seringkali diidentikan dengan masyarakat ekonomi rendah sebagai kelompok masyarakat yang rentan ketika bencana terjadi. Apakah memang benar masyarakat ekonomi rendah tepat dikatakan rentan terhadap bencana alam berdasarkan pemahaman semantik dari kata rentan? Sedangkan kecenderungan bencana alam yang terjadi di Indonesia terjadi secara berkelanjutan dan terus mencetak korban jiwa atau kerugian ekonomi. Sebagai contoh, bencana banjir di DKI Jakarta yang selama lima tahun ke belakang telah menjadi “agenda rutin.” Sedangkan terminologi tangguh memiliki makna sebaliknya yakni kelompok masyarakat yang dikatakan tangguh dalam merespon bencana adalah masyarakat ekonomi menengah hingga tinggi. Pola pikir tersebut muncul karena kecenderungan masyarakat ekonomi rendah ketika tertimpa bencana membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan kondisi sosial dan ekonominya. Akan tetapi muncul pertanyaan kembali, untuk masyarakat yang sering terkena bencana tetapi tetap bertahan tinggal di daerah rawan tersebut hingga berpuluh-puluh tahun? Apakah dia masuk dalam kategori tangguh? Karena tetap bertahan meski secara ruitn tertimpa musibah?

Pentingnya pemahaman makna kerentanan dan ketangguhan dapat beimplikasi pada penyusunan kebijakan dan program terkait penanggulangan bencana yang efektif dan efisien. Sehingga ketika bencana alam datang kemampuan masyarakat dalam merespon bencana tersebut jauh lebih baik dari sebelumnya dan seseorang tidak mengalami kerugian yang besar dibanding kerugian yang telah dialami sebelumnya. Maka dari itu, penelusuran makna rentan dan tangguh dalam diskusi ini perlu dilakukan agar para peserta lebih memahami tindakan atau program apa yang tepat dilakukan agar penanggulangan bencana optimal. Gusti Ayu memberikan persamaan dan perbedaaan yang mendasar mengenai Kerentanan dan Ketangguhan, karena penting untuk diketahui secara cermat pemahaman makna dari rentan dan tangguh untuk membuat policy yang efektif dalam iklim tidak ada dampak yang tidak diinginkan.

Kajian kerentanaan sudah hampir lebih dari tiga dekade, banyak peneliti yang telah menelaah makna dari kerentanan dan ketangguhan. Beberapa peneliti menemukan bahwa pengertian kerentanan secara harfiah adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan ketidakberdayaan dalam diri seseorang atau sistem dalam menghadapi sesuatu yang di luar kebiasaan mereka. Kerentanan juga seringkali digunakan untuk menjelaskan risiko bencana karena risiko merupakan kombinasi dari bahaya, keterpaparan dan kerentanan. Risiko bencana sendiri memiliki pengertian yakni peluang untuk terkena dampak atau mengalami kerugian seperti kematian, luka, kehilangan aset rumah tangga, dan sebagainya.

Berdasarkan penjelasan tersebut banyak yang mengaitkan kerentanan dengan keterpaparan dan sensitivitas. Suatu sistem internal atau sistem individu yang menjadi rentan karena intensitas terpapar bencana dan sensitivitas dalam merespon bencana, sehingga apabila terkena dampak dari bencana sistem tersebut “down.” Namun, Turner et al (2003) menjelaskan bahwasanya definisi kerentanan erat kaitannya dengan kurangnya ketangguhan (lack of resilience) karena interaksi manusia dan lingkungan itu bersifat dinamis sehingga sifatnya fluktuaktif, seseorang masuk dalam kategori rentan apabila sering terpapar bencana akan sangat mungkin menjadi tangguh karena mendapat banyak pelajaran dari pengalaman, begitu juga sebaliknya seseorang yang tidak tangguh meskipun ia tidak masuk dalam kategori kelompok rentan lama kelamaan akan menjadi rentan. Pemahaman ini sangat penting sekali karena program atau kebijakan sebaiknya disusun secara komprehensif dan mendetail agar tidak terjadi pergeseran dari tidak rentan menjadi rentan.

Terminologi ketangguhan menurut Walker & Salt (2006) memiliki pengertian kemampuan suatu sistem untuk menyerap gangguan dan masih mempertahankan fungsi dan struktur dasarnya. Maksudnya adalah suatu sistem memiliki kemampuan untuk mengembalikan keadaan atau struktur yang berubah menjadi sama seperti sebelumnya atau bahkan lebih baik. Dalam sebuah sistem, ketangguhan memiliki peranan dalam membentuk karakter individu agar tidak rentan apabila terjadi bencana alam. Sehingga, kerentanan dan ketangguhan merupakan terminologi yang saling berkaitan dan tidak dikotomis. Maka pemahaman akan makna dari terminologi tersebut menjadi penting karena apabila terdapat pergeseran pemahaman maka akan berdampak pada program dan kebijakan yang akan diterapkan.

Penduduk adalah subjek dan objek dalam pembangunan, dengan kata lain program dan kebijakan yang diterapkan bermuara pada kesejahteraan penduduk. Indikator demografi mampu menjelaskan penduduk atau individu seperti apa yang masuk dalam kategori rentan dan tangguh. Seperti yang kita ketahui bahwa indicator demografi terdiri dari struktur umur, distribusi, dan komposisi penduduk, indikator ini dapat digunakan untuk menganalisis kecenderungan karakteristik individu yang rentan dan tidak rentan. Sehingga kita dapat pula mengetahui komunitas atau sistem yang optimal itu seperti apa berdasarkan analisis dengan menggunakan indikator demografi. Cara ini dapat mengukur kerentanan individu atau sistem secara sosial.

SoVI atau Social Vulnerability Index adalah indeks yang dikembangkan oleh Susan Cutter untuk mengukur kerentanan sosial di USA terhadap bencana alam. Meskipun belum diterapkan di Indonesia, namun dapat menjadi gambaran atau catatan teknis bagaimanan mengukur kerentanan sosial akibat dari bencana alam. Peubah yang digunakan dalam SoVI terdiri dari peubah-peubah kependudukan seperti status sosial ekonomi, lansia dan anak-anak, pertanian, kepadatan rumah, gender, pekerjaan, dan sebagainya. Indicator demografi membantu memahami dinamika perubahan sosial di masyarakat.

Kesimpulan dari diskusi ini adalah bahwa kerentanan dan ketangguhan adalah dua terminologi yang saling berkaitan dan indikator demografi membantu memberi ketepatan dalam analisa dan pemanfaatannya bagi pengambil kebijakan. Baik kerentanan dan ketangguhan memberikan penekanan pada bagaimana sebuah sistem merespons perubahan. Namun, masing-masing dengan cara yang berbeda. Terakhir, kerentanan dapat kita simpulkan lebih mengarah pada actor-oriented sedangkan ketangguhan lebih mengarah pada system-oriented.

(Ditulis oleh Oleh: Tria Anggita Hafsari, S.Si, Kandidat Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan-LIPI)

Go to top

Artikel terkait