Liputan Kegiatan International Conference and Summer Course (ICSC) 2018

 

Konferensi Internasional bertema “Population and Social Policy in a Disrupted World” diselenggarakan oleh Center for Population and Policy Studies Universitas Gadjah Mada (CPPS UGM) pada Senin, 6 Agustus 2018 bertempat di University Club Hotel  UGM.  Konferensi ini membahas keterkaitan antara populasi penduduk dan kebijakan sosial pada era sekarang ini yang telah bergeser pada era globalisasi dan perkembangan teknologi. Pergeseran tersebut menyebabkan perubahan pada pola kehidupan individu maupun pada ruang publik. Kegiatan ekonomi dan layanan publik cenderung bergeser pada pemanfaatan perangkat digital dibandingkan dengan perangkat konvensional. Pergeseran-pergeseran yang terjadi tersebut dalam konferensi ini diistilahkan sebagai “disruption world”, yang akan memberikan tantangan maupun peluang besar pada pembangunan populasi dan kebijakan sosial ke depan.

Keynote Speech oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas yang diwakili oleh Bapak Maliki, ST, MSIE,Ph.D. (Direktur Perencanaan Kependudukan dan Perlindungan Sosial) menyampaikan bahwa penduduk harus diposisikan sebagai pusat pembangunan oleh karena itu pengembangan sumberdaya manusia (human capital) menjadi kunci dalam memanfaatkan bonus demografi. Pengembangan sumberdaya manusia diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas SDM sehingga dapat mendorong keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional dan pada akhirnya dapat keluar dari middle-income trap.

Screen_Shot_2018-08-15_at_20.17.31.png

Terkait dengan perkembangan teknologi gsaat ini, kita harus dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari perkembangan teknologi. Disrupsi teknologi harus dilihat sebagai peluang untuk memanfaatkan bonus demografi secara lebih efektif dengan meningkatkan produktivitas dan pengembalian investasi (return investment). Teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan, kesehatan, dan investasi sumber daya manusia lainnya serta dalam implementasi kebijakan sosial.

Perkembangan teknologi juga harus dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru, ncontohnya dengan mengembangkan kewirausahaan berbasis teknologi. Teknologi juga harus diposisikan sebagai motivasi pendorong dalam meningkatkan pendidikan dan keterampilan tenaga kerja dengan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada.  Di samping itu, perlu adanya upaya peningkatan investasi yang dapat ditempuh melalui beberapa strategi yaitu (i) mengembangkan produk tabungan, deposito, saham, dan investasi jangka panjang lainnya; (ii) meningkatkan efisiensi dan menyederhanakan proses investasi; (iii) mengembangkan instrumen untuk pengembangan pembiayaan; dan (iv) mengembangkan sistem pensiun berkelanjutan.

Setelah sesi keynote speech, konferensi dilanjutkan dengan sesi diskusi pleno yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Muhadjir Darwin, MPA (CPPS UGM). Pembicara pada sesi ini yaitu Prof. Dr. Ben White (Erasmus University Rotterdam, the Netherlands); Dr. Lothar Smith (Radboud University, the Netherlands); Prof. Maria Fasli, Ph.D., NTF, FHEA (UNESCO Chair in Analytics and Data Science) dan Prof. Rebecca Surrender, Ph.D. (University of Oxford, the United Kingdom).

Ben White menjadi pembicara pertama dalam diskusi ini dengan paparannya yang berjudul “The Coming Crisis in Youth Employment”. Ada pernyataan menarik yang disampaikan Ben White dalam pembukaan paparannya, yaitu “It is not easy to be young in the labour market today”. Menurut White, teori modal manusia (human capital) tidak berlaku lagi dalam konteks kaum muda pada era saat ini, terutama untuk mereka yang tergolong sebagai kelompok miskin dan tinggal di perdesaan. Hal ini terjadi karena adanya push down effect dan adanya perkembangan teknologi secara cepat yang menggatikan tenaga kerja manusia.

Sebagai solusi, White menyampaikan perlunya pengarusutamaan kaum muda dalam kebijakan sosial. Pengarusutamaan ini dilaksanakan dengan (i) memposisikan kaum muda subyek (aktor); (ii) memberikan dukungan pengembangan pertanian skala kecil dan memberikan kesempatan kaum muda terlibat di bidang pertanian, utamanya di kawasan perdesaan; (iii) dukungan kebijakan yang mengatur perubahan teknologi di sektor pertanian pangan; (iv) dukungan program yang mampu membuka pasar kerja bagi kaum muda; dan (v) mengembangkan kawasan perdesaan sehingga menjadi lebih menarik kaum muda untuk bertempat tinggal dan bekerja.

Pembicara selanjutnya yaitu Lothar Smith yang menyampaikan topik “Changing Issues Around International Labour Migration in Europe”. Menurut Smith, adanya pemikiran tentang terjadinya krisis, dalam hal migrasi dan pengungsi, menyebabkan peraturan pemerintah Uni Eropa terkait hal ini menjadi semakin ketat. Migrasi dan pengungsi, tidak hanya dilihat berdasarkan pada nilai-nilai moral (kemanusiaan) semata, tetapi juga pada aspek keuntungan secara ekonomi yang diperoleh banyak pihak. Smith menambahkan juga bahwa kebijakan yang disusun dalam merespon mekanisme migrasi akan gagal apabila tidak memperhatikan proses dan dinamika di dalamnya.

Selanjutnya, Maria Fasli menyampaikan tentang “Big Data for Complex Systems Research and Social Policies”. Garis besar pemikiran yang disampaikan Fasli yaitu bahwa big data sangat identik dengan kompleksitas data, baik itu dilihat dari aspek volume, velositas maupun variasi. Ketersediaan data mengenai individu dan interaksinya memungkinkan untuk dilakukannya studi mengenai fenomena yang kompleks. Selain itu, berkembangnya sistem “agent” dan “multi-agent” juga menawarkan abstraksi yang kuat untuk pemodelan sistem yang kompleks.

Berikutnya, Rebecca Surrender menjadi pembicara terakhir pada sesi pleno ini. Rebecca menyampaikan paparan mengenai “Social Policy in a Disrupted World: Development and Dynamic Change”. Beberapa hal utama yang disampaikan oleh Rebecca yaitu mengenai evolusi sistem perlindungan sosial di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah (low middle income country/LMIC). Sistem perlindungan sosial pada awalnya dianggap tidak diinginkan dan tidak terjangkau oleh masyarakat. Sistem perlindungan sosial ini kemudian mulai  dilihat sebagai aspek penting dalam kebijakan ekonomi dan dijustifikasi untuk meningkatkan modal sosial/produktivitas. Dalam perkembangan kebijakan sosial pada era sekarang, paradigma resiko sosial dan investasi sosial kemudian ditransformasi menjadi kebijakan sosial yang lebih berpihak kepada kaum miskin (pro poor).

Dalam konferensi ini, Gutomo Bayu Aji, salah satu peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan juga berkontribusi melalui tulisannya yang berjudul “The Emergence of New Generation of Peasantries in Java: A Case Study of Youth Movement on Small Scale Crops Farming”. Dalam risetnya ini, Gutomo Bayu Aji, mencoba untuk memahami permasalahan di sektor pertanian secara lebih mendalam, di antaranya terkait dengan regenerasi petani dan bagaimana transisi dari pertanian skala kecil menuju pertanian berskala lebih besar yang dikelola oleh korporasi.

Gagasan-gagasan yang disampaikan pembicara pada konferensi ini dapat menjadi refleksi yang baik untuk Indonesia khususnya dalam melihat perkembangan populasi dan teknologi saat ini. Pembelajaran-pembelajaran yang didapat dari negara lain dapat dimanfaatkan oleh akademisi maupun pemangku kebijakan dalam menggagas riset terkait relasi kependudukan dan  disruption world. Dengan demikian, riset-riset kependudukan dan disruption world diharapkan dapat menjadi basis dalam proses pembuatan dan pembaharuan kebijakan-kebijakan sosial yang  selama ini ada.

 

(Diliput oleh Fikri Muslim, Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)

Go to top

Artikel terkait