Pada tanggal 26 Juli 2018 lalu lima orang kandidat peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI berpartisipasi mempresentasikan hasil kajiannya dalam Kongres dan Konferensi Nasional Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) yang diadakan bekerja sama dengan Universitas Tanjungpura di Hotel Golden Tulip Pontianak, Kalimantan Barat. Kelima kandidat peneliti tersebut yaitu Vera Bararah Barid, Dwiyanti Kusumaningrum, Tria Anggita Hafsari, Irin Oktaviani dan Dian Wahyu Utami.  APSI merupakan asosiasi dari perwakilan jurusan maupun program studi pembangunan sosial di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2014 oleh STPMD APMD, Universitas Mulawarman, Universitas Iskandar Muda Aceh, Universitas Tanjung Pura, Universitas Gunungkidul, STPM ST Ursula-Ende, Universitas Lampung, dan Universitas Gadjah Mada. Tema konggres dan konferensi tahun ini adalah pembangunan sosial untuk tata kelola sumber daya yang berkeadilan. Melalui forum pertemuan tersebut diharapkan dapat dilakukan pembahasan, diskusi maupun berbagi pengalaman dalam menghadapi masalah-masalah pengelolaan sumberdaya alam  dan dampaknya terhadap pembangunan sosial masyarakat Kalimantan serta masyarakat Indonesia pada umumnya.

Konferensi Nasional APSI diisi oleh beberapa pembicara inti yaitu Prof. Dr. Ir. Sigit Hardwinarto, M.Agr., Gubernur Kalimantan Barat yang diwakilkan oleh Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat yaitu Ir. Adi Yani, M.H serta Ketua APSI yaitu Prof. Dr. Susetiawan, SU. Konferensi tersebut juga menghadirkan narasumber yang berasal dari beberapa kalangan diantaranya adalah Kepada BAPPEDA Kalimantan Barat, Direktur Eksekutif GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) dan Direktur Eksekutif IRE (Institute for Research and Empowerment). Dalam konferensi tersebut narasumber membahas peningkatan jumlah perkebunan kelapa sawit yang memang saat ini tengah marak di wilayah Kalimantan serta dampaknya terhadap pembangunan manusia.

Delegasi dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Vera Bararah Barid, menyampaikan tulisannya yang berjudul ‘Quo Vadis: Jaminan Sosial Kesehatan bagi Pekerja Sektor Informal di Indonesia’. Pada kesempatan ini Vera membahas peraturan-peraturan mengenai sistem jaminan sosial dan kendala yang dihadapi oleh para pekerja sektor informal yang seharusnya memiliki hak untuk mendapatkan jaminan kesehatan. Peraturan tersebut diantaranya adalah UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional;, Permen Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pekerja Informal dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Kemudian Dwiyanti Kusumaningrum mempresentasikan kajiannya mengenai ‘Implikasi Urbanisasi Terhadap Perubahan Mata Pencaharian Penduduk Kampung di Wilayah Pinggiran Kota : Studi Kasus di Perkampungan Karawaci, Tangerang, Banten’. Dwiyanti mengemukakan bahwa penduduk kampung semakin terpinggir dengan adanya pembangunan kota dan mata pencaharian mereka bergeser dari generasi ke generasi dari pertanian hingga pada pekerjaan sektor informal dengan keterampilan terbatas. Kampung merupakan entitas spasial penting yang tidak boleh dilupakan dalam mewujudkan pembangunan sosial yang berkeadilan.

Tria Anggita Hafsari menyampaikan kajiannya berjudul ‘Pemetaan Tipologi Kondisi Status Gizi Buruk Balita di Provinsi Kalimantan Barat’. Provinsi Kalimantan Barat memiliki kasus gizi buruk tertinggi kedua di Indonesia dengan presentase sekitar 6,67%. Hal ini menunjukkan bahwa kasus gizi buruk di provinsi Kalimantan Barat perlu diperhatikan oleh pemerintah. Kajian ini melihat hubungan antara banyaknya kasus gizi  buruk dengan kualitas sanitasi air dengan motode analisis quadran yang kemudian dipetakan. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa Kabupaten Mempawah memiliki status gizi buruk tertinggi serta kualitas sanitasi terburuk diantara kabupaten lain di Provinsi Kalimantan Barat.

Irin Oktaviani mengangkat topik penelitian mengenai ‘Keputusan Diet dan Pengaruh Media Sosial Menggunakan Pendekatan Critical Medical Anthropology’. Pada tkajiannya, Irin menganalisis pemberian informasi body image melaui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter dan diperoleh kesimpulan bahwa pemberitaan dan propaganda di media sosial memiliki pengaruh yang kuat terhadap keputusan diet.

Terakhir, Dian Wahyu Utami mengangkat topik kajian mengenai ‘Pemetaan Potensi Wisata di Desa Beji, Kabupaten Gunungkidul”. Pada kajian tersebut Dian mengungkapkan bahwa Desa Beji kaya akan sumberdaya alam baik flora, fauna, dan sumberdaya airnya, selain itu Desa Beji masih kental akan berbagai macam ritual kebudayaan. Semua potensi sumberdaya baik alam maupun sosial kebudayaan tersbut dapat dikembangkan menjadi suatu potensi wisata yang apabila berhasil dapat meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat sebagai wujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Konferensi nasional APSI diharapkan mampu  menjadi wadah bagi para kandidat peneliti LIPI untuk memberikan masukan melalui riset dengan tujuan penegakkan pembangunan sosial yang berkeadilan di Indonesia. Mengingat sering kali kebijakan atau langkah-langkah yang dilakukan baik dari pemerintah maupun swasta kurang memperhatikan dampak terhadap masyarakat terutama masyarakat yang kurang mampu atau terpinggirkan.

(Diliput oleh Dian Wahyu Utami, Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)

Go to top

Artikel terkait