Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) merupakan forum yang dilangsungkan secara periodik setiap empat tahun sekali dengan fokus membahas isu perkembangan ilmu-pengetahuan dan teknologi (iptek) dan solusi terkait pangan dan gizi. Sejarah ajang Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi berawal dari instruksi Presiden pada tahun 1967 kepada Bappenas untuk menyusun rencana pembangunan ekonimi lima tahun yang kemudian dikenal dengan REPELITA I. Dalam Proses penyusunan REPELITA I ini Bappenas bersama bersama LIPI dan di bantu oleh pakar dari National Academy of Sciences, Amerika Serikat, mengadakan Workshop on food pada bulan Mei tahun 1968. Kegiatan ini merupakan forum ilmiah untuk membahas masalah pangan dan gizi dalam REPELITA I. Semejak itu Bappenas bersama LIPI, Departemen terkait, dan Organisasi profesi, menyelengarakan workshop kedua, ketiga, dan seterusnya secara rutin setiap 4-6 tahun sekali menjelang penyusunan REPELITA, yang kemudian dinamakan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi atau WNPG.

Tema yang diangkat dalam WNPG XI yang dilaksanakan pada 3-4 Juli 2018 adalah “Penurunan stunting melalui revitalisasi ketahanan pangan dan gizi dalam rangka mencapai pembangunan berkelanjutan”. Salah satu kegiatan dari rangkaian acara WNPG XI adalah lomba poster dengan tema terkait. Yuly Astuti dan Widayatun, peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, yang mengikuti lomba ini memenangkan Juara Ketiga yaitu dengan poster yang berjudul "Faktor Sosial Budaya dalam Pengasuhan Anak di Kota Medan, Sumatera Utara".  Kajian yang dilombakan dalam poster ini merupakan salah satu kegiatan penelitian di Kelompok Penelitian Keluarga dan Kesehatan. Kelebihan poster karya kedua peneliti tersebut adalah menampilkan informasi, data dan hasil penelitian dalam infografis yang menarik dan informatif.

Berdasarkan informasi dari poster dapat diketahui bahwa budaya etnisitas, dan status sosial ekonomi menjadi faktor penentu dalam pola pengasuhan anak. Pola pengasuhan anak dalam kajian ini dilihat dari pemberian kolostrum, praktik inisiasi menyusu dini (IMD), pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) serta pemberian imunisasi dasar lengkap untuk anak usia 0-9 bulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kondisi pengasuhan anak masih relatif kurang memenuhi standar kesehatan. Berbagai faktor, khususnya faktor yang berasal dari lingkungan keluarga memengaruhi pola pengasuhan anak. Rekomendasi yang ditawarkan melalui hasil kajian ini, antara lain pelayanan komunikasi, informasi, dan edukasi berbasis daring. Media sosial memiliki fungsi edukasi sekaligus sarana efektif untuk menangkal informasi yang kurang tepat terkait pengasuhan anak.

 

WhatsApp_Image_2018-07-05_at_13.19.15.jpeg

 

(Diliput oleh Inayah Hidayati, Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)

Go to top

Artikel terkait