Pada hari Senin tanggal 2 Juli 2018 telah berlangsung diskusi Habituasi CPNS Ekologi Manusia. Diskusi ini diadakan dalam rangka mendukung kegiatan aktualisasi pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar) CPNS LIPI 2018. Diskusi dimulai pukul 8:30 dihadiri tiga orang pemateri dari kluster ekologi manusia yaitu Ari Purwanto Sarwo P, Dwiyanti Kusumaningrum, dan Puji Hastuti dengan mentor Ali Yansah Abdurrahim yang sekaligus menjadi moderator pada diskusi kali ini. Pembahas materi adalah Ibu Deny Hidayati, Bapak Herry Yogaswara, dan Ibu Mita Noveria sebagai peneliti senior dari Pusat Penelitian Kependudukan.

Diskusi dimulai dengan presentasi dari Ari Purwanto yang mengusung judul Downscalling Indeks Risiko Bencana pada Level Small Area: Eksplorasi di Wilayah dengan Tingkat Keterpaparan Tertinggi. Menurut Ari, pengkajian mengenai downscalling pada level small area menjadi hal yang penting karena selama ini downscalling hanya dilakukan pada wilayah yang lebih luas, seperti kabupaten. Padahal, bisa saja keterpaparan bencana tertinggi terjadi pada wilayah yang lebih sempit seperti kecamatan. Model downscalling yang dilakukan Ari menggunakan 6 jenis bencana dan dihitung pada area kecamatan bagi provinsi yang keterpaparanya tinggi.

Pada diskusi kali ini, Ari mendapatkan masukan dari ketiga pembahas. Pada dasarnya downscalling pada level small area memang dibutuhkan, namun perlu diperhatikan mengenai variabel bencana yang digunakan dan luas dari wilayah yang akan dilakukan downscalling. Mengingat waktu yang tersisa hanya tinggal 2 bulan, Ari disarankan untuk mengerucutkan variabel bencana yang digunakan dan kemudian agar lebih spesifik lagi dalam menjelaskan manfaat dari penelitian ini.

Diskusi berikutnya dilanjutkan oleh Puji Hastuti yang mengangkat judul Nasionalisme di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sembakung Borneo Utara. Melalui rancangan proposal ini, Puji ingin mengangkat seperti apa rasa nasionalisme yang terbentuk pada penduduk di sekitar Daerah Aliran Sungai Sembakung. Mengapa kajian ini penting? DAS Sembakung secara geografis berada diantara dua negara yaitu Malaysia dan Indonesia, hulu sungai berada di Malaysia dan hilirnya berada di Indonesia. Hal yang menarik perhatian kemudian adalah bagaimana interaksi manusia yang terjadi di DAS Sembakung akhirnya dapat memperlihatkan rasa nasionalisme bagi orang Dayak Agabag sebagai orang yang bertempat tinggal di sana. Ketertarikan Puji akan tema ini diawali oleh temuan penelitian sebelumnya mengenai keseharian orang Dayak Agabag, mulai dari ritus berian, transaksi yang terjadi di DAS Sembakung serta penebangan hutan yang dilakukan di sana.

Salah satu yang menjadi masukan pada presentasi Puji kali ini adalah untuk memilih fokus yang lebih kecil lagi. Hal ini dikarenakan fokus yang ada pada pembahasan kali ini terlihat masih besar. Puji mendapatkan masukan untuk membahas mengenai interaksi penduduk yang ada di hulu dan hilir sungai dan juga agar bisa memilih teori yang sesuai dengan judul nasionalisme yang ia berikan.

Presenter terakhir adalah Dwiyanti Kusumaningrum dengan judul Urban Kampung VS New Town: Kontestasi Ruang di Wilayah Pinggiran Kota. Pada diskusi kali ini Dwi memaparkan mengenai ruang-ruang kampung yang terdesak dengan keberadaan kota. Dalam diskusi ini, Urban Kampung merupakan wilayah kampung yang dikelilingi oleh kota-kota baru yang dikembangkan oleh developer. Di sisi lain, New Town dalam tulisan ini didefinisikan sebagai kota ‘impian’ bentukan dari developer yang menyajikan beragam fasilitas di dalamnya. Ketertarikan Dwi memilih judul ini sebagai rancangan aktualisasinya dimulai dari keresahannya saat melihat wilayah-wilayah kampung di Tangerang yang semakin terdesak oleh pembangunan developer seperti Bumi Serpong Damai dan Alam Sutera. Wilayah kampung sudah dikelilingi oleh pembangunan perumahan baru yang kemudian menimbulkan kontestasi wilayah antara urban kampung dan New Town. Hal yang akan dikembangkan melalui tulisan ini adalah bagaimana interaksi yang terbentuk dalam ruang antara penduduk Urban Kampung dan New Town.

Pada kesempatan ini Dwi mendapatkan saran mengenai teori-teori yang bisa dipakai yang tulisannya. Kemudian juga Dwi harus memperjelas mengenai konsep Urban Kampung dan New Town yang dipakai dalam tulisan ini. Kontestasi antara Urban Kampung dan New Town juga perlu diperjelas dengan menggunakan konsep-konsep yang ada dalam kajian kependudukan agar lebih jelas bagaimana pertentangannya. Rancangan aktualisasi ini direncanakan untuk menjadi karya tulis ilmiah, oleh karena itu gaya pembahasan harus bisa lebih jelas untuk dimengerti pembaca nantinya.

Diskusi kali ini ditutup dengan closing statement dari Mas Ali yang menyimpulkan bahwa proses habituasi ini merupakan proses penting yang akan menempa para CPNS kluster ekologi manusia menjadi peneliti handal dan berkompetensi. Ketiga pemateri juga sangat berterima kasih atas masukan para pembahas dan peserta yang ikut hadir dan memberi masukan pada hari ini. Tetap semangat habituasi dan mempersiapkan aktualisasi untuk seluruh CPNS LIPI 2018!

Diliput oleh Irin Oktaviyani, Kandidat Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait