Liputan

Investasi Modal Manusia dan Daya Saing Tenaga Kerja

Oleh: Triyono

 

Investasi Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan pilar utama dalam menguatkan daya saing penduduk Indonesia dalam menghadapi era saat ini. Oleh karena itu tema ini menjadi tema utama dalam desiminasi Pusat Penelitian Kependudukan pada hari pertama yaitu 14 November 2017. Dalam diseminasi ini dibagi ke dalam beberapa sesi. Sesi pertama berupa sambutan dari ketua panitia dan deputi. Sambutan oleh panitia disampaikan oleh Bapak Dr. Herry Yogaswara, MA. Dalam sambutannya Bapak Herry Yogaswasra mengatakan bahwa diseminasi selain sebagai pertanggungjawabkan ke publik juga sebagai akuntabilitas kepada publik. Selain itu kegiatan diseminasi ini sebagai kegiatan dari kompetensi inti dapat menjadi bahan dasar untuk memperkuat kompetensi inti para peneliti.

Kemudian sambutan kedua oleh Deputi IPSK LIPI Dr. Nuke Tri Pujiastuti, MA. Dalam sambutannya, Ibu Nuke menyampaikan beberapa hal diantaranya penelitian bertujuan untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Kemudian harapannya agar hasil penelitian P2 Kependudukan dapat menyelesaikan ketahanan bangsa. Lebih lanjut Ibu Nuke mengungkapkan harus ada kebaruan dari sisi pendekatan ataupun metodologinya. Kalau bicara tenaga kerja khususnya kualitas dan kompetensi. Indonesia menaruh harapan pada posisi yang cukup tinggi. Lebih lanjut dalam sambutannya Ibu Nuke juga menyinggung mengenai pendidikan vokasi? Selain menyinggung permasalahan SDM Ketenagakerjaan, Ibu Nuke juga menyampaikan mengenai isu  perubahan iklim. Pada pertemuan di UNESCO, perubahan iklim berkaitan dengan kemajuan suatu bangsa. Beberapa Negara mengatakan SDGs bukan sesuatu mudah yang dijalankan karena kerentanan bangsa begitu besar.

Setelah sambutan-sambutan maka sesi berikutnya adalah keynote speaker yang disampaikan oleh Prof. Ace Suryadi, Ph.D. dari Universitas Pendidikan Bandung. Dalam awal pemaparannya Prof Ace mengatakan bahwa kualitas penduduk banyak sekali kaitan mulai dari lahir, kesehatan dan pendidikan. Lebih lanjut beliau mengungkapkan mengenai isu daya saing, bonus demografi dan kesempatan dalam meraihnya. Salah satu contoh negara yang berhasil adalah Korea Selatan. Korea selatan sudah bsia  mengembangkan beragam inovasi memanfaatkan jumlah penduduk yang produktif.

Kemudian dalam melihat pendidikan saat ini akses telah diberikan oleh pemerintah khususnya tingkat pendidikan sekolah dasar namun kualitasnya tidak merata. Dilihat dari sisi Usia SD-SMP Menurun, Usia SMA/SMK masih naik. Oleh karena itu ungkap Prof Ace” jangan lagi berpikir membangun sekolah pada jenjang pendidikan dasar. Selain permasalahan kualitas, persoalan lain dunia pendidikan kita belum mampu menciptakan kesempatan kerja. Saat ini kesempatan kerja lebih pada dibebankan pada pemerintah. Padahal yang harus menciptakan kesempatan kerja adalah mereka yang terdidik. Perluasan SMK untuk mengurangi pengangguran justru akan bermasalah ungkap Prof Ace.

Setelah Prof Ace selesai maka sesi selanjutnya adalah presentasi dari tim kluster.  Dimana pada hari ini  ada dua kluster SDM Ketenagakerjaan dan Migrasi ini menyampaikan dengan judul besar SDM & Tenaga Kerja : Investasi Modal manusia dan Daya Saing Tenaga Kerja. Pada sesi ini dimoderatori oleh Bapak Dr. Makmuri Soekarno. Pada kesempatan ini Bapak Soewartoyo menyampaikan hasil dari kluster SDM Ketenagakerjaan. Dalam paparannya  Daya saing tenaga kerja Indonesia  dibandingkan Negara ASEAN adalah yang paling rendah. Pendidikan dan tenaga kerja masih terbatas pada aspek kuantitas. Belum menitikberatkan pada aspek kualitas. Lebih lanjut Bapak Drs. Soewartoyo, MA mengungkapkan seiring berkembangnya zaman dan derasnya arus globalisasi, teknologi dan digital mulai memasuki ranah pendidikan dan tenaga kerja. Ini yang harus coba diadaptasikan ke dalam isu SDM Indonesia. Apalagi digitalisasi telah memasuki dunia industri salah satunya adalah di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dalam penelitian tahun DIPA 2017 tim tenaga kerja menemukan bahwa sektor UMKM telah menggunakan digital terutama melalui jaringan internet masih sebatas pada tahap pemasaran.

Setelah pemaparan Bapak Soewartoyo selesai maka dilanjutkan oleh pemaparan dari Dra, Mita Noveria, MA selaku ketua Kluster Migrasi. Ibu Mita menyampaikan  bahwa migrasi berkaitan dengan investasi modal manusia. Pengetahuan yang dimiliki para migran, baik sebelum dan sesudah bermigrasi menciptakan tenaga kerja yang memiliki daya saing tinggi, dan hal ini ditandai dengan produktifitas yang tinggi. Lebih lanjut Ibu Mita memaparkan bahwa akumulasi pengetahuan dan keterampilan inilah yang akan menjadi modal manusia. Disisi lain kompleksitas dinamika mobilitas penduduk, khususnya kelompok usia muda dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan komunikasi yang pesat. Lebih lanjut ungkap Ibu Mita bahwa ada point penting yaitu adanya  benang merah dari kedua penelitian ini adalah migrasi untuk pendidikan untuk meningkatkan modal manusia. Dengan mendapatkan pendidikan mereka akan mendapat kesempatan kerja yang lebih baik.

Setelah kedua presenter baik dari Bapak Soewartoyo dan Ibu Mita selesai maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Adapun beberapa pertanyaan yang muncul diantaranya, Bapak Juherman peserta desiminasi dari  Kementerian Koperasi dan UMKM. Dalam sesi ini Bapak Juherman bertanya rekomendasi hasil penelitian ini seperti apa? Kemudian juga pertanyaan ibu Afriyani dari Balitbangda Sumbar, bagaimana pemerintah nagari untuk meningkatkan tenaga kerja yang ada di daerah. Kemudian juga ada pertanyaan dan pernyataan dari Ibu Nuke Puja Astuti Deputi IPSK LIPI, data-data statistik jangan sampai dihilangkan. Lebih lanjut Ibu Nuke mengungkapkan persoalan yang cukup kompleks untuk diperhatikan bagaimana dari perspektif peraturan atau dari perspektif implementasi. Selain itu Ibu Nuke mengungkapkan diseminasi ini bagus tetapi gaya penyampaiannya harus mekanisme policy briefing. Sehingga orang yang mendengar langsung mendapatkan informasi secara detail dari penelitian ini terutama stakeholder yang terkait.

Setelah sesi diskusi Tanya selesai maka saatnya Bapak Soewartoyo dan Ibu Mita menjawab maupun mengklarifikasi. Bapak Soewartoyo mengungkapkan bahwa penelitian tahun 2017 ini adalah penelitian tahun pertama. Meskipun demikian sudah ada rekomendasi meskipun masih sumir dan harus diteliti lebih lanjut yaitu pemerintah perlu melakukan pelatihan dan pendampingan terhadap UMKM. Kemudian Ibu Mita dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa ada problem kualitas pelatihan. Untuk uji kompetensi pun masih diragukan kedalaman dan kualitasnya. Disisi lain selama ini kita lebih menekankan pada aspek pengetahuan. Untuk jejaring relasi harus dibangun dengan mereka yang sudah ada di dunia kerja tutup Ibu Mita dalam penyataannya.

 

 

*Peneliti ketenagakerjaan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI.

 

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait