Liputan Kegiatan

Seminar Strategies for Publishing Economics Research in International Journals

Oleh: Puguh Prasetyoputra*

Menulis di artikel jurnal berbahasa Inggris mempunyai banyak manfaat bagi peneliti maupun bagi institusi di mana peneliti tersebut bekerja. Artikel berbahasa Inggris akan dapat dibaca oleh lebih banyak peneliti di dunia sehingga hasil penelitian bisa lebih bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, seringkali hal ini  merupakan salah satu tantangan sebagai peneliti di Indonesia. Salah satunya adalah hambatan Bahasa Inggris sebagai Bahasa kedua setelah Bahasa Indonesia. Akan tetapi  ternyata Bahasa bukanlah hambatan yang tidak bisa diatasi oleh peneliti Indonesia. Banyak tantangan lainnya yang justru lebih menjadi prioritas dan inilah yang dipaparkan di Seminar “Strategies for Publishing Economics Research in International Journals” yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Ekonomi pada hari Kamis, 22 Juni 2017.

Seminar Paul Burke Juni17

Sumber: Redaksi Website P2 Kependudukan

Dalam seminar ini, P2E-LIPI mengundang Dr. Paul Burke, seorang ekonom dari Crawford School of Public Policy, Australian National University, Australia, yang berfokus pada lingkungan, energi, transportasi, dan negara berkembang, terutama di Asia Pasifik. Dr. Burke telah menghasilkan banyak publikasi di berbagai Jurnal ternama termasuk American Economic Journal: MacroeconomicsEconomic InquiryNature Climate Change, and Global Environmental Change.

Salah satu peneliti junior P2 Kependudukan LIPI, Puguh Prasetyoputra, berkesempatan mengikuti seminar yang dimoderatori oleh Dr. Maxensius Tri Sambodo dari P2E-LIPI. Seminar ini terbagi menjadi dua sesi. Pada awal acara, Dr. Sambodo membuka seminar dan memperkenalkan pembicara utama.

Sesi pertama berisi tentang berbagai strategi dan saran dalam menulis dan menerbitkan artikel di jurnal-jurnal ekonomi berbahasa Inggris. Sesi ini diawali dengan Dr. Burke berbagi alasan-alasan mengapa peneliti, khususnya peneliti ekonomi menerbitkan karya tulis ilmiah.

Kemudian Dr. Burke memaparkan jumlah publikasi internasional yang dihasilkan oleh negara-negara di Asia pada tahun terkini. Sayangnya, Indonesia berada di urutan ke-11 tertinggal dari Pakistan, dan hanya unggul dari Vietnam dan Filipina. Untuk itu, Dr. Burke berbagi langkah-langkah untuk dapat meningkatkan kemampuan menulis artikel di jurnal internasional.

Langkah pertama adalah memilih pertanyaan penelitian yang tepat. Pertanyaan penelitian yang baik adalah yang belum sepenuhnya terjawab, tetapi bisa kita jawab secara meyakinkan. Salah satu cara mengujinya adalah dengan menjelaskan pertanyaan penelitian atau masalah yang ingin diteliti dengan Bahasa yang lebih sederhana. Apabila kita bisa, maka pertanyaan penelitian itu bisa kita tindaklanjuti.

Langkah berikutnya adalah memilih jurnal yang sesuai dengan topik penelitian kita. Menurut Dr. Burke, sebaiknya kita sudah punya gambaran jurnal mana yang pas dengan topik bahkan sebelum manuskrip kita jadi. Dia memberikan saran bagaimana memilih jurnal ekonomi terutama yang berbasis di Asia. Selain itu, menurutnya, salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti adalah menghindari mengirimkan manuskrip ke Jurnal “Predator”. Ada beberapa cara untuk memeriksanya yaitu dengan membuka situs web Social Science Citation Index dan RePEc.

Setelah memilih Jurnal, saatnya memulai analisis data untuk menjawab pertanyaan penelitian. Tahapan ini merupakan salah satu yang sangat penting dalam penelitian ekonomi. Memilih strategi empiris atau model ekonometrika merupakan “skill” yang wajib dimiliki seorang ekonom. Tanpa kemampuan ini maka akan sulit untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian.

Langka keempat tak lain adalah menulis artikelnya. Beberapa saran dari Dr. Burke tentang menulis antara lain: (1) menulis kalimat dengan singkat, (2) menulis paragraph dengan singkat, (3) tidak perlu menjelaskan sesuatu secara berulang-ulang apabila tidak bermanfaat, (4) tuliskan hasil di abstrak dan di pendahuluan, (5) beri justifikasi penelitian yang lebih dari sekedar untuk mengisi kesenjangan di penelitian-penelitian terdahulu, (6) jangan mengulang tulisan yang sama pada bagian-bagian di artikel yang berbeda, dan (7) setiap kalimat pertama adalah kalimat topik. Kemudian, menurut Dr. Burke, menulis dalam Bahasa Inggris terkadang bisa menjadi tantangan, bahkan bagi seorang “native speaker”. Untuk itu dia menyarankan kolaborasi dengan Editor Bahasa Inggris atau dengan peneliti yang pandai berbahasa Inggris. Terakhir dia menekankan pentingnya menulis ulang bagian-bagian manuskrip yang masih dirasa kurang pas atau tidak masuk akal. Setelah tulisan jadi, Dr. Burke menyarankan untuk mempresentasikan hasil tulisan untuk mendapatkan masukan dan saran perbaikan.

Setelah artikel diperbaiki dan dirasa cukup memenuhi syarat jurnal yang sudah dipilih di awal tadi, maka saatnya untuk mengirimkan artikel tersebut. Proses review sebuah artikel di sebuah jurnal bisa memakan waktu yang lama. Untuk itu, Dr. Burke menyarankan untuk mengerjakan tulisan lainnya atau pekerjaan lain agar waktu menunggu tidak terbuang sia-sia.

Ketika mendapatkan hasil review artikel yang kita kirim, terkadang hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Apabila hasilnya adalah penyunting jurnal meminta kita merevisi dan mengirimkan ulang artikel kita maka kerjakan saja. Dr. Burke biasanya akan membaca hasil review dan menunggu 1-2 minggu untuk memulai mengerjakannya. Setelah selesai maka kirimkan kembali segera artikelnya.

Langkah terakhir adalah mendiseminasikan hasil penelitian ataupun artikel yang sudah terbit. Ada beberapa cara untuk melakukan ini. Pertama adalah membagikan artikel jurnal kita ke kolega-kolega menggunakan media sosial seperti Facebook dan Twitter. Cara-cara lainnya adalah menuliskan ringkasannya di blog, atau menulis opini di koran yang mengacu pada artikel tersebut. Hal-hal ini dimaksudkan agar hasil penelitian kita lebih bisa diakses dan dimengerti oleh khalayak.

Pada sesi kedua, Dr. Burke menyajikan hasil awal (preliminary) dari salah satu penelitiannya tentang “Fuel Prices and Australian Road Safety” di Australia yang dikerjakan bersama dengan Dr. Ataklti Teame. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara menurunnya harga bahan bakar minyak (BBM) dengan kenaikan kematian akibat kecelakaan lalu lintas.

Dengan menggunakan data dari Australia dan model regresi instrumental variable (IV), Dr. Burke dan Dr. Teame menemukan elastisitas harga BBM terhadap kematian akibat kecelakaan lalu lintas sebesar kurang lebih 0,25. Angka ini konsisten dengan studi-studi sebelumnya yang menggunakan data dari Amerika Serikat dan data dari berbagai negara. Lalu, kematian dari pengendara, terutama yang muda dan laki-laki, merupakan yang paling responsif terhadap perubahan harga BBM. Pengangguran yang lebih rendah sedikit berkontribusi terhadap meningkatnya kematian akibat kecelakaan lalu lintas.

Seminar ini ditutup dengan beberapa pertanyaan dan masukan dari peserta.

 

*) Peneliti Junior di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait