Kerentanan Penduduk Terhadap Bencana Banjir di Kota Medan

Diliput oleh: Lengga Pradipta*

 

Bencana banjir merupakan salah satu kejadian bencana paling umum sering melandakawasan perkotaan. Bencana banjir di perkotaan menjadi tantangan yang sangat serius, karena wilayah perkotaan memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan aset yang besar, tak dapat dielakkan, maka kerugian yang ditimbulkan juga lebih banyak. Bencana banjir juga telah menjadi bencana alam yang dominan dalam dekade terakhir di beberapa negara di dunia, khususnya di Indonesia.

Karena urgensi tersebut, Kelompok Penelitian Ekologi Manusia Perkotaan, Pusat Penelitian Kependudukan LIPI mengadakan penelitian terkait topik bencana banjir, dan mengambil lokasi di Kota Medan. Selama medio 2016, tim ini telah mengadakan penelitian lapangan beserta pengambilan data, dan pada bulan November 2016 mengadakan seminar akhir penelitian yangd dimaksudkan agar hasil penelitian dapat terdiseminasi kepada masyarakat umum.  Dasar pemikiran dalam penelitian ini adalah karena penduduk dunia semakin ‘mengkota’ dan di sisi lain, penduduk semakin rentan akan bencana. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi di kota besar, salah satunya Kota Medan. Tujuan utama dari penelitian ini sendiri terbagi 3, yakni; (1) menganalisa kerentanan sosial ekonomi penduduk (2) menganalisa kerentanan fisik, dan (3) menganalisa kerentanan lingkungan di Kota Medan.

Untuk tahun 2016 ini, tim DIPA Ekologi Manusia Perkotaan berfokus pada 3 kecamatan di Kota Medan, yakni Medan Maimun, Medan Johor dan Medan Petisah, dimana di masing-masing kecamatan disebarkan kuisioner sebanyak 200 buah kuisioner. Ketiga lokasi ini dipilih berdasarkan hasil diskusi dengan akademisi, pemerintahan kota Medan dan masyarakat, yang menyebutkan bahwa ketiga daerah tersebut merupakan daerah yang sering terkena banjir. Selain itu, karakteristik lokasi penelitian juga berbeda, misalnya di Medan Maimun, yang sangat rentan akan banjir karena kondisi lingkungannya yang tidak layak (wilayah ini terletak di bantaran sungai yang tidak bersih, namun air tersebut sering dimanfaatkan warga dalam kegiatan sehari-hari/MCK). Selain itu di Medan Petisah, karakteristik pemukiman juga menjadi fokus penelitian. Di wilayah ini terdapat gap antara pemukiman masyarakat. Di satu sisi masyarakat kelas menengah kebawah tinggal di lingkungan kumuh dan di rumah semi-permanen, tapi tak jauh dari situ, masyarakat kelas menengah ke atas tinggal di kompleks perumahan mewah (residences). Dan terakhir, di Medan Johor, pemukimannya terbilang layak dan didiami oleh kalangan menengah, tapi kondisi drainasenya sangat buruk.

Ketiga analisis dalam penelitian ini mencakup hal yang beragam. Misalnya, dalam analisis kerentanan social ekonomi variable yang digunakan adalah jumlah penduduk, rasio ketergantungan serta rasio jenis kelamin. Dari analisis ini bisa terlihat siapa yang paling rentan. Selain itu, variable tingkat pendidikan, pekerjaan dan pendapatan juga berpengaruh terhadap analisis kerentanan social ekonomi ini. Asset masyarakat/sumber daya fisik dan finansial juga menjadi factor penting untuk mengetahui tingkat kerentanan masyarakat yang terkena banjir di Kota Medan. Sementara, dari analisis lingkungan yang dijadikan variable adalah kondisi sungai, kerusakan lingkungan serta kondisi topografis, hidrologis dan geologi Kota Medan.

Kesimpulannya, di ketiga wilayah memiliki kerentanan yang berbeda. Tapi, tetap kerentanan dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat dan lingkungan setempat. Untuk itu rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti adalah segera mengholistikkan aspek socio-ecological dalam masyarakat, sehingga permasalahan kerentanan masyarakat dan bencana bisa diminimalisir.

 

 

*Peneliti pada Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

PPK LIPI on Twitter

Go to top

Artikel terkait