Elmy Tasya Khairally

detikTravel

 

Jakarta - Mudik atau tidak, sampai sekarang masih menjadi hal yang dipertanyakan masyarakat. Antara ingin pulang namun takut menularkan virus Corona ke keluarga di kampung halaman.

 

Dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, dan Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) terkait 'Dilema Kebijakan Publik Saat Pandemik COVID-19', Rusli Cahyadi selaku Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI & Koordinator Kaji Cepat RISTEK-BRIN untuk COVID-19 membagikan survei persepsi masyarakat tentang mudik di tengah Corona.

Screen_Shot_2020-04-15_at_15.51.20.png

Survei ini dilakukan oleh Kementerian Riset dan teknologi,LIPI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Politeknik Statistika Sekolah Tinggi serta Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia. Survei dilakukan melalui media sosial dan internet dengan responden yang dominan mewakili penduduk pulau Jawa dan berpendidikan tinggi, yaitu Diploma, Sarjana dan Pasca Sarjana (70-80%).

"Sebagian besar responden lebih dari 50 % di sini mereka menyatakan setiap tahun pulang, kalau ditambahkan dengan yang hampir setiap tahun akan lebih banyak lagi. Hampir sekitar 70% responden masyarakat memiliki kebiasaan mudik yang rutin," kata Rusli.

Dalam masa pandemi ini, wilayah Jabodetabek berada dalam zona merah, yang berarti sangat berpotensi menularkan penyakit Corona. Bahkan banyak orang terinfeksi tanpa gejala, yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan.

"Mereka yang berasal dari Jabodetabek, warna merah ini jumlahnya relatif besar dan mereka menuju ke hampir ke semua provinsi di Indonesia. Kalau kita menghubungkan ini dengan wilayah Jabodetabek sebagai zona merah, maka ada kemungkinan disini orang-orang yang menderita corona ini akan menyebarkan virus ini ke hampir seluruh provinsi lain di indonesia," kata Rusli.

Di DKI Jakarta sendiri, terjadi pergerakan ke hampir seluruh provinsi di Indonesia. Pergerakan terbesar menuju ke Jawa Tengah, yakni sebesar 24,18 %, setelah itu menuju Provinsi Jawa Timur sebesar 16,01 %, menuju Jawa Barat 14,71% dan menuju Jawa Barat 7,52%.

"Saya pikir, ketika kita mencoba memperdalam jawaban-jawaban responden melalui wawancara mendalam, kami menemukan bahwa beberapa diantara responden setelah mereka mengakumulasi pengetahuan informasi yg berhubungan virus corona, kemudian berhubungan dengan berbagai larangan dan berbagai himbauan pemerintah mereka memutuskan untuk menunda mudik," kata Rusli.

Sehingga, penghentian penyebaran Corona memerlukan partisipasi publik. Partisipasi dan pembuatan keputusan pun harus dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang tegas.

"Secara keseluruhan kita simpulkan adalah jika saja pemerintah semakin lebih tegas memberikan melarang dan menghimbau lebih clear sebagaimana pada para ASN, TNI dan Polri sudah jelas dilarang melalui Surat Edaran (SE) Menteri PANRB misalnya. Tetapi kepada masyarakat hanya sebagai imbauan, ini hal-hal yang menurut saya perlu ketegasan dari pemerintah, supaya masyarakat bisa memutuskan lebih jelas lagi untuk menunda mudik tahun ini," kata Rusli.

powered by social2s