Gatra.com | 14 Apr 2020 20:34

 

Jakarta, Gatra.com - Meski ditengah Wabah Pandemi Covid-19 di Indonesia, Peneliti Kependudukan LIPI, Rusli Cahyadi menilai fenomena Mudik masyarakat tanah air tetap akan terjadi. Karena menurut Rusli, Mudik sudah menjadi fenomena sosio-kultural yang tidak terpengaruh oleh faktor lain.

"Dari studi terdahulu tentang mudik, banyak menyatakan bahwa mudik itu sejatinya bukan tentang fenomena ekonomi, tapi lebih kepada sosial bududaya. Karena sejatinya, dalam kondisi sesulit sekalipun, orang tetap berusaha untuk mudik," kata Rusli saat Hadir dalam Teleconfrence bersama LIPI, Selasa (14/4).

Bahkan, Rusli menjelaskan, sampai tingkatan tertentu, kenapa orang melakukan mudik itu sudah tidak dijelaskan lagi. Menurut Rusli, saat ini fenomena mudik sudah semacam "panggilan" yang sebenarnya kita tidak pernah menyangka lagi kenapa kita lakukan.

"Jadi, yang paling penting dari studi terdahulu dalam mudik adalah ada perasaan yang sangat kuat dan besar dari pelaku, untuk terhubung kembali pada masa lalu yang dekat atau akrab dengan dirinya yaitu keluarga, komunitas bahkan lingkungan, dalam hal ini desa, atau bayangan imaji tentang sawah, tentang kehidupan dikampung, dan sebagainya," jelas Rusli.

Screen_Shot_2020-04-15_at_15.47.19.png

 

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Jogaswara juga mengungkapkan hal senada. Dirinya berpendapat bahwa Tradisi mudik yang melibatkan mobilitas penduduk dalam jumlah yang sangat banyak, khususnya saat Idul Fitri, merupakan fenomena rutin setiap tahun di Indonesia. Yang menjadi kompleks menurut Herry, adalah situasi pandemik Covid-19 yang menyebabkan terganggunya penduduk akibat terhentinya sebagian kegiatan ekonomi,

Saat ini, sebagian penduduk telah memilih kembali ke kampung dibandingkan menetap di kota dengan pertimbangan kehilangan mata pencaharian dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masa pandemik ini.

Herry menyebutkan, Survei Persepsi Masyarakat terhadap Mobilitas dan Transportasi telah dilakukan, danDari hasil survei, Herry menyebutkan, sebesar 56,22% responden menjawab tidak akan mudik termasuk di dalamnya 20, 98% masih dalam tahap berencana untuk membatalkan mudik.

"Meskipun demikian, persentase masyarakat yang mudik dinilai masih tinggi di angka 43,78 persen," pungkas Herry.

Reporter: Ucha Julistian

Editor: Rohmat Haryadi

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait