CNN Indonesia | Selasa, 14/04/2020 19:57 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil survei dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat masih cukup banyak warga perantau yang akan melakukan mudik di tengah wabah virus corona (Covid-19). 

Dari hasil riset bertajuk Survei Persepsi Masyarakat terhadap Mobilitas dan Transportasi itu, sebanyak 43,78 responden memilih untuk tetap mudik, sementara 56,22 persen menyatakan tidak akan mudik.

Riset ini dilakukan LIPI kepada 3.853 responden setelah dilakukan pembersihan data dari 5.173 responden. Survei dilakukan secara daring lewat media sosial pada 28-30 Maret 2020. Pengambilan data dilakukan secara sampel kuota (quota sampling).

"Ketika ditanya apakah punya rencana mudik tahun ini, ada proporsi yang cukup besar 43,78 persen, mereka akan mudik," kata Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Rusli Cahyadi dalam webinar yang diselenggarakan LIPI pada Selasa (14/4).

Mayoritas responden yang hendak mudik tahun ini mengaku akan mudik untuk merayakan Idul Fitri. Soal moda transportasi mudik, 42,86 persen responden mengaku akan mudik menggunakan mobil dan 22,29 persen menumpang pesawat terbang.

Seluruh responden yang berencana mudik teridentifikasi berasal dari lima besar provinsi, yakni dari Provinsi Jawa Barat (22,94 persen), DKI Jakarta (18,14 persen), Jawa Timur (10,55 persen), Jawa Tengah (10,02 persen), dan Banten (4,68 persen).

Saat ditanya lebih lanjut Rusli menjelaskan survei ini secara metodologi tidak dilakukan dengan begitu ketat. Pasalnya, penyebaran kuesioner lewat media sosial memiliki keterbatasan tersendiri.

"Itu terbukti hasilnya itu sebagian besar respondennya pendidikan diploma ke atas. Yang SMA ke bawah itu sedikit. Kemudian lebih banyak di Pulau Jawa, sangat dominan," ujar Rusli saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Screen_Shot_2020-04-15_at_15.28.47.png

Berdasarkan data survei LIPI, sebanyak 71,14 responden berdomisili di Pulau Jawa, hanya 28,86 responden yang berdomisili di luar Pulau Jawa. Selain itu, sebanyak 61,39 persen responden berpendidikan setingkat diploma ke atas.

Sementara itu Pakar Migrasi dan Kependudukan Universitas Gadjah Mada (UGM) Sukamdi memperkirakan jumlah pemudik pada masa pandemi virus corona akan turun drastis.

"Saya perkirakan, arus mudik tak akan sebesar biasanya, karena tadi kebijakan pemerintah, tapi juga ada kalkulasi tertentu untuk pulang atau tidak," ujarnya.

Sukamdi menjelaskan, imbauan pemerintah agar masyarakat tidak mudik ke kampung halaman selama masa bencana nasional wabah virus corona sebetulnya tidak terlalu efektif.

Menurut Sukamdi, alasan sosial dan kultural masih menjadi alasan utama yang mengalahkan resiko yang akan ditanggung oleh pemudik. Belum lagi, dalam situasi wabah corona seperti sekarang, banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan, sehingga mereka memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Namun, ada pertimbangan-pertimbangan lain yang membuat orang untuk berpikir dua kali untuk melakukan mudik.

Pertama adalah masalah pembatasan jumlah penumpang transportasi umum terutama di wilayah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kemudian, yang menjadi pertimbangan kedua yakni peraturan di daerah asal yang cukup ketat untuk menerima pemudik dari wilayah-wilayah zona merah virus corona seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Pertimbangan selanjutnya yakni penolakan dari masyarakat daerah asal karena ingin menghindarkan risiko penularan virus corona. Serta pertimbangan individu untuk tidak tertular atau menularkan Covid-19.

"Pertimbangan-pertimbangan seperti ini yang mungkin kemudian akan memperkuat imbauan pemerintah," paparnya. (dmi/wis)

powered by social2s
Go to top

Artikel terkait